Juleha sudah hafal betul suara pintu geser yang membuka tiap malam, bunyi pendek yang selalu diikuti aroma rokok, parfum, dan kadang kelelahan yang tak kasat mata. Ia berdiri dengan senyum yang sudah terlatih, tapi matanya tetap jeli membaca siapa yang masuk.
Malam itu, beberapa pemuda datang dengan tawa yang keras. Mereka memanggil Juleha, menyuruhnya duduk di tengah, menyodorkan mikrofon seolah ia bagian dari panggung. Para laki-laki berusia kisaran dua puluh tahunan itu tertawa bersama sambil menepuk meja ketika lagu dangdut diputar. Mereka membiarkan Juleha hanyut dalam kebisingan.
Tak lama, pria dengan jam mahal di tangannya datang. Cara duduknya tegak, suaranya mantap. Pria itu memilih lagu tertentu dan minta minuman yang paling mahal, sesekali tersenyum menunjukkan dompetnya seolah memastikan ia benar-benar akan membayar. Juleha tersenyum lebih terukur dan lebih halus. Juleha tahu pria itu tidak mengharapkan kebersamaan, melainkan ilusi bahwa semua hal berada dalam kendalinya.
Di ruangan lain, ada pria datang dengan tatapan yang berat, sendirian. Pria itu lebih banyak diam, duduknya agak menjauh, tapi ingin dilayani sepenuhnya. Gelas diisi tanpa diminta, lagu dipilihkan, tawa diatur. Kali itu, Juleha perlu lebih hati-hati untuk menjaga suasana di antara mereka tetap nyaman.
Menjelang larut, Arman biasanya baru datang. Laki-laki itu tak pernah benar-benar masuk ke ruang karaoke untuk menikmati lagu. Ia datang untuk menjadi teman cerita bagi Juleha. Cerita mereka selalu mengalir. Tentang pekerjaan dan tentang hal-hal yang tak pernah usai. Tak jarang diselingi canda tawa dan perhatian-perhatian kecil.
Dari semua itu, Juleha semakin yakin sempitnya ruang karaoke justru terasa lebih hangat daripada rumah kecilnya bersama suami. Ruang dengan lampu temaram berwarna warni, dentuman lagu, serta aroma rokok, alkohol, dan kacang tanah itu telah memberikan keakraban yang tak ia temukan di rumah.
Saat mereka semua sudah pulang, saat malam hampir habis, Juleha duduk di sudut sejenak. Senyumnya mereda. Ia tahu di luar sana hidup yang kosong telah menunggunnya. Namun, apa yang terjadi di ruang karaoke telah cukup membuatnya bertahan. Apalagi sebulan bekerja di gedung karaoke, Juleha sudah mampu membayar hampir sebagian hutang peninggalan bapaknya. Itu semua berasal dari gaji pokok yang ia terima dan tips dari tamu. Jika terus seperti ini, tiga sampai empat bulan saja hutang itu pasti segera tuntas.
“Ini gajimu kerja di kafe?” Mariana bertanya heran. Sejauh ini, Juleha enggan memberitahu siapa pun kalau dia sudah tidak bekerja di kafe sebagai pelayan lagi, melainkan teman minum pria-pria kesepian. Cukup wajar kalau orang-orang heran uang Juleha sudah dua digit di rekening.
“Mas Abdi juga bantu-bantu, Bu,” kilah Juleha. Ia belum bisa berterus terang pada ibunya. Tepatnya, ia belum bisa berdamai dengan hidup yang sedang ia jalani.
*
Malam itu lebih dingin dari biasanya, lebih bising, dan lebih menguras tenaga. Juleha berpindah dari ruangan satu ke ruangan lainnya, bertemu dengan banyak pelanggan. Mulai dari anak muda ingusan yang baru masuk kuliah sampai pria-pria tua yang merindukan kehangatan perempuan.
Saat malam melarut, Juleha menunggu tanpa sabar. Ia memang tidak pernah tahu siapa pelanggan yang perlu ia temani, tetapi Juleha selalu berharap malam itu diakhiri dengan cerita-cerita yang hangat dari Arman.
Tak lama, pintu bergeser. Seorang pria, sendirian, masuk dengan langkah yang agak goyah. Itu bukan Arman. Itu pria lain. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dengan sedikit janggut yang tak sempat dirapikan. Ia bertubuh besar dan padat, seperti bukan hasil gym, melainkan kerja harian yang mengeraskan otot-otot lengannya. Kulitnya legam terbakar matahari. Pria itu mengenakan kemeja yang kusut dengan lengan baju ditarik sampai siku menonjolkan urat-uratnya.
Juleha mencoba tenang. Ia menyambut dengan senyum tipis. Pria itu bergerak ke arahnya, hampir-hampir memeluknya. Aroma tembakau yang kuat bercampur dengan alkohol menguar dari napas pria itu. Refleks tangan Juleha mendorong membuat pria itu jatuh duduk di sofa.
Tatapan pria itu berubah. Kilatan nakal itu masih ada, tetapi kini lebih menajam dan liar. Ia bahkan tersenyum lebar, tapi tidak hangat, lebih seperti dorongan kuat yang datang dari dalam dirinya. Pria itu mengambil gelas. Ia menyuruh Juleha menuangkan wine untuknya dengan suara yang pelan penuh intrik. Kembali seperti pada awal-awal Juleha bekerja, tangannya gemetar mengambil botol minuman, menuangkannya perlahan. Tak sabar, pria itu merebut botol minuman dari tangan Juleha dengan kasar, menuangkannya sendiri. Ia menenggaknya tanpa mengecap rasanya.
Tubuh Juleha menjadi agak kaku, meskipun ia masih berusaha mempertahankan senyum menggantung di wajahnya. Juleha sudah terbiasa menjamu tamu mabuk, tetapi malam itu ada sesuatu yang berbeda. Cara pria itu memandangnya terlalu lama, terlalu dalam, seolah ia sedang menembus batas yang tak boleh dilanggar.
“Duduk sini…” kata pria itu pelan, menekan. Ia menepuk-nepuk sisi sofa di sebelahnya. Karena Juleha tidak bergerak, ia meninggikan suaranya.
“Duduk!”
Juleha tersentak. Jantungnya berdetak cepat. Ia buru-buru mengambil posisi duduk di samping pria itu dengan beberapa jarak. Namun, tangan pria itu mulai bergerak. Semula mengusap lembut lengan Juleha, lama-kelamaan tangannya melingkar di punggung, membuat Juleha tertarik lebih dekat. Juleha berusaha melepaskan diri, tetapi pria itu lebih kuat. Ia makin menekannya.
“Biarkan aku menikmatimu malam ini,” desis pria itu.
Juleha menarik diri. “Tolong, Pak… saya sudah bersuami.”
Pria itu tertawa pendek, tetapi tidak melepaskan. Situasi berubah seketika tegang. Juleha yang masih berusaha melepaskan diri justru membuat pria itu makin menekan seolah tidak memberikan ruang untuk bernapas. Tangan pria itu mencengkeram lengan Juleha. Berkali-kali Juleha memohon untuk dilepaskan, tetapi suara Juleha seperti musik yang berputar, hanya latar.
Juleha memberontak. Melawan. Ia menghentakkan tangan dengan tenaga yang ia punya. Gagal. Tubuhnya hanya semakin tertekan. Ia mengatur napas, segera mengambil gerakan cepat, memanfaatkan kelengahan pria itu. Sebuah tendangan tepat di bagian kemaluan. Pria itu menjerit kesakitan. Ia seketika melepaskan tubuh Juleha. Dalam ketegangan itu, Juleha bergegas bangkit menjauh.