Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #6

BAB 6 : Gelap Dunia

Bulir-bulir keringat berjatuhan di pelipis. Matahari bersinar dengan penuh semangat, terang-benderang hingga sore hari, membuat angin yang berembus pun terasa hangat menyengat di kulit. Laksmi mempercepat langkahnya, menghindari terik yang entah kenapa masih menyongsong sore-sore begini. Sedetik kemudian, suara klakson menghentikan langkahnya. Dia menaungi kedua matanya dengan telapak tangan agar tidak kesilauan saat melihat pengendara motor yang tadi membunyikan klakson.

"Ibu dari mana?"

Rupanya pengendara motor itu adalah Pandu. Anak itu mematikan motor, melepas helmet, dan turun dari motornya.

"Eh, ini, Ibu habis antar sepatu yang udah dicuci, terus pulangnya mampir beli sayuran." Laksmi mengangkat kantung yang ditenteng di tangan kanannya.

"Jalan kaki?"

"Eum ... enggak, naik angkot sampai depan situ."

"Bohong," tukas Pandu.

Sial, Pandu pandai membaca kebohongan!

Gugup, Laksmi mati kutu. Dia mengelak, "Benar kok."

Tanpa aba-aba, Pandu mengambil alih belanjaan yang ibunya bawa di tangan. Digantungkannya kantung belanjaan itu di motor.

"Ayo pulang, Bu," ajaknya.

Pandu naik ke atas motornya, membukakan footstep, kemudian lengan kirinya bersiap untuk dijadikan pegangan untuk Laksmi naik.

Laksmi menyunggingkan senyum. "Terima kasih," ucapnya.

Ban motor berderap menyusuri gang yang cukup padat penduduk. Di sisi kanan dan kiri, beberapa tetangga menyapa dengan ramah, sebelum akhirnya sepeda motor itu berhenti di depan sebuah gerbang yang digembok. Laksmi turun dari motor, membuka gembok, sedangkan Pandu masih di atas motornya.

"Besok Pandu berangkat naik angkot aja. Motornya Pandu tinggal barangkali Ibu mau pakai, ya, Bu," ujar Pandu.

Gerbang terbuka, dahi Laksmi berkerut.

"Enggak usahlah. Ibu enggak kemana-mana. Atau kamu mau diantar-jemput sama Ibu?"

"Jangan."

"Gakpapa kalau mau. Nanti pagi Ibu antar kamu, terus kamu tinggal kasih tau Ibu pulangnya jam berapa, Ibu jemput."

"Enggak usah, Ibu Sayang!" Pipi Laksmi dikecup Pandu tanpa permisi. "Pandu mandi dulu."

Anak itu melenggang, sementara sang ibu masih senyum-senyum melihat tingkah puteranya. Masih sering tak menyangka kalau Pandu kecilnya sekarang sudah tumbuh dewasa. Badannya bahkan lebih tinggi dari badan ibunya.

Sebelum ke dapur, Laksmi masuk ke kamar terlebih dahulu untuk menaruh dompetnya. Dibukanya dompet lusuh yang sudah menemaninya beberapa tahun itu, lalu sebuah buku tabungan dikeluarkan dari sana. Mata Laksmi berkedip melihat nominal yang tertera.

"Mana cukup buat bawa Pandu berobat ke luar negeri," lirihnya. Dia kembali melempar tanya entah pada siapa, "Kerja apa lagi biar uangnya cepat kumpul?"

Pertanyaan itu mungkin tidak langsung menemukan jawabannya sekarang. Namun, barangkali jawabannya ditemukan jika Laksmi memikirkannya di dapur. Dia segera menutup buku tabungan itu dan memasukkannya kembali ke dompet sebelum Pandu selesai mandi.

Sejak Pandu kecil, hampir semua jenis pekerjaan sudah Laksmi lakoni. Dari menjadi buruh serabutan, berjualan kopi, jadi pelayan di rumah makan, sampai buruh cuci-gosok seperti sekarang. Sambil menjaga kost tentunya. Dia dan Pandu bekerja sama saat ada lampu kost yang mati, mengganti galon atau tabung gas yang habis, membayar listrik tepat waktu, membuang sampah, serta menjaga lingkungan kost tetap bersih, termasuk mengantar ke klinik jika ada anak kost yang sakit. Hidup mereka cukup dari pekerjaan-pekerjaan itu. Sayangnya, keadaan telah berubah. Laksmi membutuhkan lebih banyak uang untuk pengobatan Pandu.

Lihat selengkapnya