Ibu Melarang ke Sungai Sendirian

Justang Zealotous
Chapter #6

SEHARUSNYA

“Ini sudah enggak bisa dibiarin. Bimo makin besar kepala. Kalau kita enggak bertindak, dia pasti seenaknya mukul orang. Mentang-mentang anak Pak Desa,” kata Sapri saat kami berkumpul di bawah pohon mangga pinggir lapangan sekolah. Dia menggebu. Emosinya meluap-luap. Badannya memang tidak besar, cenderung kurus, tetapi sekali tersulut, api dalam dirinya membesar enggan padam.

Beda dengan Juned. Dia seperti air yang mengalir. Tenang. Namun tidak jarang pusaran air itu menjadi lebih deras dari biasanya. Seperti sekarang, Juned menatapku ragu, tetapi juga penuh harap. “Kita memang enggak bisa begini terus, Bandi.”

Aku menelan ludah. “Aku sudah janji sama ibu enggak bakal berantem lagi.”

“Siapa bilang kita mau berantem?” Sapri mencondongkan badannya. Suaranya berubah jadi bisikan. “Kita cuma ngasih pelajaran.”

Aku menggeleng keras. “Tetap saja. Ujung-ujungnya pasti ribut.”

Bayangan wajah Ibu melintas di kepala. Bola matanya yang membesar. Suaranya yang keras seperti desing peluru. Pun tangan Nenek yang keriput menggenggam tanganku, memintaku agar jadi anak yang baik ikut menghantui. Di sisi lain, wajah Bimo yang tersenyum angkuh saat keluar dari ruang kepala sekolah juga memancing emosiku.

“Aku janji kita enggak akan berantem, Bandi,” suara Sapri pelan. “Kita cuma ngerjain biar dia tahu rasanya dipermalukan.”

Aku menatap Juned. Dia menundukkan wajah. Tangannya mengepal erat. Barangkali dia sedang menahan perasaan marah bercampur takut dalam dadanya.

“Oke. Aku ikut,” ucapku. Entah kenapa, kata-kata itu terasa seperti jembatan yang rapuh, tapi tetap kupijak.

Sapri tersenyum lega.

Kami mulai menyusun strategi seperti penjahat kecil yang terlalu banyak membaca buku petualangan. Sapri yang mengatur semuanya, Juned yang mengingat detilnya seperti jalur mana yang sepi dan kapan harus bertindak. Sementara aku, ikut saja.

Jujur. Meskipun setuju dengan rencana itu, aku masih merasa sesuatu menjanggal di hatiku. Seperti ada kerikil besar yang sewaktu-waktu bisa jatuh dan merusak semuanya.

“Aku yakin kita pasti berhasil.” Emosi Sapri masih seperti bahan bakar. “Kita tunggu sampai Bimo kembali ke sekolah.”

*

Lihat selengkapnya