Ibu Melarang ke Sungai Sendirian

Justang Zealotous
Chapter #17

PRIA-PRIA

Dengan tangan bergetar, pria tambun itu mengikat karung dengan tali tambang. Karung yang telah berubah merah karena bercak darah. Pria tambun itu mengembuskan napas berat berkali-kali. Wajahnya penuh keringat.

“Kenapa harus sampai sejauh ini?”

Perempuan di sampingnya tidak menjawab. Ia duduk meringkuk. Wajahnya nyaris tidak menunjukkan apa pun. Tidak ada tangisan. Tidak ada amarah. Tidak ada kepanikan yang terlihat. Matanya terbuka, menatap ke satu titik yang entah di mana, seolah pikirannya berada jauh dari tempat itu.

Pria tambun menghela napas. Ia hendak mengangkat karung itu, tetapi karungnya tiba-tiba bergerak. Terdengar erangan yang tertahan di dalamnya. Pria tambun sempat terhentak kaget. Karung yang sudah hampir diangkat lepas begitu saja.

“Sialan!”

Pria tambun membeku beberapa detik, menunggu karung itu bergerak lagi. Namun tak ada apa-apa. Pria tambun mencoba mengangkat karung itu, membawanya ke atas motor, mengikatnya kembali di sana. Setelah yakin karung itu tidak akan terjatuh, ia segera melajukan motornya. Motor itu meraung pelan, menelan jarak demi jarak di bawah malam yang lengket dan tanpa saksi. Ia menuju sungai yang tak jauh dari sana.

*

Abdi membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan siapa pun. Suara engsel yang samar bercampur dengan tetesan air dari ujung jaketnya yang jatuh ke lantai teras. Setelah masuk, ia menutup pintu rapat dan berdiri sejenak di ruang tamu yang gelap. Dengan langkah pelan, Abdi meletakkan tas yang sedikit lembab di kursi. Ia juga melepaskan jaketnya yang basah dan menggantungnya ke paku yang mencuat di dinding. Di luar, suara air yang menetes dari talang masih terdengar sesekali.

Sambil mengusap rambutnya yang masih setengah basah, Abdi bergerak ke kamar. Ia sempat kaget melihat Juleha meringkuk di sisi ranjang sambil menangis dengan suara yang tertahan. Saat itu, anak mereka telah tertidur pulas.

“Ada apa?” tanyanya dengan suara setengah berbisik.

Melihat Abdi, Juleha sama kagetnya. Ia mengusap lembut buliran di matanya sebelum berdiri. Ia berjalan perlahan keluar dari kamar.

“Aku capek, Mas.”

“Seharian di rumah saja kau capek? Kau kan sudah tidak masuk kerja lagi semenjak pemerintah mengumumkan corona mulai menyebar…”

Juleha menghela napas berat. Tenaganya habis. Untuk bicara saja ia lelah.

“Sudahlah… aku juga capek.”

Abdi bergerak ke dapur. Ia ingin memanaskan air. Namun, matanya tiba-tiba teralihkan pada bungkusan kopi bubuk yang sudah terbuka. Abdi heran. Hari itu ia belum pernah minum kopi, dan Juleha juga tidak bisa minum kopi.

“Juleha, siapa yang datang ke rumah?” Abdi berteriak dari dapur.

“Tidak ada, Mas. Seharian ini aku ngurusin anakmu.”

Abdi mendengkus. “Terus siapa yang minum kopi? Kamu?”

Juleha bingung. Sedetik, ia baru ingat saat Arman datang, pria itu sempat menyeduh kopi. “I..itu.. aku, Mas,” dalihnya, suaranya bergetar. “Saking capeknya, aku terpaksa minum kopi, Mas, biar bisa ngurusin anakmu yang sepanjang hari menangis.”

“Terus, kenapa tinggal satu sachet? Kau tidak beli? Uangmu habis? Aku sudah bilang, aku cuma bisa kasih kamu uang sekali sebulan, yah disimpan baik-baik. Kalau habis, ganti pakai gajimu sendiri.”

“Nanti aku beli, Mas.”

Wajah Abdi mengerut. Ia membanting panci yang tak jadi ia pakai memasak air. Juleha terkejut, begitu juga bayi mereka yang kembali menangis. Juleha langsung bergegas menenangkan bayi yang sebelumnya sudah tenang setelah sepanjang malam menangis. Rasanya Juleha ingin berteriak sekencang mungkin. Ia sadar malam itu akan kembali berjalan sangat panjang.

*

Setelah menitipkan bayinya, Juleha segera ke tempat karaoke. Ia harus menemui Nyonya Martin, mempertanyakan nasibnya. Juleha jengah. Ia tidak mau lagi bergantung sama uang Arman. Paling tidak, kalau ia masih bisa bekerja di tempat karaoke, ia bakal dapat uang tanpa campur tangan pria gila itu. Ia bisa beli kopi dan tak perlu membuat Abdi mengomel. Namun, bukannya bertemu Nyonya Martin, justru ia hampir berurusan dengan segerombolan aparat.

Saat Juleha melangkah cepat menuju ruangan Nyonya Martin, suasana yang semula riuh mendadak pecah oleh teriakan-teriakan panik. Beberapa aparat datang. Dalam hitungan detik, lorong-lorong berubah menjadi lautan kekacauan. Musik yang sebelumnya menghentak kini tenggelam oleh suara langkah kaki yang berlarian, dan perintah-perintah tegas dari aparat yang tengah melakukan operasi pembubaran. Beberapa pengunjung berdesakan mencari jalan keluar, sementara yang lain sudah digiring dan diamankan.

Jantung Juleha berdebar. Wajahnya memucat. Napasnya memburu. Tanpa berpikir panjang, Juleha berbalik dan berlari menjauh. Tumit sepatunya beradu keras dengan lantai, berpacu dengan rasa takut yang semakin mencekik. Ia terus berlari menyusuri lorong demi lorong. Namun, lorong yang dipilihnya berakhir buntu. Juleha berhenti mendadak. Kepanikan langsung menyergapnya.

Tepat ketika ketakutan itu memuncak, sebuah tangan besar mencengkeram lengannya. Juleha terkejut nyaris berteriak. Sebelum sempat melawan, tubuhnya sudah ditarik oleh sosok itu. Mereka berlari menembus lorong-lorong sempit yang tersembunyi di balik pintu servis, menuruni tangga darurat yang remang. Langkah mereka menggema cepat beradu dengan waktu. Setelah beberapa menit, langkah mereka berhenti di belakang gedung yang sepi.

Juleha membungkuk, berusaha mengatur napasnya yang putus-putus. Dadanya masih berdebar kencang. Perlahan, ia mengangkat kepala. Tatapannya bertemu dengan dua pasang mata yang ia kenal.

Lihat selengkapnya