Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #10

BAB 10 : Album Sejarah

"Udah siap?" tanya Laksmi pada Pandu yang baru saja kembali dari bengkel.

Hari ini adalah hari terakhirnya hadir sebagai montir di bengkel yang sudah menjadi rumah keduanya selama lebih kurang empat tahun belakangan. Dia datang bukan untuk bekerja, melainkan hanya untuk berpamitan dengan bos dan rekan-rekan kerjanya di sana. Dan kini, Pandu sudah siap untuk ikut bersama Laksmi ke rumah Guntur.

Perjalanan yang cukup jauh ditempuh oleh mereka yang punya tujuan masing-masing. Hingga akhirnya tibalah mereka di sana. Di rumah yang sudah tidak pernah Laksmi kunjungi begitu lama. Lamanya sampai seusia dengan Pandu yang hampir dua puluh tiga.

Tok tok tok!

Pintu kayu besar dengan ukiran khas Jawa diketuk oleh tangan Laksmi. Sambil menunggu pintu dibuka, dia memperhatikan sekitarnya, mengamati apa-apa saja yang telah berubah selama puluhan tahun dia tidak kembali.

Tak lama, seseorang membuka pintu dan muncul di baliknya.

"Sita ... maaf saya datang," ujar Laksmi kikuk begitu mengetahui kalau yang membukakan pintu adalah Sita. "Suami kamu udah bilang, kan?" tanyanya memastikan.

Entahlah. Laksmi tidak yakin kalau kata 'suami kamu' yang dipilihnya sudah tepat. Beruntungnya, Sita tampak baik-baik saja dengan sebutan itu dan tidak keberatan sama sekali. Mungkin karena yang Laksmi sebut adalah fakta yang tak perlu membuat mereka berdua merasa tidak enak, apalagi sampai tersinggung.

Sita pun mempersilakan tamunya masuk dan duduk di ruang tamu.

"Tunggu sebentar, ya, Mbak. Mas Guntur masih ganti baju di kamar. Dia baru pulang," kata Sita.

Laksmi mengangguk. "Ibu gimana kabarnya?"

"Alhamdulillah, udah membaik. Makanya dokter membolehkan untuk pulang. Kalau Pandu, gimana? Mas Guntur cerita katanya ketemu Mbak Laksmi waktu di rumah sakit, ya?"

"Ya. Saya sama Mas Guntur waktu itu ketemu di rumah sakit. Pandu sekarang-"

Belum sempat Laksmi melanjutkan kalimatnya, Guntur sudah muncul di tangga yang dapat terlihat langsung dari ruang tamu.

"Sudah datang rupanya," kata Guntur.

Mereka bangkit dari duduk, lalu Pandu menyalami Guntur.

"Gimana kabarnya, Pandu?"

Pandu tersenyum. "Alhamdulillah baik, Om."

Lihat selengkapnya