Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #5

Bab 5 : Hidup Selalu Punya Kejutan

Akhir pekan tiba, semua orang tetap sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Anak-anak kost memilih menghabiskan sepanjang waktu di kasur, sebagian ada juga yang memilih hangout bersama teman-teman, kecuali Laras. Anak itu tetap masuk kerja. Tak jarang, sabtu dan minggu menjadi hari tersibuknya karena toko bunga ramai didatangi pembeli.

Di tempat lain, Pandu sedang mem-briefing anak-anak yang akan tampil di depan tamu panti. Sementara itu, Laksmi dan Dwita sibuk menyiapkan sajian untuk para tamu.

Setiap setahun sekali, panti yang berada di bawah pimpinan Dwita itu mengadakan acara kecil-kecilan. Semacam pentas untuk memperingati hari berdirinya. Acara yang turut dihadiri oleh para donatur ini juga bertujuan untuk mempererat tali silaturahim antara pihak panti dan pihak-pihak lain yang sudah berkontribusi menjaga panti tetap berdiri. Rangkaian acaranya sederhana. Hanya penyampaian laporan keuangan tahunan panti yang sumbernya berasal dari donasi, lalu setelahnya makan-makan outdoor di halaman panti yang ditanami rindangnya pepohonan jambu dan mangga, sambil menyaksikan pentas yang dibawakan oleh anak-anak. Anggaplah hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih dari mereka untuk para donatur yang telah menyisihkan materi serta sedikit waktunya yang berharga.

Usai anak-anak menampilkan beberapa penampilan, acara kemudian ditutup dengan doa bersama.

Laksmi dan Pandu lega, acara berjalan lancar tanpa halangan yang berarti. Tahun ini bagi mereka sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu, Laras dapat jatah cuti sehingga bisa ikut membantu kelangsungan acara. Anak-anak kost juga sempat hadir membantu walau sebentar. Kali ini, mereka tidak bisa ikut membantu karena semalam ada kegiatan hingga larut dan mereka baru tidur menjelang pagi. Tahun lalu, Pandu juga masih dalam keadaan sehat. Laksmi merasa tidak perlu mengkhawatirkannya meski anak itu harus mengurus banyak hal.

"Bu, Tante Sita mau pamit," ujar Pandu pada Laksmi yang sedang menaruh piring-piring kotor di dapur.

"Oh, iya, sebentar," sahut wanita itu. Dia lantas menyalakan keran, mencuci tangannya, lalu bergegas menghampiri Sita yang sudah berdiri di depan pintu ditemani oleh Dwita.

"Mbak, saya pamit, ya," kata Sita.

"Pulang sendiri?" tanya Laksmi.

"Dijemput suami, bentar lagi juga sampai."

"Ya udah, saya antar sampai depan situ, ya."

"Boleh."

Sita menyalami Dwita sebelum beranjak menuju gerbang ditemani Laksmi. Mereka berjalan pelan, menatap ranting-ranting pohon yang beberapa di antaranya dipasang pita dan balon warna-warni.

"Makasih udah datang. Jangan kapok, ya, main ke panti ini," ucap Laksmi.

Sita membalas, "Saya yang makasih udah diundang di acara ini. Enggak akan kapok, Mbak. Tahun depan kalau diundang lagi juga saya pasti hadir. Maaf saya cuma bisa hadir di hari H dan enggak bisa ikut bantu-bantu, Mbak."

"Gakpapa, saya paham."

Sebelum suaminya datang menjemput, Sita menyempatkan memeluk Laksmi layaknya seorang sahabat yang telah saling mengenal sejak lama. Di telinga Laksmi, dia berbisik, "Makasih, ya, Mbak sudah mau jadi teman saya, dengar saya cerita. Semoga takdir baik selalu menghampiri Mbak."

Laksmi membalas pelukan Sita yang terasa sangat tulus baginya.

"Aamiin. Kamu juga. Semoga setelah semua yang terjadi, Tuhan kasih kamu kemenangan. Bahagia terus buat kamu dan suamimu."

"Aamiin, Yaa Allah. Eh, itu suami saya udah datang, Mbak." Sita melepas pelukannya.

Laksmi berbalik badan, menatap ke mobil sedan hitam yang berhenti tepat di depan gerbang panti.

Ketika pria itu membuka kacamata hitamnya, Laksmi tercekat. Jantungnya berdebar tak karuan. Suara langkah kaki si pria berjas maroon terdengar seperti slow motion di telinga wanita yang kini hanya bisa mematung.

"Itu suami kamu?" tanya Laksmi dengan suara sedikit bergetar.

"Ya, itu suamiku, Mbak."

Pria itu...

Dia jelas bukan pria asing bagi Laksmi.

Di sisi lain, si pria berjas maroon merasa semestanya berhenti sekejap. Di telinganya, semua mendadak senyap. Deru angin seketika berubah hening saat dia menatap sepasang netra wanita yang lama tak pernah ditemuinya lagi. Dia mulai bertanya-tanya dalam hati apakah benar wanita yang ditatapnya adalah Laksmi yang dia kenal.

"Mbak, kenalin, ini suamiku. Namanya Mas Guntur. Sayang, kenalin, ini Mbak Laksmi."

Lihat selengkapnya