Aku duduk di dekat jendela angkot sambil memeluk tas di pangkuan. Kursinya terasa agak panas karena matahari. Setiap kali angkot melewati jalan yang berlubang, tubuhku ikut terangkat sedikit. Aku pura-pura melihat keluar jendela, padahal sebenarnya aku sedang berusaha supaya tidak terlihat gugup. Ini pertama kalinya aku naik angkot sendirian.
Sepulang sekolah, aku memang memutuskan untuk mengunjungi Bapak. Mungkin sehari atau dua hari. Ibu pasti tidak akan marah, atau barangkali Ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar tidak akan sadar aku pergi. Setelah puas bermain-main dengan Bapak, aku pasti kembali pada Ibu. Bagaimana pun aku sudah hidup bersama Ibu bertahun-tahun lebih banyak daripada siapa pun.
Secarik kertas kukeluarkan dari saku celana. Nama jalan tujuan tertulis di sana dengan tulisan tangan Bapak. Aku membacanya berkali-kali sejak naik, takut lupa atau malah turun di tempat yang salah.
Angkot berhenti untuk menaikkan penumpang lagi. Beberapa orang naik, membuat ruang di dalam semakin sempit. Aku merapatkan tas ke dada dan kembali melihat ke luar. Bapak bilang aku bisa turun di depan toko bangunan berwarna kuning emas, rumahnya sendiri tepat di belakang toko itu. Aku terus memperhatikan setiap bangunan yang kami lewati. Toko motor. Apotek. Sampai akhirnya bangunan dengan ciri yang sama terlihat. Aku segera mencondongkan tubuhku ke depan sedikit.
“Pak, di depan toko bangunan itu, ya.”
Supir melihatku lewat kaca spion dan mengangguk
Aku menghela napas panjang. Rasanya baru saja mengerjakan soal ujian yang susah. Saat angkot melambat, aku sudah menggenggam uang lima puluh ribu, ongkos yang juga ditinggalkan Bapak. Aku bangkit, dan perlahan turun.
Akhirnya, aku sampai di alamat yang ditunjukkan Bapak. Aku tidak sabar melihat senyum di wajah Bapak lagi, senyum yang memberikan rasa nyaman dan aman. Aku pun melangkah dengan rasa rindu yang telah penuh.
Di belakang toko bangunan berwarna kuning emas, ada rumah yang sederhana. Bangunannya tidak besar dengan dinding berwarna cerah dan atap miring yang melindungi seluruh bagian rumah. Halaman kecil di depannya ditumbuhi rumput hijau dan deretan pot bunga. Dari luar saja, meskipun sederhana, rumah itu terlihat lebih baik dibandingkan rumahku yang masih menggunakan dinding kayu. Aku berjalan menuju pintu utama yang diapit dua jendela. Dengan perasaan gugup bercampur rindu, aku mengetuk pintu itu. Tiga kali.
Seseorang keluar. Bukan bapak. Yang keluar adalah perempuan yang mungkin seusia dengan Ibu. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Ibu itu memiliki rambut hitam berkilau yang tergerai panjang ke belakang. Tatapannya ramah sehingga aku tidak perlu takut berbicara dengannya.
“Cari siapa, ya?” tanyanya sambil tersenyum lembut.
“Bapak saya, Tante. Namanya Abdi Radja.”
Ibu itu agak syok mendengar nama Bapak. Namun, wajahnya tidak berubah sama sekali. Dia tetap memasang senyum yang manis.
“Kamu pasti Bandi, ya? Ayo masuk, Nak. Bapak keluar sebentar. Lebih baik menunggu di dalam.”
Aku mengangguk pelan, lantas mengikuti Ibu itu masuk. Di dalam, ada sofa yang tak pernah kulihat di rumah Ibu. Tiga sofa kecil dengan bantalan yang lembut. Aku duduk di sana sambil menunggu Bapak. Sementara Ibu yang tadi bergerak ke dalam. Katanya, dia ingin ambil sesuatu. Di sela menunggu, aku memutar pandangan. Beberapa bingkai foto terpajang di rak lemari. Satu foto membuat mataku terpaku. Ada Bapak di dalam foto itu, juga Ibu yang tadi. Mereka bergandengan tangan dengan senyuman di wajah. Apa maksudnya? Siapa perempuan itu? Istri baru Bapak? Atau saudaranya?
“Ibu bawa kue brownies. Semoga suka, ya…” suara Ibu tadi mengalihkan pandanganku, serta pertanyaan-pertanyaan yang penuh di kepala. Ibu itu meletakkan sepiring kue brownies ke atas meja.
Aku meraih sepotong kue brownies itu, melahapnya dengan lembut. Entah dari mana Ibu itu dapat informasi, tetapi brownies adalah kue favoritku. Dulu Bapak sering membawakan kue brownies sepulang kerja.
“Bapak kamu selalu cerita tentang kamu, loh…” Ibu itu ikut duduk. “Dari dulu Ibu pengen sekali punya anak cowok. Setelah mendengar semua cerita bapak kamu, dan sekarang melihat kamu langsung, Ibu jadi makin senang kalau kamu mau tinggal sama Ibu, sama Bapak.”
Aku tersenyum sekenanya. Rasanya masih belum tuntas pertanyaan soal foto tadi, kalimat Ibu itu kembali memenuhi kepalaku dengan pertanyaan. Apa hubungan di antara mereka?
“Kalau diperhatikan…” lanjutnya, “kamu memang mirip sekali sama bapak kamu. Alis yang tebal dan lesung pipi yang tidak pernah hilang.”
Tak lama, Bapak akhirnya pulang. Dia tidak sendirian. Seorang anak perempuan ikut pulang bersamanya. Melihatku, Bapak langsung mendekat dan duduk bersama kami. Dia tidak lupa memperkenalkan anak perempuan itu padaku.
“Bandi, ini Kesha. Kakak kamu.”