Juleha menahan napas berat. Ia perlahan menarik gagang pintu. Langkahnya ragu-ragu masuk ke ruangan bercat serba merah dan hitam. Ruangan yang sama, perasaan yang berbeda. Jika dulu Juleha memasuki ruangan itu dengan perasaan bangga bercampur gugup, kali ini rasanya seperti menghunjam sesuatu ke dadanya sendiri. Perih, tetapi terpaksa ia lakukan.
Ketika pintu terbuka, mata Juleha sontak terpaku pada Nyonya Martin di ujung ruangan. Ia duduk sendiri di seberang meja, tanpa pengawal di sisi kiri dan kanan. Bahunya tegap seperti garis lurus. Tatapannya dingin dan terlalu tajam untuk disambut. Senyumnya getir. Ia berhasil membuat Juleha semakin tertekan.
“Apa tawaran saya sudah kau pikirkan matang-matang?” Nyonya Martin membuka. Ia tidak punya waktu untuk berbincang asal. Ia juga tidak menunggu Juleha mengatur posisi duduknya.
“Maaf, Bu, ini mungkin terlalu lancang. Tapi… berapa nominal yang bisa Ibu berikan atas pekerjaan itu?” ucap Juleha gemetar, bimbang. Ia duduk di hadapan Nyonya Martin dengan dada berdegup.
Nyonya Martin terkekeh pelan, hampir seperti menyeringai. “Tergantung. Semakin puas pelanggan, semakin banyak uang yang kau terima. Seperti yang sudah saya sampaikan, saya bisa membuatmu kaya dalam sehari dengan pekerjaan itu. Jadi…?” katanya pelan, seolah jawaban selain ‘iya’ tidak pernah benar-benar ada.
Juleha terdiam. Jemarinya saling menggenggam, melepas. Juleha tahu ini salah, tetapi ia juga tidak punya pilihan lain. “Baik, Bu…” suaranya nyaris tidak terdengar. “Saya setuju.”
Nyonya Martin menyerahkan beberapa lembar dokumen kontrak kerja. Tanpa berpikir panjang, tanpa membaca isi kontraknya, Juleha langsung menggores dokumen itu dengan tandatangan.
*
Musik pelan mengalun saat Juleha menuangkan minuman ke gelas. Laki-laki empat puluh tahun duduk di sampingnya. Laki-laki itu terus menaruh mata ke arah Juleha, menelisik dari ujung rambut ke ujung kaki. Entah apa yang ia pikirkan, tetapi lagu yang terus berputar seperti sekadar pemanis. Laki-laki itu sama sekali tidak menyentuh mikrofon di depannya. Matanya sibuk menelanjangi Juleha yang kini mengangkat gelas, lalu memberikan padanya.
“Kamu baru di sini?” tanyanya. Ia sadar tangan Juleha gemetar ketika menuangkan minuman. Ia juga menyadari kalau mata Juleha awas memadangi sekeliling.
Juleha mengangguk pelan, napasnya terasa berat. Berkali-kali tangannya menggenggam sofa dengan cukup erat.
“Tidak apa-apa. Aku tidak akan berbuat macam-macam.” Suara laki-laki itu pelan, menekan, seolah tak pernah memiliki niat jahat, tetapi jari-jarinya bermain. Ia melingkarkan lengannya ke pundak Juleha, menarik tubuh Juleha yang kurus mendekat ke arahnya, membuat jarak di antara mereka lenyap.
Juleha risi. Resah. Juleha berusaha melepaskan diri. Ia bergeser sedikit menjauh.
Laki-laki itu tersenyum menyeringai. “Siapa tadi namamu?” ia berpikir sejenak, “ah, Juleha. Sudah punya pacar?”
“Saya sudah bersuami.”
Mendengarnya, laki-laki itu tidak bisa menahan tawa. Ia tergelak sampai gelas di tangannya bergoyang-goyang. Sementara itu, Juleha membungkam. Juleha merasa dunia benar-benar telah menghinanya. Bahkan pria hidung belang pun menertawakan pilihannya.
“Maaf, maaf…” laki-laki itu meletakkan gelas ke meja. “Sebenarnya, aku juga sudah beristri. Kasih sayang di rumah tidak cukup? Aku pun seperti itu.”
Juleha tertegun. Laki-laki itu benar. Ia punya suami, tetapi tidak dengan perasaannya. Juleha jadi berpikir, mungkinkah ia di tempat itu bukan benar-benar membutuhkan uang untuk melunasi hutang bapak, tetapi karena kehilangan sosok suami yang seharusnya ada untuknya.
“Baiklah, Juleha… aku Arman,” ia menyodorkan tangannya ingin salaman, tetapi Juleha diam saja di tempatnya. Laki-laki itu terpaksa menarik tangannya kembali. “Oke, oke. Malam ini aku tidak akan meminta apapun darimu, cukup temani aku menyanyi. Kamu punya lagu favorit? Kalau ada, putarlah…” Suaranya berubah, seolah-olah ia bukan orang yang sama beberapa menit yang lalu.
Juleha mengambil remote layar sentuh di meja. Ia memilih lagu secara acak. Bukan karena tidak punya lagu favorit, tetapi pikirannya memang tidak sedang di sana. Musik pun berputar dengan melodi yang tenang.
Besoknya, Juleha kembali bertemu dengan Arman. Saat masuk ke ruangan, laki-laki berpostur tegap itu langsung menanggalkan jaket, menyisakan kaos hitam polos yang cukup ketat sampai menonjolkan otot-ototnya. Juleha memandangi Arman. Ia menyadari kalau raut wajah Arman lebih lesu ketimbang kemarin. Namun, Juleha enggan bertanya. Ia memilih melempar senyuman yang ramah.
“Mau lagu apa? Nanti saya bantu cari. Saya juga bisa merekomendasikan beberapa lagu kalau mau.” Suara Juleha lebih tegas dan yakin. Ia makin terbiasa dengan pekerjaan barunya.