Terik matahari, hingga rok batik dan kebaya yang membatasi gerak, tak satu pun mampu menghalangi Laksmi. Dari acara wisuda, Laksmi memilih berkunjung ke panti. Dia bisa sedikit lebih tenang meninggalkan Pandu karena kini sudah ada Yudha yang menjaganya. Toh, nantinya dia dan Pandu juga akan berpisah. Laksmi merasa harus membiasakan diri.
Di ambang pintu utama panti, Laksmi mengucap salam. Dari dalam, Dwita menjawabnya, menghampiri asal suara untuk melihat siapa yang datang, walau sebenarnya Dwita sudah hafal suara itu.
"Ibu...."
Laksmi memeluk Dwita tanpa permisi. Dwita yang mengerti perasaan Laksmi pun membalas pelukan itu tanpa bertanya apa-apa. Dwita tahu, Laksmi hanya butuh tempat bersandar saat dunia sedang hancur-hancurnya.
"Duduk dulu," titah Dwita setelah pelukan terlepas. "Ibu buatkan minum, ya? Mau sekalian makan?" tawarnya.
Laksmi menaruh tas kecil yang dia bawa di atas meja, lalu tangannya menahan tangan Dwita. "Enggak usah, Bu," ujarnya.
"Gimana acaranya? Lancar?" tanya Dwita.
Laksmi mengangguk dan bergumam, "Lancar, Bu."
"Terus Pandu sama siapa sekarang?"
"Ada Mas Yudha yang jaga."
"Oh ya, Ibu lupa."
Satu senyuman terlukis di wajah Laksmi. Sejak Pandu kecil, Dwita selalu melihat anak itu kemana-mana berdua bersama ibunya. Wajar kalau hari ini lupa sudah ada Yudha. Seperti halnya semalam saat Laksmi shalat di mushala rumah sakit. Doanya menjadi tidak khusyuk karena terus teringat Pandu yang dia tinggalkan. Laksmi terburu-buru kembali dan ketika sampai di ruang tunggu, dia baru sadar kalau ada Yudha yang duduk di sana. Akhirnya, dia putuskan untuk kembali lagi ke mushala dan menghabiskan malam di sana.
Aneh rasanya karena selama hampir dua puluh tiga tahun, Laksmi tak pernah membiarkan Pandu berjalan sendirian.
Saat ini pun sebenarnya Pandu tidak dibiarkan sendirian. Ada Yudha di sana. Entahlah, Laksmi hanya masih belum terbiasa. Atau mungkin karena kali ini dialah yang berjalan sendirian?
"Laksmi, apa pun yang jadi keputusan kalian nanti, pulanglah ke sini kapan pun kamu mau."
Kini, senyuman itu mengembang lebih lebar.
"Kalian ngapain di situ?" tegur Dwita saat menyadari ada mata-mata yang mengintip dari balik pintu. Pemilik tiga pasang mata itu pun menampakkan wujudnya. Kaki-kaki kecil mereka yang berjalan mendekat seraya kepala ditundukkan, mengundang tawa Laksmi.
"Maaf, Ibu. Tadi kita dengar suara Ibu Laksmi datang. Jadi, kita penasaran itu beneran Ibu Laksmi atau bukan," aku salah satu dari mereka.
Sambil terkekeh, Laksmi bertanya, "Memangnya kenapa kalau Ibu yang datang? Kalian mau apa?"
"Kita mau ikut Ibu ke rumah sakit, jenguk Kak Pandu," jawab mereka polos.