IBU TANPA RAGA

Yusuf Mahessa Dewo Pasiro
Chapter #46

Epilog

Mahendra duduk, diam, tak bergeming. Ia melangkah keluar setelah menyalami perempuan di depannya. Setelah badai berlalu, ia memutuskan untuk tetap hidup. Sebab dia telah selesai dengan dirinya, telah menuliskan semua kisahnya, telah mengakhirinya, meski kisah itu tak akan selesai, biarlah pembaca yang menyelesaikannya. Dia telah mati, di dalam kisahnya. Ia melangkah mantap, menatap hari yang akan datang. Setelah kemelut begitu menghancurkan, dia bisa merengkuh senyum lega.

“Aku tidak mau datang lagi ke sini, tetapi jika kelak aku membutuhkanmu lagi, pasti aku akan mencarimu. Namun sungguh, aku tidak mau berada di sini, tidak mau lama-lama di sini. Tidak mau hidup dengan kekelaman dan semua obat-obatan darimu.” Kursi di ruangan itu diam, meja juga menatap datar, langit-langit ruangan tetap cuek. Mahendra tak peduli dengan sekitar yang membisu itu. Namun, sang perempuan tersenyum lebar, mengangguk puas. Sebelum Mahendra keluar dari pintu ruangan, dia menyalami sang perempuan yang berada di hadapannya itu.

“Terima kasih, atas semua bantuanmu, kau telah menyelamatkanku.” Ucap Mahendra lembut. Ia lantas berjalan bebas, pergi pulang, melangkah ke rumahnya, untuk memulai aktivitas baru, kehidupan lebih segar yang sudah ia nantikan, ia seolah-olah telah menyegel dirinya di dalam botol kengerian, menenggelamkannya ke dasar laut terdalam menggunakan kapal selam. Dia bahagia, sangat senang, karena telah membunuh dirinya sendiri di dalam cerita yang ia buat. Cerita kehidupan berkarat, autobiografi sinting dan aneh, penghancuran diri, penyesalan, kegelapan jiwa manusia. Dia telah melepaskan segala penderitaannya di sana.

“Aku ingin mati, tetapi aku juga ingin hidup. Keinginan mati itu adalah keinginan dari jiwa terdalam manusia bahwa sebenarnya ia ingin memulai hidup yang baru.” Ujarnya.

Lihat selengkapnya