Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #15

Bab 15 : Gugur Saat Bertunas

Obrolan di meja bundar panti berlanjut. Laksmi kembali ke bangkunya usai mengabari Pandu.


"Mas, boleh aku ngobrol langsung sama Yudha?" tanya Laksmi to the point pada Guntur saat baru saja mendaratkan pantat di bangku.


Guntur mengangguk sebagai jawaban sembari menyeruput minum yang telah disediakan oleh Dwita. "Semoga diangkat, ya."


Tanpa berlama-lama, Guntur langsung menyambungkan panggilan telepon. Mereka yang menunggu tampak harap-harap cemas, berharap Yudha mengangkat teleponnya kali ini. Dan hampir saja mereka bersorak saat harapan itu terwujud.


Ponsel diserahkan oleh Guntur kepada Laksmi. Sementara itu, seseorang di ujung telepon sana sudah lebih dulu menyapa.


"Halo, Mas Yudha," sapa Laksmi dengan suara sedikit bergetar. "Ini aku, Laksmi," lanjutnya.


"Laksmi?" Nada bicara Yudha terdengar seperti orang terkejut, tapi suara khasnya tidak berubah sejak dua puluh tahun lalu.


"Ya. Mas Yudha apa kabar? Lama aku enggak dengar kabar Mas."


"Baik. Aku baik. Kamu dan ... anakku, kalian gimana kabarnya?"


Ada nada yang berubah saat kata 'anakku' disebut. Entah nada apa namanya, yang jelas Laksmi menyadari ada sesuatu yang Yudha simpan di hatinya sebagai seorang ayah yang telah lama berpisah dengan sang anak.


"Kami baik. Pandu ... semoga selalu baik. Dia lagi cuci darah hari ini."


Hening sempat menyambangi cukup lama. Laksmi menebak bahwa di sana, Yudha sedang berusaha menata kembali hatinya. Dia tahu, lelaki itu sangat menyayangi Pandu, meski Pandu lahir di tengah konflik keluarga. Sejak awal juga Laksmi tahu, Yudha tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan puteranya.


"Maafkan aku, Laksmi. Aku enggak menghubungi kalian sama sekali selama dua puluh tahun ini. Aku enggak tau Pandu sakit. Ini salahku."


Sebenarnya, Laksmi ingin sekali bertanya tentang apa yang terjadi selama ini, selama Yudha menghilang dan tidak bisa dihubungi sama sekali. Namun, agaknya ada yang lebih penting daripada itu.


"Semuanya udah terjadi, Mas. Mas Yudha jadi ke sini, kan?"


"Jadi. Kalau tidak ada halangan, insyaAllah nanti malam sampai sana."


"Besok Pandu wisuda, Mas. Mas Yudha mau, kan, datang sama aku ke acara wisudanya Pandu?"


Lihat selengkapnya