Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #2

BAB 2 : Nrimo Ing Pandum

Dua cangkir teh hangat disuguhkan dari sebuah nampan plastik bulat berwarna kuning bermotif bunga di permukaannya. Dwita, Ibu Panti yang mengantarkannya turut duduk bersama dua wanita yang sejak tadi tenggelam di pusaran topik obrolan yang dalam.

"Banyak orang yang datang ke panti ini. Dari yang sudah punya momongan, yang sudah lama menikah tapi belum punya momongan, bahkan yang belum menikah juga ada. Tapi menurut saya, yang paling beruntung adalah yang bisa nrimo ing pandum."

Sita menyahuti, "Apa itu artinya, Bu?"

"Nrimo ing pandum itu ikhlas, ridha, dan syukur menerima semua yang jadi ketetapan Gusti Allah."

Secara bersamaan, Laksmi dan Sita menganggukkan kepala, setuju dengan perkataan wanita paruh baya yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu.

"Kalian sendiri gimana?" tanya Dwita yang disusul adegan saling lempar pandang antara Laksmi dan Sita.

Sita yang lebih dulu menjawab, "InsyaAllah pelan-pelan, Bu, walaupun berat. Harus melalui fase saling menguatkan dulu sama suami sebelum akhirnya mulai berserah."

Senyum di wajah Dwita seketika mengembang. "Senang dengarnya kalau suami dan istri bisa saling menguatkan dan enggak menyerah walaupun sama-sama lelah," tuturnya.

Seperti ada yang mengganjal di tenggorokan Laksmi hingga dia harus menelan saliva saat mendengar sang ibu panti mengucapkan itu. Dia mendadak ingat Guntur lagi. Ah, sial!

Dua puluh dua tahun sudah mereka sepakat untuk berpisah dan sejak saat itu semesta tak pernah lagi mempertemukan keduanya dalam kebetulan mana pun. Namun, bukan berarti laki-laki itu tak pernah hadir dan hilang begitu saja dalam ingatan Laksmi yang sudah terlanjur membangun mimpi dengan megah dan menggantungkannya pada satu nama.

Seluruh jejak kenangan selama bertahun-tahun yang mereka susun, masih tersimpan rapi dalam sebuah kotak tak kasat mata yang tutupnya kadang tidak sengaja terbuka. Termasuk salah satunya adalah kenangan di masa putih abu-abu. Masa yang kata orang-orang merupakan masa yang tak tergantikan dan tak terlupakan. Benar adanya demikian. Laksmi tak memungkirinya.

Kisahnya dengan sang kakak kelas bermula dari masa pelantikan keanggotaan organisasi. Entah bagaimana ceritanya bisa jatuh cinta dengan seorang anak pengusaha yang terpaut usia dua tahun itu, Laksmi juga tak begitu ingat. Yang dia ingat, intensitas pertemuannya dengan Guntur dalam kegiatan-kegiatan organisasi membuat mereka cukup sering berinteraksi dalam hitungan beberapa bulan sebelum akhirnya Guntur lulus lebih dulu.

"Setelah lulus mau lanjut kemana?" tanya Guntur sesaat setelah Laksmi memberinya hadiah perpisahan di sisi barat aula.

Laksmi mengedikkan bahu. "Semenjak dulu tinggal di panti, aku dan beberapa temanku yang lain enggak berani punya mimpi tinggi. Sekolah di mana aja, yang penting lulus. Kuliah di mana aja, yang penting belajar sungguh-sungguh."

"Tapi, kan, sekarang kamu udah tinggal sama orang tua angkat kamu."

"Ya justru karena itu. Aku ikut saja saran dari mereka."

Tanpa permisi, sepasang netra Guntur menatap lekat netra Laksmi yang tertuju ke tanah. "Aku tau kamu, Laksmi. Kamu selalu punya mimpi dan tujuan."

Netra yang semula tertuju ke tanah, kini mulai beralih naik. Sekilas Laksmi menatap mata laki-laki yang rambutnya selalu tertata rapi itu. Namun setelahnya, dia kembali melempar pandangan ke arah lain karena tak mau bagian-bagian yang lain turut terbaca.

"Jadi, apa kamu memang enggak mau aku tau tentang mimpi-mimpi kamu?"

Pertanyaan Guntur masuk begitu dalam ke hati Laksmi. Sontak dia menggelengkan kepala. "Bukan begitu," katanya meluruskan.

"Jadi?"

"Ada dua kampus yang masih aku pertimbangkan. Aku masih cari tau, mana yang lebih baik."

"Kalau jurusannya?"

Lihat selengkapnya