"Di dunia yang melelahkan ini, untungnya Tuhan menciptakan tempat menyenangkan seperti panti ini, ya, Mbak." Seorang wanita berusia kepala empat membuka obrolan seraya menatap nanar ke arah sepuluh anak yang sedang berlarian. Namanya Sita. Pejuang garis dua yang sudah beberapa kali datang ke panti ini.
Mendengar itu, wanita lain yang duduk di sampingnya menoleh seraya terkekeh. Matanya menyipit membentuk bulan sabit di balik bingkai kacamata berwarna hitam. "Tuhan, kan, Maha Adil, Mbak ...?" Dia menjeda kalimat dan menaikkan satu alisnya.
"Sita. Nama saya Sita."
"Oh, ya. Saya Laksmi."
"Mbak ... eum ... maaf, belum punya momongan juga?"
Hening menyambangi keduanya sejenak.
"Alhamdulillah sudah. Punya satu putera, sekarang sudah bujangan. Kalau dia lagi sibuk sama kegiatannya, saya ke sini."
Sita mengangguk-anggukkan kepala, membiarkan semilir angin yang menerpa wajahnya membawa serta debu-debu keinginan dan harapan. Seperti ada perasaan iri setiap kali seseorang bercerita tentang buah hati. Orang lain punya apa yang dia tidak punya, sedangkan yang dirinya punya hanya tekanan, harapan, letihnya penantian, dan stok sabar yang kian hari rasanya kian menipis. Mau bagaimana lagi. Bak seorang tersangka yang menerima tuntutan pidana, semesta memberinya tuntutan untuk menerima apa yang menjadi nasibnya. 'Ruang tunggu' bagaikan hukuman.
"Punya anak, apa masih suka kesepian juga, Mbak?"
Satu pertanyaan random berhasil mengundang tawa kecil Laksmi.
"Memangnya manusia mana yang tidak pernah kesepian? Anak juga, kan, akan tumbuh dan punya kehidupannya sendiri. Pada akhirnya, kita juga hanya akan jadi lansia yang duduk di depan TV sambil menunggu kabar kepulangan. Entah kabar kepulangan anak kita, atau justru kabar kepulangan kita sendiri ke pangkuan Yang Maha Kuasa. Ya, kan?"
Kalimat Laksmi membuat Sita termenung. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Laksmi juga tak ingin terlalu lancang menelisik.
"Mbak baru aja bikin saya jadi lebih legowo," ucap Sita pada akhirnya.
"Memang sebelumnya enggak?"
Sita mengulas senyum tipis. "Kalau saya cerita beberapa kali gagal inseminasi, gagal IVF, dan tiga kali keguguran, mungkin Mbak bisa menilai sendiri, saya ini pantang menyerah atau terlalu memaksa. Saya pernah terlalu gengsi untuk pasrah, Mbak."
Tangan kanan Laksmi sontak mengusap lembut bahu lawan bicaranya itu, berusaha menyalurkan kekuatan untuk seseorang yang dia sadari kehadirannya di panti ini setiap hampir sepekan sekali, walaupun baru hari ini mereka resmi berkenalan dan duduk berbincang di beranda.
"Kata orang, rahim itu area Tuhan. Apa pun bisa terjadi di ranahnya Tuhan. Tugas kita berhusnuzon sama sifat Rahiim-Nya."
Tiga kalimat penenang yang pada akhirnya memberi rasa aman dan percaya di hati Sita untuk bercerita lebih banyak pada Laksmi.
"Saya dan suami menikah sudah kurang lebih dua puluh tahun, Mbak."
Mendengar kalimat pembuka dari cerita Sita, binar mata Laksmi menunjukkan kekaguman begitu angka tersebut diucapkan. Angka yang mulai dia bandingkan dengan angka lainnya.
"Kami menikah karena perjodohan antarrelasi. Tidak ada modal cinta di awal, tapi saya tau, suami selalu mengusahakan itu."