Ibu Mengajariku Tersenyum

Farida Zulkaidah Pane
Chapter #1

Rumah Tanpa Suara

Rumah kami tidak pernah benar-benar sepi. Hanya saja, tidak ada suara ibuku di dalamnya. Bukan karena pita suaranya rusak. Bukan karena tidak bisa mendengar. Bukan pula karena tidak mengerti bahasa.

Ibu hanya memilih diam. Selama 30 tahun, aku tumbuh di dalam keheningan itu.

Tujuh tahun menjadi psikolog, aku sudah mendengar ratusan pengakuan. Perselingkuhan, kekerasan, kehilangan, bahkan keinginan untuk mati. Namun, aku tidak pernah berhasil mendengar satu rahasia pun dari ibuku. Aku mampu mengenali depresi dalam 15 menit sesi konseling, tetapi selalu gagal membaca perempuan yang memasakkanku sarapan setiap pagi.

Ketika masih kecil, aku tidak pernah mempertanyakan mengapa Ibu diam. Tidak ada yang terasa aneh. Toh, kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Ibu membangunkanku setiap pagi, menyiapkan sarapan, menyetrika seragam sekolah, mengantar sampai depan pintu, lalu menungguku pulang. Tidak ada yang kurang.

Kejanggalan baru terasa ketika masuk taman kanak-kanak. 

Suatu hari, seorang teman berceloteh, “Aku suka suara ibuku. Lembut. Beda sama ibunya Kahar yang suka teriak. Kalau ibumu, suaranya kayak apa?”

Aku tidak punya jawabannya.

Baru saat itulah aku menyadari bahwa anak-anak lain mendengar suara ibu mereka setiap hari. Mereka dipanggil untuk makan, diingatkan mandi, dimarahi ketika nakal, atau dibacakan cerita sebelum tidur.

Sedangkan aku, tidak.

Entah mengapa suara itu berhenti tepat di bibir Ibu.

Aku pulang membawa pertanyaan tentang ibuku sendiri.

Memang bukan Ibu yang mengajariku berbicara. Kata-kata pertamaku lahir di koridor RSJ Jaya Manah, Semarang. Para suster melatihku memanggil “Ibu”, sementara para penghuni rumah sakit mengajariku kata-kata lain, satu demi satu. Dari merekalah aku belajar menyusun kalimat, bercanda, mengeluh, dan bercerita.

Bagiku, orang-orang yang sedang berjuang melawan pikiran sendiri itu bukan pasien. Mereka adalah paman, bibi, kakek, dan nenek yang mengajariku mengenal dunia.

Setelah aku berusia dua tahun, kami pindah ke panti rehabilitasi ODGJ yang masih satu kompleks dengan rumah sakit sebelumnya. Belajar lebih banyak lagi kata kompleks, dari para penghuni yang datang dan pergi. Hanya dua orang yang menjadi tetangga tetap kami, Bu Yani dan Pak Darto.

Aku meniru ucapan "terima kasih" dari Bu Yani yang setiap pagi selalu bertanya apakah hari itu Senin, meskipun kalender di dinding menunjukkan hari Kamis. Namun, aku paling tertawa kalau mengingat bagaimana pertama kali mengenal kata "kucing". 

Pagi itu, Pak Darto menunjuk seekor kucing oren yang tidur di halaman panti.

"Itu kucing. Pengawal presiden," katanya.

Aku mengangguk serius.

Bertahun-tahun kemudian, aku baru sadar bahwa presiden yang dimaksud ternyata dirinya sendiri.

Pak Darto juga yang pertama kali melatihku bertanggung jawab di usia tujuh tahun. Dengan mengangkatku menjadi Menteri Perikanan untuk mengurus kolam belakang. Tiga bulan berikutnya, jabatan itu dicabut setelah aku ketahuan memberi makan ikan terlalu banyak.

Malam selepas pertanyaan temanku, saat makan, aku memandangi wajah ibu lebih lama. Beliau sedang memisahkan duri ikan dengan telaten sebelum meletakkannya di piringku.  

Kuperhatikan jemarinya yang ramping, tetapi tidak halus. Ada bekas luka kecil di sana-sini akibat sering membantu memasak, mencuci, dan merawat orang lain sejak di RSJ.

Lihat selengkapnya