Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #3

Bab 3 : Redup yang Mencoba Kembali Terang

Pagi berpenghuni. Jarum jam di dinding membentuk sudut siku-siku. Di dapur umum indekos yang berukuran 3×3 meter, Laksmi sedang mencicipi sayur sawi buatannya. Dari arah selatan, pintu kamar nomor 2 terbuka, menampilkan seorang perempuan muda berusia selikur dengan lilitan handuk di kepala. Namanya Larasati.

"Masak apa, Bu?" Laras berjalan menghampiri Laksmi yang masih sibuk dengan kompornya.

"Eh, Ras, masak sayur sawi sama ikan nih. Nanti kamu bawa buat bekal kerja, ya."

Laras celingukan mencari motor seseorang yang terlihat sudah tidak ada di parkiran. "Kak Pandu kemana, Bu?" tanyanya.

"Udah berangkat kerja tadi jam tujuh," jawab Laksmi.

"Lho ... tumben hari minggu berangkat pagi-pagi. Bukannya harusnya minggu ini libur, Bu?"

"Katanya di bengkel enggak ada orang, Ras. Lagi pada cuti. Jadi Pandu disuruh berangkat."

Mulut Laras membentuk huruf o. "Laras bantuin, ya, Bu," tawarnya

"Udah, Ras. Udah beres," ujar Laksmi. "Ini aja deh. Ibu minta tolong angkatin pancinya ke bawah, soalnya kompornya mau dipakai buat goreng ikan," titahnya sembari menunjuk ke arah kompor yang baru saja dimatikan.

Saat Laras sedang mengangkat panci dari atas kompor ke lantai, pintu kamar nomor 3 di utara terbuka.

"Ar, baru bangun?" sapa Laksmi yang kemudian disambut senyum hangat sang penghuni kamar nomor 3.

"Hu'um, Bu. Ini baju yang mau disetrika, ya, Bu. Sama ada sepatu teman Arimbi juga mau sekalian dicuci katanya." Arimbi mendekat pada Laksmi. Kedua tangannya mengangkat keranjang berisi pakaian kotor dan sebuah kantung plastik berwarna hitam.

"Siap, Ar. Taruh di tempat biasa aja."

Beginilah keseharian Laksmi sejak tidak tinggal lagi di panti yang telah sukarela menampung dirinya dan Pandu kecil.

Setelah terakhir kali dipecat dari pekerjaannya sebagai guru karena kesalahpahaman, Laksmi hanya bantu-bantu di panti, tinggal di gudang belakang panti yang disulap menjadi kamar bersama puteranya. Saat Pandu berusia lima tahun, Laksmi memutuskan keluar dari panti karena merasa harus bekerja, mencari biaya untuk Pandu yang akan masuk sekolah.

Takdir seolah berpihak setelah berkali-kali berkhianat. Laksmi bertemu Anika, dosen yang sedang mencari seseorang untuk dijadikan penjaga indekos miliknya. Nurani Anika berbicara saat melihat Laksmi datang sambil menggendong puteranya yang lugu. Selain mendapat pekerjaan baru, Laksmi juga akhirnya diperbolehkan tinggal di sana tanpa perlu membayar sewa. Sejak saat itu, Laksmi hidup dan membesarkan Pandu dari gajinya sebagai penjaga indekos.

Saat Pandu mulai dewasa, lulus dari bangku SMP, Laksmi membangun bilik sederhana dan membuka warung kopi dari hasil menabung selama bertahun-tahun, sambil masih tinggal dan menjaga indekos milik Anika. Keinginan menyekolahkan Pandu setinggi-tingginya memaksa Laksmi bekerja dua kali lebih keras. Hanya mengandalkan gaji sebagai penjaga indekos saja tidak akan cukup untuk membiayai hidup sekaligus sekolah Pandu.

Di usia Pandu yang menginjak angka delapan belas, anak itu meminta ibunya berhenti berjualan. Pandu diterima bekerja menjadi montir di sebuah bengkel tak jauh dari tempat mereka tinggal. Sambil menyelam minum air. Pandu membiayai kuliah dengan hasil keringatnya sendiri, sementara Laksmi yang merasa masih sanggup mengambil pekerjaan sampingan mulai membuka jasa setrika dan laundry sepatu untuk anak-anak kost.

"Ada sawi sama ikan. Enggak berangkat kuliah, kan, Ar? Nanti makan bareng, ya, sama Anjani dan Nadia juga."

Lihat selengkapnya