Ibu Melarang ke Sungai Sendirian

Justang Zealotous
Chapter #15

TUBUH YANG MATI

Anak itu lahir. Tangisnya nyaring, kuat, memenuhi seluruh ruangan. Tangannya mengepal. Paru-parunya bekerja sempurna. Tangisnya masih menggema sementara dokter melanjutkan tindakan. Di atas meja operasi, Juleha masih terlelap di sana. Ia tidak mendengar tangisan pertama anaknya. Ia tidak melihat wajah mungil itu saat pertama kali muncul. Namun, seluruh perjuangannya selama sembilan bulan akhirnya tuntas. Anak itu lahir dengan sehat tanpa cacat sedikit pun. Seorang anak laki-laki yang mungkin akan mencintainya lebih dalam, lebih kuat, lebih tulus dibanding semua laki-laki yang pernah ia temui, termasuk suaminya.

*

Juleha menidurkan bayi laki-lakinya sendirian di atas ranjang di bawah lampu yang temaram. Abdi masih kerja. Tadi sebelum berangkat, ia sempat bilang akan pulang lebih awal, tetapi sampai jam sebelas tengah malam, laki-laki itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Selalu begitu. Janji yang selalu diingkari. Belum lagi kalau pulang, ia mendadak lupa sudah punya bayi. Ia menggelosor begitu saja ke kursi, mengistirahatkan punggungnya, menyinggung Juleha yang lupa menyeduhkan kopi. Padahal, Juleha sedang sibuk menidurkan bayinya.

Minggu pertama anak itu lahir, Juleha senang sekali. Bukan saja ia akhirnya bisa melihat wajah mungil bayinya yang sehat setelah hampir berpikir untuk tidak melahirkannya, tetapi juga karena Abdi menjadi laki-laki yang berbeda. Abdi lebih sering menunjukkan senyum di wajahnya, apalagi saat dengan lembut mengangkat bayinya ke dalam pangkuan. Tidak ada lagi Abdi dengan wajah datar dan suara yang dingin. Namun, itu tidak berlangsung lama. Berita-berita hangat di luar sana terlalu cepat merenggut waktu Abdi di rumah.

“Aku harus pergi. Ada berita penting yang harus kuliput. Setelah semuanya selesai, aku usahakan pulang lebih cepat,” katanya begitu, tetapi ujung-ujungnya Juleha berakhir mengurus bayi itu sendirian.

Sementara itu, Mariana masih mencoba menerima sebuah kenyataan kalau Juleha ternyata bekerja di tempat karaoke menemani pria-pria kesepian. Setelah menjalani perawatan lanjutan di rumah sakit, setelah Juleha bisa kembali ke rumah bersama bayinya, Mariana mencuri kesempatan untuk bertanya, mengonfirmasi pernyataan seorang pria yang ditemuinya di rumah sakit.

“Juleha minta maaf, Bu. Laki-laki itu betul. Juleha selama ini kerja sebagai LC di tempat karaoke.”

Jawaban itu menyakitkan hati Mariana. “Apa suamimu tahu?”

Juleha menggeleng pelan, tetapi sudah cukup membuat air mata Mariana mengalir. Ia merasa pilu dengan kondisi putri sematawayangnya itu. Tatapannya seketika beralih ke bayi yang terlelap di sebelah Juleha. Sebuah tatapan yang penuh tanda tanya.

“Itu anak Abdi,” kata Juleha cepat, seolah meluruskan prasangka yang barangkali muncul di kepala Mariana tentang kepastian ayah si bayi. “Meskipun LC, Juleha tidak pernah main dengan pelanggan, Bu,” lanjutnya. Walau tak sepenuhnya benar, tetapi Juleha begitu yakin anak dikandungnya pasti anak Abdi, karena laki-laki lain yang pernah menyentuhnya hanya Arman, lelaki yang pergi dua bulan sebelum ia hamil.

Di sampingnya, bayi laki-laki itu masih terbaring tenang, matanya terpejam, napasnya halus. Juleha menyingkap kain yang menutupi tubuhnya, mendekatkan anak itu ke dadanya. Ada isapan kecil yang terdengar di tengah sunyi malam itu. Sementara itu, wajah Juleha tampak letih. Ada lingkaran gelap di bawah matanya. Ia sudah menghabiskan malam-malam tanpa banyak istirahat, belum lagi kecemasan-kecemasan yang menjerat pikirannya tentang masa depannya dan masa depan anaknya. Malam itu ia seolah sadar bukan saat hamil yang berat, melainkan saat anak itu mulai tumbuh. Apakah ia akan mewariskan air matanya, atau berhasil memutus semua kesialan dalam hidupnya? Tak ada yang tahu.

Anak itu masih terus menyusu ketika seseorang mengetuk pintu, pelan tapi berulang. Abdi? Namun, tidak ada suara mesin motor yang berhenti di depan rumah. Juleha menarik pelan-pelan tubuh bayinya. Ia memperbaiki posisi dasternya sebelum bangkit meraih pintu. Ketika pintu terbuka, seorang laki-laki bertubuh besar dan gempal dengan bahu lebar serta dada yang kokoh sudah berdiri di depan rumah. Perutnya menonjol di balik kemeja, sementara lengannya tampak berisi. Tubuhnya mungkin terlihat berbeda, tetapi wajahnya masih menyimpan ketampanan yang sama. Hidung yang tegas, mata yang tajam.

“Arman?” Juleha tak percaya. Laki-laki itu kembali.

“Akhirnya…” napas Arman memburu, seolah ia baru saja berjalan jauh. “Aku pikir kau akan lupa padaku.”

Juleha menarik kursi, mempersilakan Arman duduk. Ia memilih mengobrol di luar saja, takut orang-orang salah paham melihat ada laki-laki lain yang masuk saat suaminya sedang bekerja di luar. Arman mencoba mengerti.

“Tadi aku ke tempat karaoke, dan kau tidak di sana. Aku langsung kepikiran mencari rumahmu. Untung Santi mau memberitahuku.”

“Kenapa kenbali?” tanya Juleha pelan.

Arman mendengus. “Aku merindukanmu, Juleha,” suaranya meninggi. “Aku benar-benar gila di sana. Ponselku rusak, semua nomor di kontak hilang termasuk nomormu. Apa kau tidak merindukanku juga?”

Juleha terdiam. Hanya terdengar angin menggesek ranting-ranting pohon. Waktu seolah-olah berhenti di sekeliling mereka. Tiba-tiba, tangisan bayi dari dalam rumah memecah kesunyian itu. Juleha langsung berdiri, Arman pun demikian. Wajahnya tampak sedikit bingung bercampur kaget.

“Anak siapa itu?” Arman mencengkeram lengan Juleha yang sudah hampir berlari masuk. “Itu anakmu, Juleha?”

Juleha menghentakkan cengkeraman Arman. Ia tak peduli dengan laki-laki itu. Ia segera berlari menghampiri bayinya, menggendongnya, memeluknya erat, mencoba menenangkannya. Di belakang, Arman rupanya ikut berjalan masuk.

“Tolong keluar! Suamiku sedang tidak di rumah,” tegas Juleha sembari masih mengayun lembut bayinya dalam pangkuan.

“Juleha, aku Arman. Bukan orang lain.”

 “Aku mohon...”

Mata Juleha memerah dan berair. Arman menarik napas panjang. Dengan hati yang berat, ia memutuskan pergi dari sana.

Rupanya Arman tidak menyerah. Ia datang lagi pada malam-malam berikutnya. Mengajukan pertanyaan yang sama mengenai siapa ayah dari bayi itu. Ia terus datang sampai akhirnya Juleha kalah.

“Itu anak Abdi, suamiku,” kata Juleha pelan, matanya merah karena menyimpan banyak air mata, atau karena menahan lelah yang berkepanjangan.

Lihat selengkapnya