Ibu Melarang ke Sungai Sendirian

Justang Zealotous
Chapter #9

HILANG DITELAN KESUNYIAN

Abdi yang mandi sejak sebelum subuh sudah mematuk diri di depan cermin. Ia tidak lupa menyetel berita di televisi dengan suara keras-keras. Sementara itu, Juleha meringkuk di sisi ranjang. Wajahnya pucat, matanya sayu karena semalaman nyaris tidak tidur. Beberapa hari terakhir Juleha memang sering mual dan kehilangan nafsu makan. Tubuhnya juga terasa aneh, mudah lelah, nafasnya sesak, dan kepalanya terus berdenyut. Namun, setiap mengeluh, Abdi hanya menganggapnya sakit biasa.

“Palingan masuk angin,” katanya, “Makanya kalau kerja yang normal-normal saja, bukan pulang tengah malam terus.”

Juleha memejamkan mata menahan mual. Ia merasa tubuhnya semakin berat sehingga untuk berdiri saja lututnya lemas.

“Kayaknya aku perlu ke rumah sakit, Mas,” suaranya pelan.

“Kau tidak dengar berita dari tadi? Hari ini upacara Hari Lahir Pancasila. Aku harus di lokasi sebelum presiden datang.”

“Tapi, Mas…” rasa sakit itu melenyapkan suaranya. Juleha merasa kepalanya semakin berdenyut.

 “Aku harus berangkat sekarang.” Abdi meraih tas kerjanya. “Kalau tambah sakit, minum obat.”

Tak lama, langkah kaki Abdi kian menjauh, diikuti deru motor yang perlahan-lahan hilang ditelan kesunyian. Hening. Rumah hanya dipenuhi suara televisi yang terus membahas upacara nasional.

Juleha yang kini sendirian berusaha mengangkat tubuhnya sendiri. Ia harus ke dapur, mengambil air minum, meskipun kepalanya terus berkunang-kunang. Dengan gontai, kakinya melangkah. Juleha sesekali meringis sambil memegangi perutnya. Apalagi rasa mual itu datang lagi.

“Juleha?” samar-samar terdengar suara Mariana dari ambang pintu.

Belum sempat menjawab, tubuh Juleha limbung. Tangan di gelasnya jatuh pecah di lantai. Dalam hitungan detik, ia sudah terbaring pingsan.

Mariana panik. Dengan tangan gemetar, ia segera berlari memohon bantuan pada tetangga untuk membawa Juleha ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, muka Mariana tegang sembari menggenggam tangan anaknya.

Juleha tersadar di ruang IGD. Kepalanya masih berat. Ada Mariana duduk di sampingnya dengan mata sembab. Ia tak berhenti menangis.

“Juleha… kamu bikin Ibu takut,” suaranya bergetar.

Dokter datang membawa hasil pemeriksaan. Dengan tenang, dokter membuka map di tangannya. “Tidak ada hal yang bahaya. Ibu hanya kelehahan dan kekurangan cairan.”

Mariana menghela napas lega. Ia menggenggam tangan Juleha erat. Namun, dokter melanjutkan kalimatnya.

“Ibu jangan terlalu capek, ya. Kandungan Ibu masih sangat muda, baru berusia empat minggu.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Juleha menatap dokter dengan bingung, berusaha mencerna kalimat itu. Ia memang sering mual, tetapi siklus haidnya selama ini tidak pernah teratur, makanya ia tidak pernah kepikiran sampai sana. Di sampingnya, Mariana refleks menutup mulut karena terkejut. Ada binaran di matanya. Ada kebahagiaan yang akhirnya mekar setelah lama ia pupuk.

“Perempuan atau laki-laki, Dok?” tanya Mariana antusias.

Dokter mengerutkan kening, tetapi senyumnya enggan hilang. “Yang penting sehat dulu, Bu. Soal jenis kelamin, nanti bisa USG kalau sudah memasuki usia kehamilan enam belas minggu.”

Lihat selengkapnya