Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #7

Bab 7 : Seputih Dinding Rumah Sakit

Hari sudah pagi, tapi mentari agaknya tak mampu menyinari kegelapan yang bukan hanya menduduki bumi, melainkan juga hati dan sorot mata. Keruntuhan tak berhenti hanya dengan membawa Pandu ke rumah sakit. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula, nasib buruk datang silih berganti tanpa memberi celah untuk bahagia masuk ke hati kecil Laksmi.

Di ruangan dokter spesialis, Laksmi duduk tepekur mendengarkan penjelasan dokter yang mengatakan bahwa cuci darah tidak bisa memperbaiki ginjal yang rusak. Kondisi Pandu juga sudah tidak sama seperti ketika kedua ginjalnya masih berfungsi. Itulah kenapa, dokter menyarankan Laksmi mengusahakan mencari donor secepatnya.

Andai bisa, Laksmi pasti sudah memberikan ginjalnya untuk Pandu. Sayang, kenyataannya tidak bisa.

Di hadapan dokter, Laksmi berterus terang, "Masalahnya, saya enggak tau orang tua Pandu ada dimana, Dok."

"Saudaranya mungkin?"

Laksmi menggeleng, disusul helaan napas sang dokter yang mulai memikirkan jalan keluar lain.

"Ok, gakpapa, yang penting kita enggak putus asa dan terus usaha mencari donor yang cocok untuk Pandu."

Kata-kata itu sekilas terdengar seperti kalimat yang membesarkan hati. Namun, maknanya menjadi tidak sesederhana itu di kepala Laksmi yang kebingungan harus mencari donor ke mana lagi. Tubuhnya lunglai melangkah keluar dari ruangan dokter, berjalan menuju ruang rawat. Dia duduk sebentar, merasa sedikit tenang karena ada Laras, Anjani, Arimbi, dan Nadia yang menjaga Pandu. Mereka berjaga semalaman, tidur di kursi tunggu di depan ruangan tempat Pandu rawat inap.

Begitu langkah Laksmi memasuki sebuah ruangan bertuliskan "Anggrek II" yang diisi oleh 3 bed, sorot mata penuh tanya dari empat remaja perempuan menyambutnya.

"Kalian kok kumpul di sini?" tanya Laksmi bingung melihat mereka ramai-ramai berada di sisi Pandu.

Laras yang mewakili menjawab, "Jani sama Nadia mau pulang, Bu. Makanya nyamperin Laras sama Arimbi ke sini."

"Jadi gimana, Bu? Apa kata dokter?" tanya Arimbi.

"Ibu udah ambil keputusan. Pandu sebaiknya berhenti kerja. Dia enggak boleh capek. Kalau soal kuliahnya, gimana, ya, Ar? Apa sebaiknya udahan aja dulu?"

"Soal itu, sebaiknya Ibu tanya Kak Pandu aja dulu, Bu. Kalau memang Kak Pandu mau istirahat, nanti kita coba bantu temani Ibu ke kampus buat jelasin ke pihak kampusnya." Kali ini, bukan Arimbi yang menjawab, melainkan Anjani.

"Ya, nanti Ibu tanya Pandu."

Lihat selengkapnya