Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #12

BAB 12 : Kamu Rumahku

Ada banyak hal yang terjadi selama beberapa bulan Pandu rutin melakukan cuci darah. Lebih banyak dukanya, tapi Laksmi bersyukur masih bisa terus bersama Pandu. Menyaksikan anak itu bertambah usia setiap hari adalah mimpi sederhananya kini. Walau setiap hari baginya dipenuhi kejutan.

Setiap hari, Laksmi tak pernah mau tidur lebih dulu. Dia membiarkan Pandu terlelap sebelum dirinya untuk memastikan anak itu sampai pada mimpi terindahnya. Begitu pula ketika pagi hari. Laksmi bangun lebih awal untuk memastikan puteranya masih bernapas dengan baik.

Dunia pernah menjadi sangat menakutkan saat Laksmi harus berhadapan dengan endometriosis dan histerektomi. Dunia juga pernah menjadi sangat menakutkan saat dia mengambil keputusan untuk membesarkan Pandu seorang diri, tanpa kehadiran pendamping hidup di sisinya. Lebih menakutkan lagi ketika dokter membacakan vonis gagal ginjal kronis stadium akhir di hari itu. Namun, jika ada yang lebih menakutkan dari itu semua, maka ialah hari dimana Laksmi sudah tidak bisa lagi bangun di pagi hari untuk melihat Pandu bernapas dengan baik.

Sejak ada Pandu, Laksmi jadi kembali punya rasa takut perihal meninggalkan dan ditinggalkan. Bukan tanpa alasan, melainkan karena dia sadar, mereka hanya punya satu sama lain di dunia ini.

Orang-orang menyebutnya cinta. Cinta antara ibu dan anak yang Laksmi harap akan abadi, sekali pun kelak semesta mengizinkan Pandu bertemu kembali dengan orang tua kandungnya.

Laksmi mungkin tidak punya kesempatan untuk melahirkan seorang anak dan bahkan rahimnya telah dia kembalikan kepada Sang Pemilik. Namun, tanpa penobatan pun, dia sudah menjadi ibu. Naluri keibuannya terus hidup selama berpuluh tahun membesarkan Pandu. Kesalahan serta kekurangan jadi materi pembelajaran terbaik, serta pengalaman menjadi gurunya. Gudang panti yang disulap menjadi tempat bernaung dan sepetak kamar indekos adalah ruang kelas baginya. Naluri itu semakin terasah oleh waktu.

Dunianya boleh berantakan dan mimpinya biarlah hancur, tapi seluruh hidupnya dia berikan untuk Pandu. Dia pastikan mimpi-mimpi Pandu terus hidup dan tak pernah padam dengan merawat Pandu hingga memastikan anak itu berumur panjang. Apa pun yang bisa Laksmi lakukan, dia lakukan.

Tragis, gagal ginjal telah merenggut separuh hidup Pandu yang awalnya dia berniat persembahkan untuk Laksmi. Pandu dibuat tak berdaya. Dia bahkan seringkali tak punya kontrol atas tubuhnya sendiri. Contohnya di suatu hari terburuk, saat tubuhnya tak bisa lagi diajak bekerja sama, padahal dia sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan ini dan itu untuk sidang akhir yang hanya tinggal hitungan jam.

Pukul dua siang, saat indekos sedang sepi-sepinya karena semua penghuni masih berkegiatan, kesehatan Pandu tiba-tiba menurun. Napasnya tersengal sebab paru-paru yang menolak bekerja dengan baik. Dia sudah demam dan muntah-muntah sejak pagi, tapi enggan ke rumah sakit. Takut agenda sidang akhir besok pagi akan terganggu.

Sementara itu, Laksmi mencoba mengendalikan kecemasan sambil terus berusaha membujuk Pandu agar mau ke rumah sakit. Setidaknya, hanya untuk mendapat pertolongan pertama.

Hal yang paling Laksmi benci adalah ketika di saat-saat seperti ini Pandu selalu mengatakan, "Ibu, kalau ini jadi akhir hidup Pandu, Pandu minta maaf, ya. Ibu tolong peluk Pandu sekencang mungkin."

Maka katakan, ibu mana yang benar-benar siap menjalani lakon itu?

"Kita ke rumah sakit sekarang, ya. Ibu pesan taksi online dulu," putus Laksmi melihat Pandu yang sudah semakin lemas dan hanya bisa bersandar dengan upaya untuk tetap bernapas. Beberapa kali juga dia mengeluh kesakitan.

"Enggak bisa, Bu," kata Pandu dengan suara lirih yang nyaris hilang tak terdengar.

"Bisa!" tegas Laksmi.

Ketika taksi online yang dipesan hampir datang, Laksmi bergegas menyampirkan tas selempang ke bahu, kemudian membantu Pandu untuk naik ke punggungnya. Bersusah payah dia menggendong Pandu sampai ke depan gerbang, melupakan fakta bahwa tubuhnya tidak lebih besar dari tubuh Pandu. Asal Pandu selamat.

Bersyukur setibanya di rumah sakit, kondisi Pandu membaik usai mendapatkan penanganan.

Lihat selengkapnya