Malam itu lampu-lampu memantul lembut di meja kaca ketika Juleha merapikan rambutnya di depan cermin kecil. Senyumnya masih terpasang, meski tubuhnya terasa jauh lebih lelah dibanding biasanya. Kehamilannya sudah memasuki trimester kedua. Perutnya belum terlalu besar, cukup untuk masih bisa disembunyikan di balik gaun longgar dan blazer hitam yang selalu ia pakai saat menemani para pelanggan di ruang karaoke.
Juleha memang memutuskan kembali bekerja. Ia pikir daripada berperang dengan rasa sakit di rumah sendirian, lebih baik ia menikmati kondisinya dengan cerita-cerita melantur pria-pria kesepian. Meskipun sepanjang malam, Juleha harus menahan pegal di pinggang yang datang diam-diam di antara tawa dan teriakan pelanggan. Belum lagi aroma rokok dan musik yang terlalu keras yang membuat kepalanya lebih penat. Paling tidak, ia tidak sendirian.
Sayangnya, kabar Juleha hamil terlalu cepat sampai di telinga para tamu. Itu membuat pelanggan Juleha satu per satu kabur. Mereka merasa tidak nyaman karena mereka yakin energi Juleha pasti meredup karena kehamilannya.
“Hamil itu pilihanmu, tapi pekerjaan ini tanggung jawab kamu. Saya tidak mau tahu. Kamu harus bisa meyakinkan tamu bahwa kamu masih bisa seenergik sebelum kamu hamil,” ucap Nyonya Martin. Suaranya tajam dan tegas.
Di ruang karaoke, Juleha mengingat-ingat kalimat Nyonya Martin sambil memegang perutnya pelan. Ada rasa bersalah. Ada rasa takut di masa depan. Ia tidak ingin kehilangan bayi itu. Di sisi lain, ia juga tidak ingin kehilangan pekerjaan yang telah memberinya sedikit lebih hidup dibanding isi rumah.
Sambil menunggu pelanggan terakhir malam itu, pertama kali sejak Arman pergi ke Kalimantan, Juleha merindukan laki-laki itu. Ia tiba-tiba merasa sangat berharap Arman menggeser pintu seraya melemparkan senyum yang paling manis. Selain rindu pada cerita-cerita Arman, Juleha pun rindu berkeluh kesah atas semua masalahnya. Apalagi saat laki-laki itu pergi dan benar-benar menghilang tanpa pernah berkabar, Juleha tak lagi punya tempat bersandar.
Tak lama, pintu bergeser. Senyum Juleha yang semula lebar, mengecil. Pria lain yang ternyata masuk. Pria bertubuh besar itu langsung duduk. Tubuhnya memenuhi sofa. Bahunya lebar seperti lemari tua yang dipaksakan masuk ke ruangan sempit. Kepalanya botak licin memantulkan cahaya lampu yang kemerahan. Lehernya tebal bertumpuk di atas kerah kemeja yang sudah sedikit terbuka. Usianya mungkin sekitar empat puluh lima tahun, tetapi wajahnya tampak lebih tua karena kebanyakan begadang, alkohol, atau rokok.
Melihat pria itu, Juleha hanya berharap malam itu habis dengan obrolan singkat sambil memutar lagu-lagu, seperti malam-malam sebelumnya.
Jari pria yang dipenuhi cincin besar berwarna emas itu bergerak lambat saat menggenggam gelas wine. Aroma rokok dan parfum menyengat setiap kali ia bergerak mendekat. Tubuh Juleha tanpa sadar menggeser.
“Tuangkan minumannya!” suaranya berat dan kasar.
Mungkin karena sudah terbiasa menghadapi segala jenis pria di ruang karaoke, tangan Juleha tak lagi bergertar saat menuangkan minuman ke gelas pria itu. Ia bahkan masih memasang senyuman di wajahnya, meskipun tipis dan penuh pura-pura.
Pria itu tersenyum balik, tetapi lipatan keras di sekitar matanya tidak menunjukkan perasaan yang tulus di sana. Ia bahkan punya cara memandang yang tidak menyenangkan: datar, dingin, seakan semua hal yang ada di ruangan itu hanya bagian dari hiburan yang sudah ia bayar.
Setelah menenggak setengah minuman, pria itu mendorong gelas ke arah Juleha. Dipikir ingin tambah, Juleha segera meraih botol wine kembali. Namun, pria itu justru tertawa. Juleha bingung. Tangannya pun menggantung di udara.
“Gelas itu buat kamu...” suaranya pelan, tetapi terdengar memaksa. “Temani saya minum.”