Ibu Melarang ke Sungai Sendirian

Justang Zealotous
Chapter #8

SUARA YANG HILANG

Aku terbangun seperti seseorang yang ditarik paksa dari dasar air yang gelap. Napasku tercekat, dada terasa sempit, dan kepalaku terasa retak dari dalam. Ada nyeri yang berdenyut pelan, berulang-ulang, seolah-olah seseorang masih memukulnya dari dalam kepalaku.

Langit-langit putih menggantung di atas. Lampu-lampu neon berpendar, terlalu menyilaukan, membuat mataku menyipit berkali-kali. Bau obat-obatan menusuk hidung. Suara mesin berdetak di samping. Tanganku terasa berat saat aku mencoba menggerakkannya. Aku baru sadar ada selang yang menempel. Ada plester.

Ada suara terdengar. “Dia sudah bangun.” Samar, jauh. Beberapa sosok mendekat. Berpakaian serba putih. Barangkali, perawat-perawat. Mereka semua bergerak cepat. Sibuk sekali. Ada yang mencatat, memeriksa, menekan, mencatat.

Salah satu dari mereka mendekatkan wajahnya, tetapi tidak benar-benar bisa kutangkap dari mataku yang masih berat, bertanya, “Adik bisa dengar?”

Aku ingin menjawab, tetapi tenggorokanku kering, bibirku pecah, sehingga yang keluar hanya serpihan napas. Mereka pun kembali sibuk berbicara satu sama lain. Kata-kata yang keluar yang tidak sepenuhnya kupahami.

Pelan-pelan aku menoleh, memaksa leherku yang kaku. Aku tidak melihat siapapun selain perawat-perawat. Itu membuat hatiku mulai bergetar. Ada sosok yang hilang, sosok yang seharusnya ada di sini, membawa tas yang kukenal, melempar tatapan tajam yang tidak asing.

“I...ibu.”

Tak ada yang menjawab. Dadaku terasa semakin sempit. Dan... sakit itu datang lagi, dari belakang kepalaku. Keras. Dingin. Di antara sakit itu, untuk pertama kalinya saat mataku kembali membuka, aku menelan rasa takut yang besar, lebih besar daripada saat seseorang menghantam kepalaku dari belakang.

“Di mana ibuku?”

Kali ini suaraku terdengar lebih jelas, meski bergetar. Sekali lagi tidak ada yang menjawab. Mereka saling berpandangan, singkat dan cepat. Mereka tersenyum, tapi tidak sampai ke mata. Itu cukup membuat jantungku jatuh lebih dalam.

Saat itu, aku cuma mau ada Ibu di sana. Tidak peduli Ibu menginginkanku atau tidak. Aku cuma mau menatapnya, lebih dalam dibanding menatap perawat-perawat yang tidak kukenali.

Setelah beberapa menit aku bertahan dalam ketakutan, setelah perawat-perawat mulai menghilang satu demi satu, seseorang yang kukenali akhirnya masuk. Nenek. Meskipun aku berharap Ibu yang datang, tetapi melihat Nenek saja sudah cukup membuatku lega. Aku tidak lagi merasa sendirian di antara perawat-perawat yang wajahnya terlalu asing bagiku.

Langkah Nenek yang biasanya lamban bergerak tergesa-gesa. Dia menghentak-hentakkan tongkat hingga tangannya berhasil meraih besi ranjang. Napasnya tersengal. Dia mendekatkan wajahnya sambil mengusap lembut kepalaku. Aku bisa melihat dengan jelas matanya sayu. Ada ketakutan dan kesedihan di sana.

“Sakit ya, Nak? Siapa yang tega melakukan ini...” suara Nenek bergetar.

Aku mengangkat tanganku pelan-pelan, menyentuh wajahnya yang keriput dan basah. Ada peluh, ada air mata. Nenek meraih tanganku, menggenggamnya erat. Dengan sisa tenaga, aku menggerakkan tubuhku. Aku ingin duduk, seperti yang selalu kulakukan kalau Nenek bicara denganku. Duduk dan patuh. Tapi, berat. Aku bahkan merasa aku tidak memiliki tubuhku sendiri.

“Jangan bergerak banyak dulu, Nak. Pasti masih sakit.” Nenek memegang bahuku, menenangkanku.

“Di mana Ibu, Nek?” tanyaku setengah berbisik. Nenek tidak terlalu mendengarnya sehingga dia mendekatkan kembali wajahnya. Aku pun mengulang pertanyaanku.

Nenek tidak langsung menjawab. Wajahnya gelisah. Dia menghela napas, sebelum akhirnya memberikan jawaban. “Ibumu pasti datang. Yang penting... kamu sehat dulu, Nak.”

Aku menatap Nenek nanar. Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku tidak yakin Ibu akan datang. Dia pasti sibuk bekerja, atau seperti kalimatnya, aku seharusnya tidak perlu dilahirkan, artinya, dia tidak benar-benar menginginkanku.

Lihat selengkapnya