Lorong-lorong bernuansa putih menjadi rute yang paling sering Laksmi susuri beberapa bulan terakhir. Dari ruang hemodialisis menuju ruang dokter, dari ruang dokter menuju kamar rawat inap, atau dari kamar rawat inap menuju kantin seperti sekarang.
"Roti sama air mineral jadi berapa, Bu?"
Sudah dua hari sejak dokter menyarankan Pandu opname, nafsu makan Laksmi hilang. Hanya roti atau biskuit yang masuk ke perutnya. Selainnya, termasuk nasi, melihatnya saja Laksmi tak berselera. Kalaupun dipaksa, rasanya seperti tersangkut di tenggorokan.
Hari ini, Laksmi berniat makan bersama Pandu di ruang terbuka. Tidak jauh, karena kebetulan kamar Pandu berada di dekat area taman rumah sakit. Laksmi ingin mengajak puteranya makan sambil menghirup udara segar.
"Ibu kok cuma makan roti?" tanya Pandu sambil menyuap potongan apel ke mulutnya.
"Ya, Ibu udah makan, kan, tadi di kantin. Makanya tadi Ibu perginya agak lama."
Padahal, bukan itu yang sebenarnya terjadi, melainkan...
Laksmi bertemu Guntur saat hendak kembali setelah membayar roti dan sebotol air mineral yang dibeli. Laksmi kaget bukan kepalang saat melihat Guntur ada di sana. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu lagi.
Merasa urusannya dengan Guntur sudah selesai sejak lama, Laksmi memutuskan untuk menghindar saja. Namun, apalah daya. Guntur mengejar dan meraih tangannya. Dia mengunci langkah Laksmi yang akhirnya mau tak mau harus meladeni.
"Laksmi, kenapa sih kamu selalu menghindar?" tanya Guntur yang tampaknya sedikit kesal karena Laksmi bahkan tidak mau menatap wajahnya lagi.
"Kita udah selesai. Jadi, tolong bersikaplah seperti dua orang asing," kata Laksmi.
Guntur tertawa miris. "Kita memang udah selesai, tapi perasaanku belum."
Tak habis pikir Laksmi pada Guntur yang bisa-bisanya berkata seperti itu saat sudah ada Sita sebagai pengganti. "Istighfar, Mas! Kamu udah punya istri," peringatnya.
"Kamu ternyata enggak berubah."
Semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Guntur, Laksmi hanya bisa geleng-geleng kepala. Sibuk menyalahkan semesta yang telah mempertemukannya dengan masa lalu, padahal ada banyak hal di masa depan yang bisa disapa.
"Kamu sadar enggak sih? Kamu itu egois, Laksmi."
Kali ini, Laksmi tak terima. "Kok jadi kamu ngatain aku egois?"
"Kamu sadar enggak sih? Kita pisah demi kebaikanmu, demi kesehatanmu, demi kamu yang enggak mau dimadu, tapi pernah enggak sekali aja kamu tanya bagaimana perasaanku saat harus menerima keputusan itu? Pernah enggak kamu bayangkan bagaimana perasaanku saat harus menerima perempuan lain yang enggak pernah ada di hati aku?" Guntur mengatakan itu dengan menahan nada suaranya karena tidak ingin mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di kantin.
Laksmi dibuat tepekur. Dua pertanyaan berhasil menembus relung hatinya yang terdalam. Menusuk seperti pisau, menancap seperti anak panah yang melesat begitu cepat dari busurnya. Benarkah dirinya egois?
"Dan hari ini, kamu bahkan menghindar, enggak kasih aku kesempatan bicara sedikit pun."
Merasa Guntur salah, Laksmi menyangkal, "Ini aku kasih ka-"
"Semudah itu kamu menghapus aku dari hidup kamu?"
Laksmi memejamkan matanya beberapa detik. "Ingat, kamu sudah punya istri, Mas. Gimanapun, sekarang Sita istri kamu," peringatnya sekali lagi."Aku enggak lagi bahas Sita. Aku cuma mau ngobrol sebentar untuk tau kabar kamu."
"Okay! Kita ngobrol sebentar di sana." Dagu Laksmi menunjuk salah satu bangku kantin yang letaknya paling ujung. "Tapi, sebentar aja. Jangan lama-lama," tegasnya.