Dering ponsel bergema di laundry room, beradu dengan suara mesin cuci yang sedang dalam mode pengering.
"Ya, halo?" sapa Laksmi kepada si penelepon.
"Aku udah dapat nomor Yudha."
To the point Guntur membuat Laksmi terlonjak pukul lima pagi. Wanita itu segera melipir menuju area jemuran untuk dapat mendengar lebih jelas.
"Gimana, gimana?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan apa yang baru saja dia dengar.
Guntur pun mengulang perkataannya, "Aku udah dapat nomor Yudha. Bisa kita ketemu hari ini?"
"Gimana ceritanya?" Laksmi mulai penasaran. Lama pencarian sempat membuatnya mengira kabar ini mungkin akan mustahil terdengar.
"Nanti aku cerita detailnya kalau kita ketemu. Jangan di telepon."
"Ya. Mau dimana?"
"Jam delapan nanti aku mau antar Sita ke panti. Kalau ketemu di sana, bisa?"
Rasa penasaran dan penantian panjang membuat Laksmi menyetujui begitu saja, melupakan bahwa hari ini adalah jadwal HD Pandu sebelum besok menjadi hari wisudanya.
Setelah telepon ditutup, Laksmi mulai memikirkan cara lain. Pandu harus tetap HD, Laksmi pun harus bertemu Guntur karena kesempatan tidak datang dua kali, pikirnya.
Di tengah kebimbangan, kemunculan seseorang mengagetkannya.
"Bu? Ngapain berdiri di situ?" Suara Laras memecah lamunan.
Tanpa menjawab pertanyaan Laras, Laksmi langsung berkata, "Eh, Ras. Bajunya Ibu cuci, ya."
"Lho ... enggak usah, Bu. Ini Laras bangun mau nyuci. Hari ini Laras libur kok."
"Udah, udah Ibu cuci bajunya sekalian sama punya Ibu."
"Ya ampun, Ibu. Ya udah, nanti biar Laras yang jemur, ya."
Laksmi hanya diam. Di kepalanya sekarang sedang memikirkan sesuatu. Seperti merancang strategi dalam menjalankan sebuah misi.
"Terus ini udah dibilas atau gimana, Bu?" tanya Laras menilik mesin cuci dalam mode pengering, tapi sudah dalam keadaan mati dan tak lagi bersuara.
"Oh, ya. Udah mati, ya?"
"Hu'um. Laras jemur sekarang aja, ya."
Ragu, Laksmi memberanikan diri bertanya, "Ras, Ibu boleh minta tolong?"
"Minta tolong apa, Bu?" Laras balik bertanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Hari ini Pandu HD. Kamu bisa gantiin Ibu?"
"Maksudnya aku nemenin Kak Pandu? Ibu mau kemana?"
Laksmi akhirnya berterus terang. Dia menceritakan panjang lebar soal pencarian Yudha kepada Laras, agar gadis itu mengerti duduk perkaranya. Laras pun mendengarkan dengan saksama, apa yang Laksmi sampaikan.
"Berarti kalau berhasil dan ketemu, kita enggak perlu cari donor lagi buat Kak Pandu?"
"InsyaAllah. Doain aja, ya, Ras."
Ada perasaan bahagia yang membuncah di hati Laras saat mendengar hal itu. Dia sangat berharap semuanya berjalan sesuai rencana dan dikehendaki Tuhan. Karena semua penghuni indekos ini menanti kesembuhan Pandu, termasuk dirinya.
"Aman, Bu. Laras yang antar Kak Pandu ke rumah sakit hari ini. Laras tungguin sampai HD-nya selesai. Ibu enggak usah khawatir."