Dia lahir prematur, bayi laki-laki itu tidak tahu bahwa dirinya memiliki naluri kebinatangan, teramat liar, ia juga punya insting tajam terbebat takdir ilahi. Si bayi butuh pembimbing. Kini ia terlelap di bawah rumpun bambu kuning, deretan batang bambu berdiri tegak bagai tombak-tombak keperkasaan, rumpun bambu kuning itu satu-satunya yang tersisa di pedukuhan tersebut. Sang kakek membopong cucunya dengan selendang kasih sayang, si bayi tidur pulas di depan dada si kakek. Mungkin kelak sang kakek akan menjadi pembimbingnya dengan memberi petuah-petuah kehidupan.
Di sebelah selatan rumpun bambu kuning, terpisah parit atau kali berarus kecil, terbentang area persawahan luas. Padi-padi mulai menguning bagai sepuhan emas, seakan tercipta dari hamparan mistik cinta Dewi Sri, tiupan bayu siang hari menggeleser sepoi-sepoi membelai pipi si bayi dan membuat pohon-pohon padi di sawah menari bagai penari Dolalak, rancak, anggun, meliuk-liuk. Mungkinkah padi-padi itu akan menjadi gurunya? Atau justru angin? Sang angin memang mampu melerai penat, tetapi bisa mendadak mengamuk, memorak-porandakan seisi jagat. Mahendra masih berusia enam bulan pascalahir—belum tahu akan meniru tindakan atau ucapan siapa. Sang kakek menyenandungkan tembang dari bibir kerutnya dengan suara sengau, nyanyian dengan lirik berbahasa Jawa.
Lelo-lelo-ledung
Cah bagus turu awan
Cepet gede
Mikul duwur mendem jero
Lelo-lelo ledung
“Kematian pasti menyambangi aku dan nenekmu, kami kelak akan meninggal, ibumu juga pasti meninggal.” Ujar sang kakek.
Kelembutan siang hari itu terus merayu bersama bayangan kematian anggota keluarga di masa depan. Namun, si bayi akan tumbuh besar, menjadi pria dewasa untuk mewariskan cita-cita leluhur. Dalam tidur lelapnya, ia seperti di negeri dongeng. Dikelilingi suasana hutan hangat—tenteram dan rindang, dekat secuil rumpun bambu kuning, di sekeliling mereka ada pohon jati, mahoni, pohon kelapa, dan pohon-pohon lain. Bahkan ada pohon sirsak sedang melahirkan cintanya dalam bentuk buah. Burung-burung memelesat beterbangan, burung walet, burung sawah, ditambah nyanyian dari sang prenjak—mengelilingi si bocah bayi yang tengah bermimpi, entah ia memimpikan apa. Mungkin ia bermimpi menjadi dewasa, menaiki kuda, berlari-larian di tanah lapang, mengejar layangan putus, mengejar benang merah, berusaha menahan benang itu agar tak putus, benang ikatan jiwa antara ia dan ibunya. Katanya ikatan anak laki-laki dan ibu amatlah kuat. Apabila ibu sakit, maka anak lelaki akan menderita dan merasakannya. Sebaliknya, jika ayah sakit dan ia memiliki anak perempuan, maka anak perempuan akan peka merasakan derita sang ayah. Seperti respons emosional atau efek silang antara orang tua dan anak. Batin ibu terhubung pada anak lelaki, sedangkan ayah satu frekuensi dengan anak perempuan, kedekatan magis seperti ini tak tampak tetapi nyata.
Tampak bajing pohon melompat-lompat dari satu dahan ke dahan lain, membuat ranting terayun. Kupu-kupu bersayap kuning mengelilingi mereka berdua, si bayi tertidur di alam luas terbuka, tidak di dalam kamar. Sang kakek menggoyang-goyangkan badannya sendiri dengan lembut sembari membopong si bayi. Apakah bajing pohon dan kupu-kupu itu kelak akan menjadi gurunya? Entah, dia tetap terlelap, atau mungkin saja kini si bayi bermimpi sedang menikmati air kelapa muda yang begitu segar, ia menjadi dewasa, oh, tentu bayi tidak tahu apa-apa tentang mimpi, ingatannya belum bisa mengingat segalanya. Pengetahuan belum masuk ke dalam kepalanya.
“Sebulan lagi kamu akan menjalani ritual tedaksiti, Putu Lanangku!” sang kakek bergumam.
Rambut sang kakek telah memutih sebagian, kulitnya keriput, tetapi tubuhnya masih bertenaga bagai kuda, kuat mencangkul sawah, memikul gabah, kuat juga jadi belandong kayu. Ia perkasa, pria tua dari desa yang sesungguhnya, memancarkan kedamaian dari wajah tua itu, senyumnya, sorot matanya teduh enak dipandang. Orang-orang desa memanggilnya Amad Semadi atau Amad Dabak, di masa silam ia adalah perajin bambu, penganyam gedek atau dabak. Pembuat dinding dari anyaman bambu, ia juga pembuat kukusan atau bakul, senik, dan juga besek. Dan kerap berpesan pada anak-anaknya, ‘Kalau jadi manusia—jadilah seperti kodok, sebab kodok mampu menjadi penutup untuk lubang tinggalnya dengan badan sendiri.’ Ibunya Mahendra tahu, maksud sang bapak yaitu harus bisa menjaga keluarga, melindungi rumahnya, harkat, martabat atau harga diri. Seperti kodok yang melindungi lubang tempat tinggalnya. Sang kakek telah menunjukkan pada Mahendra, kalau kita bisa berguru pada kodok. Kelak, mungkin Mahendra bisa berguru pada semut.