Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #11

Bab 11 : Perisai Doa

"Jadi, kamu sebenarnya udah tau?" tanya Laksmi. Nada terkejutnya barusan bersebab dia baru saja mendengar sebuah pengakuan dari Sita.

Yang ditanya mengangguk. "Ya, Mbak. Sejak pertama kali lihat Mbak Laksmi di panti, saya udah tau kalau Mbak mantan istrinya Mas Guntur. Saya pernah enggak sengaja nemu foto pernikahan kalian di laci, di ruang kerjanya Mas Guntur."

Suasana mendadak canggung.

"Gakpapa, Mbak. Semuanya udah berlalu," ucap Sita setelah membaca kecanggungan di wajah Laksmi.

Di tengah suasana canggung itu, untungnya Pandu muncul bersama Guntur, membawa selembar foto di tangannya.

"Ibu belum selesai ngobrolnya?" tanya Pandu.

"Udah kok," tanggap Laksmi cepat. Dia lekas berdiri untuk berpamitan.

Pamit Laksmi hari ini terasa berbeda dengan pamitnya dulu. Dia melihat Pandu mencium tangan seseorang yang dipanggilnya "Nenek" meski tak ada garis pertalian darah di antara mereka. Laksmi juga menyaksikan bagaimana kepala Pandu diusap lembut, bersamaan dengan menitiknya bening air di ujung mata. Dan sebuah pesan pun terucap, "Sayangi ibumu, ya, Cah Bagus."

Usai berpamitan, mereka diantar keluar oleh Guntur dan Sita. Saat tiba di beranda dan Pandu bergegas menuju sepeda motornya, Guntur berkata pada Laksmi, "Aku akan cari tau kabar Yudha sampai ketemu, secepatnya."

Laksmi mengangguk. "Terima kasih," ucapnya diiringi senyum yang mengembang.

Kali ini, wanita itu keluar dari sana membawa harapan besar untuk Pandu, putera yang begitu dicintainya dengan cinta tak terbilang. Begitu pula dengan Pandu yang membawa semangat besar usai mengenali wajah sang ayah dalam selembar foto. Sejenak dia melupakan sebuah pertanyaan yang telah lama ada dalam kepalanya.

Hari-hari berlalu, mereka tetap menanti sebuah kabar sembari menjalani hidup sebagaimana mestinya. Pandu yang sudah tidak lagi bekerja di bengkel membuat Laksmi harus kembali memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan. Belum lagi, dia sudah tidak menerima gaji sebagai penjaga indekos karena merasa tidak enak pada Anika yang sudah mengizinkannya membuka laundry serta jasa setrika dengan fasilitas yang ada. Laksmi cukup tahu diri. Menjaga indekos kini dia lakukan sukarela sebagai imbalan atas tempat tinggal yang ditempati serta fasilitas yang dipakai seperti listrik, air, dan peralatan elektronik. Sementara itu, Pandu juga terus mengusahakan untuk segera lulus sebelum kemungkinan terburuk dalam hidupnya datang.

Suatu siang, di ruang hemodialisis, sebuah ranjang Laksmi siapkan, dibantu oleh seorang petugas medis. Pandu siap menjalani ritual memperpanjang hidup, demi sebuah cita-cita luhur ---lulus sebagai sarjana dan membuat ibunya bangga.

Tiga puluh menit pertama HD dimulai, Laksmi duduk di sebelah Pandu. Satu lengannya diletakkan di sisi ranjang untuk menopang dagu. Dia hanya memperhatikan anak itu yang sedang sibuk mengotak-atik benda pelipat dunianya.

"Ndu, yakin enggak mau udahan aja dulu kuliahnya?" tanya Laksmi yang sontak membuat Pandu menoleh.

"Udah tinggal beberapa langkah lagi, Bu."

Lihat selengkapnya