Bangunan gedung pencakar langit dengan logo dan nama perusahaan mencuri pandang Laksmi yang hendak turun dari sepeda motor yang baru saja terparkir. Jaket oranye yang dia kenakan dilepas sebelum kakinya melangkah ragu.
"Permisi," sapa Laksmi pada seorang wanita berpakaian rapi di meja resepsionis.
Wanita itu pun tersenyum ramah dan membalas sapaan Laksmi. "Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau ketemu Pak Guntur, Mbak. Sudah buat janji."
Kemarin, Laksmi bertemu Sita di panti. Mereka kembali mengobrol seperti biasa tentang banyak hal, salah satunya perihal Sita yang kabarnya berniat mencoba IVF lagi. Sita bilang, ini percobaan terakhir. Seandainya gagal lagi, dia dan Guntur akan mengembalikan ke tangan Tuhan.
Selain mengenai IVF, Sita juga menceritakan tentang ibu mertuanya yang membicarakan Pandu ketika mereka duduk di meja makan. Di sana, Laksmi bertanya pada Sita soal perkembangan dari pencarian Yudha. Namun, Sita jawab, tidak begitu tahu. Dia menyuruh Laksmi datang saja menemui Guntur untuk menanyakan lebih jelasnya.
Dan di sinilah Laksmi berada sekarang. Kantor Guntur dipilih sebagai meeting point karena merasa hal yang akan dibahas terlalu privat untuk dibahas di tempat umum. Untuk kembali ke rumah Guntur pun, Laksmi rasa tidak pas membahas ini di depan mantan ibu mertua. Jadi, dia memilih bertemu Guntur di kantor pada jam makan siang. Akan ada Sita juga di sana, karena kata Guntur, Sita biasa mengantarkan makan siang untuknya. Ini baru pas. Laksmi dan Guntur jadi tidak mengobrol berdua.
"Jadi, sudah separah apa, Mbak?" Sita menanyakan keadaan Pandu.
Laksmi menelan saliva. "Butuh donor secepatnya sebelum semakin memburuk," jawabnya dengan lidah kelu.
"Sebentar." Guntur beranjak mengambil laptop di meja kerjanya untuk menunjukkan sesuatu pada Laksmi.
"Lihat ini." Dia memperlihatkan foto seorang pria berkemeja hitam tengah bersandar di bagian depan sebuah mobil jeep. Laksmi memperhatikannya dengan saksama.
"Kemarin aku tanya teman-temanku soal Yudha. Kebanyakan dari mereka udah enggak pada tau kabarnya, tapi ada satu yang sempat lihat postingan Yudha di media sosialnya," tutur Guntur. Dia lalu menggulir layar, memperlihatkan foto lain yang membuat Laksmi ternganga.
"Ini bukannya di NTT?" tanya Laksmi saat melihat latar foto kedua menampilkan suasana yang mirip dengan salah satu desa adat di Pulau Timor. Namun, dia takut salah menebak.
"Sepertinya, ya."
"Jadi, dia di Indonesia?"
"Bisa jadi."
"Ini foto kapan, Mas?"
"Temanku bilang, dia lihat foto-foto ini diposting tahun lalu."
Kali ini, giliran Sita bertanya, "Kamu udah lihat langsung media sosialnya, Mas?"
"Aku udah cari, tapi enggak nemu. Kemungkinan akunnya dinonaktifkan sama dia, makanya enggak bisa di-search," terang Guntur.
"Kamu enggak minta nomornya ke temanmu ini?"
"Temanku enggak punya. Mereka cuma saling follow di media sosial aja."