Tidak ada lagi sungai. Tidak ada lagi salto depan sebelum meluncur ke sungai. Tidak ada lagi lomba tahan napas di sungai. Ibu meminta aku menjauh dari sungai. Sekali tertangkap, Ibu mungkin akan mengirimku ke tempat yang benar-benar tidak ada aliran sungai di sana.
“Mengapa Ibu membenci sungai?”
“Ibu tidak membenci sungai. Ibu membenci bapakmu.”
Sampai sekarang aku tidak mengerti maksud Ibu. Mengapa kebenciannya pada Bapak membuatnya membenci sungai? Aku tahu Bapak memang menyukai sungai, sepertiku. Waktu Bapak masih pulang ke rumah, di waktu senggang, dia biasa mengajakku ke sungai. Bukan untuk diriku saja, tetapi juga untuk kedamaian hatinya. Kata Bapak, dia akan kehilangan semua beban di pundaknya tatkala melihat aliran sungai yang tenang. Tetap saja, itu tidak menjawab mengapa Ibu membenci sungai.
Gara-gara sungai hampir merenggut nyawaku kemarin, aku terpaksa menurut. Kata ibu, jangan dekati sungai lagi, sendirian atau bersama teman. Aku tidak mau melihat Ibu menangis hanya karena aku ngotot ke sungai.
*
Rumah hening. Ibu seperti biasa meninggalkan rumah sebelum mataku membuka. Ibu tidak pernah memberitahu ke mana dia pergi pagi-pagi sekali. Dia hanya mengunci rumah dari luar dan meninggalkan kunci cadangan di balik pintu. Akibatnya, senin pagi selalu aku habiskan sendirian.
Setelah mandi dan berganti baju, aku menuju dapur. Aku tidak berharap karena sudah terbiasa berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Cukup minum banyak atau makan kue ala kadarnya. Namun kali ini, Ibu tidak lupa menyisakan seporsi makanan untukku. Seporsi nasi goreng dan telur dadar. Aku senang tiada bertara. Kuhabiskan makanan itu hingga tandas. Kunikmati selayaknya makanan hotel bintang lima. Barulah setelah itu, aku berangkat dengan riang.
Perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki menghabiskan waktu sekitar sepuluh sampai lima belas menit, tergantung seberapa semangat hari itu atau seberapa besar kemungkinan bakal terlambat. Aku sendiri, kalau Ibu sedang mengomel panjang lebar dengan seseorang lewat telepon pagi-pagi, waktu tempuh ke sekolah bisa habis dalam tujuh menit. Langkah kaki menjadi lebih cepat karena takut Mang Ujang menutup gerbang sekolah. Beda lagi kalau Ibu menghilang teramat pagi dan lupa meninggalkan seporsi makanan, aku bisa berangkat lebih awal sehingga perjalananku jauh lebih santai. Durasi perjalanan pun bisa tambah jadi dua puluh menit. Sementara itu, apabila hari lain terjadi seperti hari ini, semua akan berjalan normal. Aku tidak terlalu buru-buru, tetapi juga tidak terlalu santai.
Setelah lima menit berjalan, aku melihat belokan kecil menuju sungai. Suara percikan air sungai rasanya masih terdengar jelas di kupingku. Aku tidak menduga kemalangan kemarin menjadi hari terakhir aku mandi di sungai itu. Semoga saja Tuhan membalikkan hati Ibu, membuat dia jatuh cinta dengan sungai. Usai beberapa langkah, ada warung Bu Sri di sebelah kanan. Semenjak pernah ketahuan mencuri, aku jadi agak jarang belanja ke sana, kecuali kalau Ibu memintaku membeli sesuatu dan butuh secepatnya. Sekitar sepuluh menit, aku telah sampai di sekolah.
Aku baru menginjak halaman depan sekolah ketika kudengar dari beberapa siswa berbicara tentang Juned. Seseorang memukulnya saat berjalan menuju ke sekolah. Aku segera mengambil langkah seribu menghampiri Juned di kelas. Rupanya itu bukan berita bohong. Ada sedikit memar di pipi sebelah kiri Juned.
Aku langsung menodongnya dengan pertanyaan. “Siapa yang memukulmu?”
“Anak kelas lima,” kata Juned pelan.
“Bimo?” Sapri yang baru datang menduga.
Juned mengangguk.
Bimo lagi. Anak itu memang tidak habis-habisnya berurusan dengan kami. Mentang-mentang dia kakak kelas dan bertubuh bongsor sehingga seenaknya menjadikan kami samsak hidup. Terakhir, Bimo mendorong Sapri dengan sengaja di tengah lapangan saat main bola. Sapri sampai luka bagian siku. Sapri yang punya emosi meluap-luap sempat ingin membalas, tetapi tangan guru lebih dulu menarik Bimo pergi. Saat itu, aku pikir Bimo akan mendapat masalah besar setelah melakukannya pada Sapri. Rupanya, selepas keluar dari ruang kepala sekolah, dia tersenyum lebar tanpa hukuman apapun.