Dering telepon membuat Pandu yang sedang duduk bersandar di atas kasur sambil memangku alat pelipat dunianya sedikit terlonjak.
Larasati.
Sebelum mengangkat telepon, sekilas Pandu melirik jam dinding.
"Ya, Ras?"
"Kak, boleh minta tolong enggak? Kak Pandu atau anak kost lain ada yang bisa jemput aku enggak, Kak?"
"Kamu dimana sekarang? Masih di tempat kerja?"
"Iya, Kak. Ini baru mau pulang, tapi ban sepedanya bocor."
Anjani, Arimbi, dan Nadia sudah ada di kamar masing-masing. Namun, jam dinding menunjukkan pukul sepuluh. Akhirnya, Pandu mengambil keputusan, "Kamu tunggu di sana, Ras. Aku otw jemput sekarang."
"Ok, Kak. Makasih, ya."
Usai memutus sambungan telepon, Pandu bergegas bangkit. Dia menaruh alat pelipat dunianya di atas meja kecil dekat satu-satunya jendela dalam sepetak kamar tersebut, meraih kunci motor yang tergantung di dinding, lalu melangkah keluar menuju laundry room di sisi timur.
"Bu, Pandu keluar jemput Laras dulu, ya."
Laksmi berhenti sejenak dari kegiatan menyetrika. Dia menoleh ke arah Pandu, lantas kemudian menautkan alis. "Kenapa Laras? Dia di tempat kerja?"
"Ya, Bu. Ban sepedanya bocor, dia enggak bisa pulang."
"Oh ... ya udah, gakpapa, jemput sana. Pakai jaket, ya, Nak."
"Ya, Bu."
Pandu mencium punggung tangan Laksmi sebelum melenggang kembali ke kamar untuk mengambil jaket dan mulai mengeluarkan sepeda motornya.
Dua puluh menit ditempuh, Pandu tiba di tujuan. Dia melihat Laras duduk di pelataran toko bunga tempatnya bekerja. Dengan toko yang sudah tutup dan sepeda yang terparkir di luar, Laras lekas bangkit dari duduknya begitu menyadari kedatangan Pandu.
"Maaf, ya, Kak, aku ngerepotin," kata Laras.
"Enggak. Ayo naik," titah Pandu seraya mengangsurkan helmet kepada Laras.
"Tadinya mau pesan ojol, tapi takut."
"Jangan, Ras. Ngeri kalau udah malam gini. Kalau berangkat, gakpapa naik ojol. Pulangnya lebih baik minta jemput. Telepon aja. Selagi bisa, pasti aku jemput."
Laras sempat bingung menanggapi apa, hingga matanya tertuju pada sesuatu di sisi jalan. Dia meminta Pandu menepikan sepeda motornya sejenak.
"Tunggu bentar gakpapa, kan?" Laras nyengir menampilkan deretan giginya, lalu satu tangannya memegangi perut. "Lapar, Kak, dari siang belum makan."
"Mau cari nasi?"
"Enggak. Ini aja." Laras menunjuk gerobak pedagang kue pukis di dekatnya. "Ibu sukanya keju, kan? Kak Pandu mau rasa apa?" tawarnya.