Sapri dan Juned pulang duluan. Mereka mau tinggal lebih lama, tetapi takut ibu dan bapak mereka kepusingan karena pulang terlambat. Sementara aku masih di sana di antara kerumuman warga desa yang menyaksikan ayah Bimo diseret polisi. Namun, kali ini bukan pemandangan itu yang aku lihat. Mataku kini terpaku pada satu titik, pada seorang pria dengan kacamata di wajahnya, dengan tas ransel di punggungnya, dengan ponsel pintar di genggamannya. Dia merekam, mencatat, merekam lagi.
Itu Bapak. Seseorang yang tak pernah kubayangkan akan bertemu kembali.
Setelah mendapatkan berita, Bapak langsung menarik lenganku. Aku diam, mematung. Bapak menoleh ke arahku sebelum melepaskan lenganku. Wajahnya yang diterpa sinar matahari tersenyum lembut. Aku tidak pernah sadar kalau Bapak punya senyum semanis itu.
“Ikut Bapak dulu, ya…” suaranya pelan, nyaris memohon.
Aku pun melangkah pelan di belakangnya. Di seberang jalan besar, dia memintaku naik ke motornya. Aku ragu. Meskipun dia bapakku, tetapi pertemuan kami terlampau lama berjarak. Bayangkan saja, terakhir aku bersamanya ialah saat aku baru saja masuk SD. Empat tahun lalu. Tidak aneh kalau aku merasa sedikit canggung dengannya sekarang.
“Cuma sebentar… Bapak rindu,” suara itu lagi, pelan-pelan menyentuh relung hatiku, membuatku seolah terhipnotis untuk segera naik ke motor, dan mengikutinya.
Dalam perjalanan, aku berpegangan erat pada pegangan besi di belakang jok motor. Bapak mungkin menyadarinya. Dia sesekali menurunkan tangannya ke pinggang, barangkali mencari tanganku, tetapi karena tidak menemukan apa-apa, tangannya kembali fokus pada stir.
Setelah sekian menit, kami tiba. Bapak memarkirkan motornya di depan sebuah warung bakso. Aku ingat. Bapak suka bakso, dan dulu suka mengajakku pergi makan bakso. Berdua. Bapak memang tidak pernah mengajak Ibu. Aku sebenarnya juga suka bakso, tetapi karena lama tidak makan, jadi aku mungkin sedikit lupa rasanya.
Bapak memesan bakso biasa dengan mie biasa ditambah bihun. Dia bertanya padaku, aku ikut saja. Di menu tertulis bakso biasa, bakso urat, bakso tenes, bakso mercon, tetapi aku benar-benar lupa semua jenis bakso itu. Ikut pesanan Bapak barangkali lebih aman.
Setelah memesan, kami duduk berhadapan di bangku kayu. Di antara kami ada meja panjang sederhana dengan dua gelas es teh, gorengan, lontong, dan beberapa bungkus kerupuk. Tidak ketinggalan bumbu pelengkap seperti saus sambal, kecap manis, dan cuka. Mataku beralih pada wajah Bapak. Matanya sayu. Aku bisa lihat dari balik kacamatanya, ada gumpalan hitam di bawah mata, seolah waktunya habis untuk bekerja dibandingkan tidur. Kulitnya pun lebih legam dibanding terakhir kali aku melihatnya, mungkin Bapak sudah terlalu banyak dimakan matahari.
“Bagaimana ibumu?” tanyanya.
“Ibu sehat, Pak.”