Selama di rumah sakit, Nenek sangat memanjakanku. Aku jadi bak raja sehari di sana. Makan, disuapin. Padahal, aku sudah bilang kalau tanganku tidak patah. Aku bisa makan sendiri. Namun, Nenek menolak. Pokoknya dia sendiri yang harus menyuapiku. Bersyukur suapan dari tangan Nenek menambah selera makan, meskipun bubur rumah sakit selalu hambar. Selain makan, Nenek juga selalu menepuk-nepuk pantatku saat menjelang tidur. Jujur. Itu membuat tidurku semakin nyenyak.
Sayangnya… aku jarang melihat Ibu.
Tiga hari di rumah sakit, Ibu cuma muncul dua kali. Malam pertama dan kedua. Ibu selalu muncul saat malam menjelang. Tidak lama. Mungkin dua atau tiga jam saja. Setelah itu, Ibu menghilang lagi. Katanya, sibuk bekerja. Sebenarnya aku sedih. Bukan karena Ibu jarang muncul atau Ibu sibuk bekerja. Aku sedih karena Ibu enggan bicara denganku, enggan bertanya apa ada sakit yang menekan tubuhku, enggan bertanya aku mau makan atau minum apa. Ibu diam seribu bahasa. Mulutnya terbuka hanya saat menguap lebar atau menjawab iya atau tidak pada pertanyaan-pertanyaan Nenek. Tatapannya juga kosong seolah pikirannya sedang ada di tempat lain. Ini salahku. Luka yang kurasakan tidak lebih banyak dari luka yang Ibu terima.
Tadi aku mendengar Nenek berbicara dengan seorang dokter. Semua bahasa yang mereka keluarkan tidak sepenuhnya aku pahami. Satu-satunya hal yang aku paham, tidak ada luka serius di kepalaku yang mengharuskan aku tetap di rumah sakit dalam waktu yang lebih lama. Aku pun bisa pulang. Lagi, Ibu tidak di sini.
“Ibumu sebenarnya mau sekali ke sini mengantarmu pulang, tapi kerjaannya lagi banyak. Yang penting… Bandi sudah bisa pulang.” Nenek tersenyum. Gari-garis halus di sudut matanya ikut mengerut.
Aku cuma bisa mengangguk, dan ikut tersenyum.
Perlahan aku melangkah keluar dari ruang rumah sakit. Tanganku menggenggam erat tangan Nenek, hangatnya membuatku merasa lebih tenang setelah tiga hari ini suara alat medis mendebarkan dadaku. Di tanganku ada bekas plester. Rasanya masih agak perih, tetapi aku merasa lega karena semuanya sudah selesai. Aku melihat lorong panjang rumah sakit sambil berjalan pelan. Saat pintu rumah sakit akhirnya terbuka, udara luar menyentuh wajahku, dadaku terasa lebih ringan. Aku tidak sabar sampai ke rumah, menikmati ranjang besiku yang selalu berderik. Aku tidak sabar berbaring pagi-pagi sambil diam-diam melihat punggung Ibu pelan-pelan ditelan pintu.
*
Pulang dari rumah sakit, Nenek tidak langsung mengizinkanku kembali ke sekolah. Dia memintaku istirahat satu atau dua hari lagi. Sementara Ibu, dia ngotot aku harus tetap ke sekolah.
“Semakin dimanja, semakin lemah dia, Bu,” ucap Ibu pelan sambil menyilangkan tangan di dada. Tatapannya lurus, tanpa ragu sedikit pun.
Nenek langsung menoleh cepat. Keriput di wajahnya semakin dalam saat alisnya mengerut tidak setuju. Tangannya refleks merangkulku lebih dekat, seakan ingin melindungiku dari ucapan itu.
“Dia masih anak-anak,” balas Nenek tegas. “Kalau bukan keluarganya yang melindunginya, siapa lagi?”
Ibu mendengkus. Rahangnya mengeras, sementara napasnya terdengar berat menahan kesal.
“Harusnya sekarang kamu cari cara bagaimana menuntut keadilan untuk anakmu. Ini sudah kriminal loh. Kalau Bandi mati, bagaimana?” lanjut Nenek. Suaranya mulai meninggi.
Ibu tidak menjawab. Dia malah membuang pandangannya ke dinding seolah menghindari mata Nenek, atau mataku sendiri. Kudengar napasnya masih terdengar berat.
“Kenapa diam?” Nenek masih menantang.
Ibu mengatur napasnya. “Terserah Ibu!” suaranya keras, tajam, menusuk. Ibu langsung melangkah ke luar rumah. Ibu pergi, tetapi perasaan marahnya tertinggal di sana. Aku juga bisa merasakan betapa kesalnya Ibu saat itu.
Aku menoleh ke Nenek. Dia balas menatapku. “Istirahat ya, Nak. Kalau ibumu tidak bisa melawan, Nenek yang akan maju,” ucapnya.