Matahari mulai turun, namun belum terbenam. Laksmi membuka pintu kamar rawat Pandu, menengok ke kanan dan ke kiri, tapi sosok yang dicari tak tertangkap netra. Dia berjalan menyusuri lorong setelah menutup kembali pintu kamar rawat Pandu. Laksmi memperhatikan satu per satu, siapa tahu yang dia cari ada di antara mereka yang berlalu-lalang. Rupanya nihil.
Langkahnya berlanjut menapaki ubin-ubin berwarna putih dan berhenti di sebuah lorong sunyi. Dari tempatnya berdiri, Laksmi menatap seseorang yang kini duduk di sebuah bangku sambil memandangi layar ponsel. Meski sudah perlahan menghampiri, seseorang itu tak juga menyadari kehadiran Laksmi saking fokusnya dia menatap layar kecil di tangannya. Saat Laksmi mengeluarkan suara, barulah dia terperanjat.
"Maaf kalau tadi Pandu menyinggung perasaan Mas Yudha, ya."
Laki-laki itu tersenyum. "Bicara apa kamu ini, Laksmi. Pandu itu anakku, mana mungkin aku tersinggung."
Benar juga. Jangankan Yudha yang ayah kandungnya, Laksmi yang bukan ibu kandungnya saja rasanya tak pernah sekali pun tersinggung.
"Jadi, bagaimana setelah ini, Mas? Maksud aku ... kita sama-sama mau yang terbaik buat Pandu, kan?"
Tarikan dan embusan napas berat mengawali jawaban, "Jujur, aku bingung dan ini berat buatku."
Satu alis Laksmi terangkat. "Kenapa berat?" tanyanya.
"Aku enggak mau jadi egois. Aku mungkin bisa bawa dia ke Singapura. Ada adiknya Jade juga yang bisa menjaga di sana, tapi aku juga enggak bisa memisahkan kamu sama Pandu gitu aja. Aku lihat sendiri bagaimana sayangnya dia ke kamu."
Sebelum Yudha melanjutkan kalimatnya, Laksmi menyangkal, "Mas Yudha bukan egois. Aku paham. Kalau aku yang jadi ibu kandungnya Pandu pun, aku pasti ambil keputusan itu. Paling penting, kan, Pandu selamat dulu."
"Ya, kamu benar, Laksmi. Tapi, kamu yang sudah membesarkan dia selama ini. Kamu yang mendidik dia, memenuhi tangki cintanya, bahkan mencukupi semua kebutuhan Pandu karena aku cuma melakukan itu sampai usianya dua tahun. Rasanya sangat berdosa kalau setelah Pandu besar, aku justru mengambilnya dari kamu."
Mendengar itu, Laksmi menggelengkan kepala.