Aku duduk di belakang Bapak di atas motor yang bergerak pelan, teramat pelan seolah-olah Bapak tidak mau waktu habis begitu cepat. Sebelumnya aku sudah minta maaf sama Bapak. Bukan aku tidak mau tinggal dengannya, dengan Tante Mutiara dan Kesha, tetapi aku tidak bisa meninggalkan Ibu sendirian di rumah sebagaimana Ibu selalu menyempatkan waktu untuk pulang menemaniku tidur di antara jam sibuknya. Kulihat Bapak tidak banyak bicara saat melepasku pergi. Dia hanya berpesan kalau aku ingin kembali ke rumah Bapak, aku bisa pergi kapan saja.
Kami menembus malam yang anginnya terasa dingin di pipi dan kanan, meskipun aku sudah memasukkan tangan ke saku jaket. Itu jaket yang Bapak belikan kemarin. Jalan di depan hanya terlihat dari cahaya lampu motor yang membentuk lorong kuning di tengah gelapnya malam. Setiap kali motor melewati jalan yang bergelombang, aku refleks memeluk pinggang Bapak lebih erat.
Tak lama, kami sudah tiba di kampung. Aku meminta Bapak untuk mengantarku cukup di ujung jalan. Bapak mengerti. Bapak juga tidak mau Ibu memarahiku kalau tahu aku diantar Bapak.
Aku turun dari motor. Bapak menyerahkan tasku yang dia gantung di bagian depan. Bapak mencoba tersenyum, tetapi kutahu dia pasti berat melakukannya. Aku membalas senyumnya. Pertemuan kami singkat, tetapi aku senang bisa merasakan sosok Bapak yang telah lama kurindukan.
Baru mau pergi, Bapak tiba-tiba memanggilku. Aku menoleh.
“Bandi... ke sini sebentar.”
Bapak turun dari motor. Dia merentangkan tangannya. Aku mendekat. Dia memelukku begitu erat seolah tidak ada lagi pelukan setelah itu. Dalam pelukan itu, aku bisa merasakan tubuhnya bergetar.
“Maafkan Bapak, Nak...” suaranya hampir tenggelam di antara tangisnya. “Bapak... sayang sama Bandi.”
“Bandi juga sayang sama Bapak...”
Bapak melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut air matanya.
“Jangan pernah bikin ibumu marah, ya!” katanya, sebelum kembali naik ke motor dan menghilang di balik jalan yang gelap.
*
Langkahku pelan dan sedikit hati-hati. Dadaku berdebar. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Ibu melihatku pulang. Senang atau marah besar. Aku hanya berharap Ibu bisa paham mengapa aku pergi. Lagi pula, aku tidak pergi selamanya. Aku kembali ke rumah seperti biasa bersama Ibu.
Di teras, lampu berpendar lembut. Di bawah cahaya kekuningan itu, ada motor terparkir. Itu motor siapa? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Mungkin Ibu baru saja beli motor baru. Harusnya memang begitu biar Ibu tidak perlu pusing cari tumpangan setiap kali ingin bepergian jauh.
Aku merogoh tas dan mengambil kunci rumah. Untung aku membawa kunci cadangan. Setidaknya, jika pulang mendadak, aku tak perlu cemas terkunci di luar. Saat jemariku berhasil meraih kunci itu, terdengar suara gedebuk keras dari dalam rumah, seolah sesuatu menghantam dinding. Sesaat kemudian, suara tawa cekikikan seorang laki-laki menyusul. Jantungku serasa copot. Jangan-jangan Ibu dalam bahaya. Dengan tergesa, aku menyelipkan kunci ke lubang kunci. Tanganku gemetar hebat. Terlalu panik, kunci itu terlepas sebelum sempat masuk sepenuhnya dan jatuh berdering ke tanah. Aku memungutnya lagi. Napasku memburu. Kali ini kunci berhasil masuk. Begitu terdengar bunyi klik, aku langsung mendorong pintu sekuat tenaga.
Aku ingin berteriak, tetapi suaraku tertahan di tenggorokan. Rahangku seakan lepas. Mataku membelalak. Apa yang kulihat di dalam membuatku membeku. Seorang laki-laki bertubuh besar dengan perutnya yang mencuat ke depan sedang menciumi leher Ibu. Kedua tangannya mencengkeram bahu Ibu dan menahannya di dinding. Dadaku langsung dipenuhi kepanikan. Aku berlari menghampiri mereka. Dengan kepalan kecilku, aku meninju punggung laki-laki itu berkali-kali.
“Lepaskan ibuku!”
Laki-laki berperut buncit itu berbalik. Hanya dengan satu dorongan, tubuhku langsung terhempas ke lantai.
Aku bangkit lagi, meski tubuhku gemetar. Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku kembali maju menghadapi laki-laki besar itu. Namun, pertarungan itu tak akan pernah berimbang. Dia hanya berdiri di tempat sambil memegangi kepalaku, dan aku sudah tidak mampu memukul balik selain meninju angin. Sambil tertawa, laki-laki itu meraih lenganku dan kembali membantingku. Tubuhku membentur meja. Itu membuat kepalaku sedikit berdenyut.
Aku meraba lantai, tanganku menyentuh benda keras. Sebuah vas kecil di dekat kaki meja. Tanpa ragu, aku menggenggamnya. Sekuat tenaga aku mengayunkan vas itu.
“Cukup, Bandi!”