Malam itu aku pura-pura tidur saat Ibu baru saja datang sehabis pulang bekerja. Padahal, mataku masih terbuka. Aku menghadap ke dinding, memeluk bantal kecil bergambar kartun yang warnanya sudah pudar. Mataku sebenarnya sudah capek, tetapi setiap kali aku memejamkan mata, wajah Bapak muncul lagi. Cara dia tersenyum. Cara dia mengusap lembut rambutku sebelum pergi. Bahkan, kata-katanya yang mengajakku ikut dengannya terus mengalun di telinga. Dadaku rasanya langsung aneh.
Aku membalikkan badan. Dari celah pintu kamar, aku bisa melihat sedikit cahaya dari luar dan bayangan Ibu yang mondar mandir. Apa aku keluar kamar saja, terus memberitahu Ibu mengenai pertemuanku dengan Bapak? Tapi aku takut Ibu malah mengamuk dan matanya kembali melotot seperti biasa. Kepalaku tambah sesak saja.
Satu. Dua. Tiga. Aku mencoba menghitung angka seperti yang diajarkan Bu Guru kalau sulit tidur. Baru sampai sepuluh, ingatanku malah membawaku ke beberapa tahun silam saat aku tertidur di motor sambil memeluk Bapak dari belakang. Saat itu, aku hampir jatuh dari motor kalau Bapak tidak langsung sadar dengan menggenggam tanganku erat. Ah, seketika aku membuka mata lagi. Kamar jadi terasa lebih sepi dibanding biasanya, padahal hampir empat tahun kamar itu memang selalu sama: tanpa Bapak.
Jam dinding terus berbunyi. Aku masih diam di kasur sambil memeluk bantal lebih erat. Sesekali mataku menoleh ke arah pintu, berharap Bapak akan masuk bersama Ibu, dan kami tidur bersama. Tidak ada apa-apa. Aku hanya bisa melihat Ibu mematikan beberapa lampu di luar kamar. Barangkali, Ibu juga sudah mau tidur.
Aku menggigit bibir pelan karena mataku mulai panas. Sementara udara dingin di luar merasuk melewati celah jendela kamar. Aku segera menarik selimut sampai dagu. Semakin malam udara semakin dingin, dan mataku pelan-pelan akhirnya menutup. Aku tidak tahu jam berapa aku mulai tertidur, tetapi bayang-bayang wajah Bapak mulai muncul di mimpi-mimpi yang hitam.
*
Juned datang ke rumahku bersama bapaknya. Saat itu, Ibu sudah keluar sejak tadi pagi. Juned mengajakku pergi mancing di sungai desa seberang. Kebetulan bapaknya Juned, Om Hasan memang hobi mancing. Ikan hasil mancing biasa dijual ke pasar atau dijadiin lauk di rumah.
Melihatku tidak begitu antusias, Juned langsung paham. “Tenang aja kok, Ban… kita enggak bakal berenang. Kita cuma mau mancing. Lagian kan ada bapakku juga, jadi pasti aman.”
Aku pun setuju ikut. Tidak berenang. Hanya mancing. Aku pikir tidak ada masalah besar yang bakal terjadi. Terlebih lagi, ada orang dewasa yang mendampingi. Kami lantas berangkat dengan berbonceng tiga. Om Hasan yang bawa motor, di tengah ada Juned memeluk bapaknya, sedangkan aku di belakang berpegangan pada besi di sisi kiri kanan pantatku.
Tak sampai setengah jam, kami tiba. Di sana rupanya sudah ada Sapri. Dia juga datang bersama Om Tono, bapaknya. Sapri berlari ke arah kami sesaat kami turun dari motor. Sementara Om Tono masih duduk di tepi sungai. Di tangannya, sebatang bambu pancing tua melengkung pelan mengikuti arus. Dia hanya menoleh sebentar sambil mengangkat sebelah tangannya, sebelum matanya kembali terpaku pada pelampung kecil dari gabus merah di permukaan sungai.
“Loh, ada Sapri juga rupanya?!” seruku.
“Ah iya, aku lupa ngasih tahu kalau Sapri juga ikut sama bapaknya,” kata Juned sambil menggaruk kepalanya.
“Coba bapakmu juga ikut ya, Ban, pasti makin seru nih.” Sapri tersenyum lebar, tetapi tiba-tiba senyumnya hilang berganti suara aduh. Juned mencubit pinggangnya. “Apaan sih, Jun!” keluhnya. Selang beberapa detik, Sapri seperti baru sadar akan sesuatu. Dia melirikku sambil tersenyum tipis, senyuman yang menyimpan tidak enak hati di dalamnya. Aku tahu maksud mereka, aku tahu kode-kode mata yang mereka bagikan. Apalagi kalau bukan karena bapakku yang siapa pun tahu telah lama meninggalkanku, sehingga berbicara tentang bapak ke arahku pastilah sesuatu yang aneh. Padahal, aku sudah menganggapnya biasa.