Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #16

BAB 16 : Cerita Kebencian yang Mengakar

Sebuah ingatan masa lalu hadir menghiasi ruang tunggu ICU. Teringat pertama kali Yudha mendengar tangisan anak itu. Sampai saat ini Yudha belum juga paham kenapa menatap mata sang bayi rasanya seperti menatap mata Jade, wanita yang teramat dicintainya.

Jade, perempuan warga negara Belanda yang pertama kali dikenalnya di bangku kuliah. Tubuhnya yang semampai, mata kecoklatan, dan rambut panjang agak pirang, menarik perhatian Yudha sejak pertama kali bertemu. Tak disangka, obrolan mereka bisa mengalir meski berasal dari dua negara yang berbeda. Sejak saat itulah, masa-masa kuliah menjadi yang paling indah untuk dikenang. Jade dan Yudha muda yang seumuran pun kala itu saling jatuh cinta.

Tanpa aba-aba, tanpa rencana, mereka menjalin kasih di tengah banyaknya perbedaan yang begitu kontras. Hingga akhirnya, hubungan yang disangka jauh dari pantauan keluarga pun terendus oleh kedua orang tua Yudha di tanah air. Cinta dua sejoli itu ditentang.

Cinta yang kepalang tumbuh, membuat mereka memutuskan menjani hubungan diam-diam. Di akhir masa kuliah, dengan nyali seada-adanya, Yudha baru berani membawa Jade bertemu keluarganya di Jawa. Jauh-jauh datang dari Inggris ke Indonesia, penolakan besar pun terjadi. Jade sama sekali tidak diterima dan diminta kembali ke tanah kelahirannya.

"Jangan sekali-kali kamu berani menjalin hubungan dengan perempuan berdarah penjajah itu!"

Kejadian masa lampau telah mengeraskan hati sang bapak yang menganggap Yudha mengkhianati kakek moyangnya sendiri.

Merasa lelah dikekang aturan keluarga, Yudha memilih meninggalkan rumah. Dia memilih jalannya sendiri dengan menyusul Jade yang telah lebih dulu pulang ke Belanda.

Berbeda dengan orang tua Yudha, keluarga Jade justru sangat terbuka dengan kedatangannya. Sambutan yang ramah diterima begitu dia mengenalkan diri sebagai kekasih Jade. Hal ini yang akhirnya membuat Yudha mempertimbangkan untuk tetap menikahi Jade yang kadung dia cintai.

Orang tua Jade tidak keberatan dengan keputusan puteri mereka. Soal restu orang tua Yudha, mereka mempercayakan semuanya pada dua anak muda yang sedang dimabuk asmara itu. Terkesan tidak peduli, tapi Yudha melihatnya sebagai sebuah bentuk kepercayaan.

Rintangan tak berhenti di situ. Agama yang mereka anut berbeda. Namun, Jade tidak ingin mempersulit. Dia menjadikan semua yang ada antara dirinya dan Yudha sesederhana mungkin. Seperti yang dikatakan di awal, Yudha tidak jatuh cinta sendirian. Jade menawarkan cinta yang sama besarnya. Bahkan mungkin lebih besar dengan membuktikan bahwa dirinya mau datang jauh-jauh ke Indonesia dan tidak pergi meski sudah ditolak mentah-mentah oleh keluarga Yudha. Jade bersedia ikut bersama Yudha, dengan syarat tidak mau berpindah agama sebelum mereka benar-benar resmi menikah. Bukan karena tak percaya, dia dan keluarganya hanya ingin berjaga-jaga.

Setelah melalui banyak pertimbangan, mereka memutuskan menikah di Belanda. Satu keputusan besar yang Yudha sesali hingga hari ini. Bukan karena dia tidak mencintai Jade, melainkan karena pernikahan tanpa restu orang tua itu berbuntut panjang dan berdampak ke anak mereka nantinya.

Satu bulan setelah pernikahan, Yudha mengajak Jade kembali ke Indonesia untuk memulai hidup baru. Mereka tinggal di rumah yang Yudha sewa dengan sisa uang di tabungannya, sambil Yudha bekerja di sebuah perusahaan minyak. Dan di bulan kedua pernikahan, Jade mengandung buah hati mereka tepat seminggu setelah dirinya bersyahadat. Pernikahan yang tampak begitu indah di awal, akan tetapi menjadi petaka pada akhirnya.

Kehamilan Jade mengundang murka kedua orang tua Yudha yang entah dari mana bisa mendengar kabar puteranya. Walau sebenarnya bukan hal yang aneh juga karena orang tua Yudha adalah orang yang cukup berpengaruh dan punya banyak relasi di mana-mana.

Di usia kehamilan Jade yang memasuki bulan kedelapan, Yudha menerima sebuah ancaman yang bunyinya, "Tinggalkan perempuan itu atau anak kalian akan diambil paksa dan berakhir di jalanan!"

Dengan keluasan hati, Jade bisa menerima penolakan mertuanya. Namun, satu ancaman itu membuatnya sangat ketakutan. Stres berat mempengaruhi kehamilannya. Kesehatan fisik dan mentalnya terganggu. Tekanan darahnya sering tak terkontrol, mengakibatkan hanya sang bayi yang bisa diselamatkan saat hari persalinan tiba.

Lihat selengkapnya