Pak Darto buru-buru pamit, mengajak Wati berkenalan dengan yang lain.
Selesai makan, kami bersama membawa piring ke dapur. Penghuni panti semakin banyak yang terlihat beraktivitas.
Bu Yani sedang menyapu halaman dengan semangat yang tidak kalah dari petugas kebersihan profesional. Melihat Ibu membawa kantong plastik berisi roti, wajah perempuan tua tersebut langsung berbinar.
“Buatku?”
Ibu mengangguk.
Bu Yani menerima roti bak hadiah ulang tahun. Padahal, nilainya mungkin tidak sampai lima ribu rupiah.
Aku memperhatikan Ibu yang menunggu Wati pergi, lalu berjalan ke deretan kamar penghuni lain. Membantu Nek Siti minum obat, membetulkan kerah baju Aldi yang baru menjadi satpam hotel, dan mengambilkan kursi roda untuk Pak Ali yang kesulitan berdiri.
“Kalau bukan karena ibumu, aku sudah lama kabur dari sini,” kata Bu Yani.
Wajahku refleks menoleh. “Kenapa?”
“Karena dia bikin kami merasa benar-benar seperti manusia. Kalau kamu sih, sibuk kerja.”
Tawa kecilku pecah. “Perawat di sini kan, baik-baik, Bu.”
Bu Yani menggeleng. “Beda.”
Mataku mengikuti arah pandangnya.
Ibu sedang mengepang Nek Siti. Gerakannya pelan. Telaten. Bagaikan tidak ada pekerjaan lain yang lebih penting di dunia. Persis saat dia dulu mengikat tali sepatuku, atau membersihkan lukaku sepulang bermain.
“Dia ingat roti kesukaanku, siapa yang takut gelap, dan siapa yang enggak bisa tidur kalau hujan.” Bu Yani tersenyum. “Yang paling penting, cuma dia yang tetep senyum sambil nunjuk kalender kalau aku tanya hari.”
Aku kembali memandang ibu. Entah sejak kapan aku berhenti memperhatikan semua itu. Mungkin karena terlalu terbiasa.
Seperti udara. Seperti matahari pagi. Seperti rumah. Kita jarang menyadari nilainya sebelum membayangkan hidup tanpanya.
Entah sejak kapan aku begitu sibuk mencari tahu siapa ibuku ini sebelum datang ke RSJ. Sampai lupa bertanya mengapa begitu banyak orang menganggapnya keluarga.
Aku teringat harus segera bersiap berangkat ke klinik. Dari balik kaca jendela, kulihat Ibu sedang menyiram tanaman dengan selang hijau yang sudah kusam.
Air memercik ke dedaunan. Matahari pagi membuat butiran-butiran kecil itu berkilau seperti kaca.
Ibu memang selalu merawat mereka dengan kesabaran yang bahkan tidak dimiliki sebagian manusia terhadap keluarganya sendiri. Mawar. Melati. Lidah mertua. Cabai. Tomat. Apa saja tumbuh subur di tangan Ibu.
Saat aku melangkah keluar, Ibu menoleh. Tersenyum.
Aku melambaikan tangan.
Beliau membalas dengan anggukan kecil. Hanya itu. Tidak pernah lebih. Tidak pernah kurang.