Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #9

Bab 9 : Hadiah Untuk Ibu

"Kak Pandu ke sini cuma mau lihatin aku makan mie ayam nih?" tanya Laras sembari menunggu seporsi mie ayam bakso pesanannya jadi.

Sepulang bekerja tadi, saat dia memutuskan mampir ke tukang mie ayam langganannya, Pandu menghubunginya untuk menanyakan keberadaan gadis itu. Lalu tak lama setelahnya, Pandu datang menyusul. Dan di sinilah mereka berada sekarang. Duduk di bangku panjang milik pedagang mie ayam yang sepi pengunjung dengan stok mie di gerobak yang tampak sisa sedikit.

"Ras, kalau besok kamu mati, ka-"

"Kak! Apaan sih nanyanya gitu! Mie ayamku aja belum jadi, lho."

Pandu terkekeh. "Maksudnya mau makan mie ayam dulu?"

"Kak, ih!" Tangan Laras menghadiahi sebuah pukulan untuk lelaki itu.

Mereka tertawa bersama, sampai akhirnya tawa itu berhenti dan pesanan mie ayam Laras datang, Pandu mulai bicara dengan nada serius.

"Aku takut Ibu sendirian kalau aku enggak ada, Ras." Pandu akhirnya mulai jujur pada Laras tentang perasaannya. Tentang apa yang beberapa waktu terakhir selalu mengganggu pikirannya.

Laras yang mendengarnya sempat berhenti sejenak setelah meraih botol saus di meja. Hanya beberapa detik, setelah itu kembali menuang saus dan mengaduk mie seraya berkata, "Makanya harus tetap ada."

"Enggak bisa dong."

"Ya harus bisalah!" Laras mulai kesal, memasukkan mie ayam dengan suapan besar ke mulutnya.

"Ras, kita bicara realistis aja."

Rasanya saat mie ayam baru saja sampai di tenggorokan, seperti ada batu besar yang menghalangi jalannya menuju perut. Laras berusaha menelan pelan mie yang sudah terlanjur dia masukkan ke mulutnya.

"Jadi?" Satu alisnya terangkat.

"Aku mau Ibu punya pasangan hidup yang bakal selalu ada buat Ibu sampai tua, setelah aku enggak ada. Aku enggak mau Ibu jalan sendirian di hidupnya yang udah sepi dan sulit sejak lama. Aku mau Ibu punya teman buat lewatin semuanya. Bantuin aku, ya, Ras?"

"Bukannya kata Kak Pandu, Ibu bilang kalau Ibu enggak mau nikah lagi?"

"Itu dulu. Siapa tau sekarang udah berubah pikiran. Apalagi kalau sama orang yang tepat."

"Siapa, Kak?"

"Om Wira."

Hampir saja sebutir bakso loncat dari mulut Laras ke muka Pandu. Untungnya, dia bisa sedikit menginjak rem sehingga bakso itu tidak jadi loncat. Hanya saja, baksonya tertelan sebelum benar-benar dikunyah.

"Kenapa Om Wira?"

"Ya karena pertama, mereka udah saling kenal. Kedua, Om Wira baik. Bukan cuma ke Ibu, tapi juga ke aku dan semua orang termasuk kamu dan adik-adik di panti. Ketiga, Om Wira masih muda, bahkan umurnya di bawah Ibu. Keempat, aku lihat Om Wira punya rasa sama Ibu."

Lihat selengkapnya