Ibu Melarang ke Sungai Sendirian

Justang Zealotous
Chapter #13

SUAMI LAIN

Juleha memasuki lobi karaoke dengan perutnya sudah seperti buah semangka besar. Jalannya pelan tetapi senyumnya masih sama, merekah dan manis sekali. Nita, perempuan yang duduk di meja resepsionis sempat kaget melihat Juleha kembali ke gedung karaoke.

“Bukannya Nyonya Martin sudah memberimu izin, kak, untuk tidak masuk dulu sebelum lahiran?” tanyanya heran.

“Aku bosan, Nit, di rumah.”

“Ya ampun, Bumil. Ya sudah temani aku saja di sini.”

Semenjak kejadian malam itu, saat Juleha dipaksa menenggak alkohol oleh si pria botak, dan akhirnya membuat Juleha dilarikan ke rumah sakit, Nyonya Martin meminta Juleha beristirahat dulu. Nyonya Martin pun tak mau gedung karaokenya sampai tutup gara-gara memaksa Juleha melayani dalam keadaan hamil. Selain bakal diusut aparat, pun para tamu juga mulai keberatan dengan keberadaan Juleha.

Namun, aura mahal yang Juleha miliki di wajahnya ternyata tetap menarik perhatian sebagian pria-pria kesepian itu, meskipun dalam keadaan perut sebesar semangka.

Juleha sedang mengobrol dengan Nita ketika mata salah seorang pria terpaku ke arah Juleha. Pria berusia kisaran tiga puluh tahunan dengan pakaian kasual itu tak berhenti berdecak kagum dengan pemandangan di depannya, wajah Juleha. Juleha juga menoleh balik. Ia merasa tidak asing dengan pria itu, tetapi ingatan di kepalanya buram semua.

“Kamu LC, kan? Lucu juga kalau ditemani LC yang hamil besar,” kata pria tersebut. Suaranya lembut. Tidak ada kesan negatif dari nada bicaranya.

“Eh, tunggu!” Juleha menerka-nerka. Ingatan di kepalanya seperti puzzle yang perlahan-lahan menyatu. “Kayaknya saya pernah nemenin kamu karaoke. Yang tiba-tiba muntah di ruang karaoke habis minum alkohol itu, kan?” Juleha memastikan.

Wajah pria itu bersemu merah. “Itu kamu? Ahh, jadi malu.”

“Tidak masalah, kok. Hal-hal pertama memang selalu menyenangkan untuk dikenang. Waktu itu kan saya juga baru jadi LC. Makanya chaos.”

“Kalau kamu jadi LC lagi buat saya, bagaimana?” Pria itu menawarkan.

“Serius? Saya lagi hamil besar, loh.”

Begitulah keduanya lantas duduk di bawah lampu neon yang lembut. Musik dengan melodi tenang mengalun sengaja dipilih. Musik yang keras pasti memusingkan, kata pria itu perhatian.

Pria bernama Arga yang memakai kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku itu tidak bisa dibilang tampan, tetapi rahangnya tegas dan tatapannya tenang. Rambutnya pendek rapi. Badannya sedikit membungkuk. Ia memiliki aroma parfum maskulin yang bercampur samar dengan aroma rokok yang melekat di tubuhnya. Di sela alunan musik, ia bersandar santai sambil menenggak segelas bir.

“Sudah ahli rupanya.” Juleha menggoda sambil mengurut lembut pinggangnya yang tiba-tiba pegal sekali. Ia juga berkali-kali meringis kecil.

Arga memerhatikan. “Kamu tidak apa-apa?”

Juleha cepat tersenyum. “Tidak apa-apa, Mas. Cuma pegal.”

Juleha mencoba berdiri. Ia ingin mengganti lagu. Baru dua langkah, tubuhnya mendadak kaku. Cairan hangat tiba-tiba mengalir deras dari sela pahanya, membasahi kaki dan lantai ruang karaoke. Untuk sesaat Juleha hanya terpaku, napasnya tercekat. Sedetik wajahnya pucat. Ia meringis semakin keras.

Lihat selengkapnya