Ibu Tanpa Rahim

Nur Azizah
Chapter #20

BAB 20 : Tiba di Babak Terakhir (End)

Semerbak aroma bunga tabur menyeruak di atas tanah yang basah terguyur hujan semalam. Tiga orang berpakaian serba hitam berjongkok di sisi sebuah papan bertuliskan satu nama. Di sekeliling mereka, pemakaman tampak sepi peziarah.

Guntur melepas kacamata hitamnya dan mulai memimpin doa untuk sang ibunda sebelum pulang. Sementara itu, tangan Laksmi dan Sita turut menengadah seraya mengaminkan.

Sepulang dari makam, Laksmi mendatangi indekos untuk mengemas barang-barangnya yang akan dipindah ke panti. Dia sudah memutuskan untuk berhenti menjadi penjaga indekos dan memilih kembali ke panti bersama Dwita dan anak-anak di sana.

Tangan Laksmi mengemas barang-barang dengan berat hati. Banyak barang Pandu yang tidak terbawa, yang juga turut dia kemas bersama barang-barangnya. Satu foto terakhir ketika di rumah sakit yang kini sudah berbingkai, ditatapnya dalam-dalam. Diusapnya lembut foto itu, kemudian ponsel di atas kasur dia raih.

Ada keinginan dalam diri untuk menghubungi Pandu dan menanyakan kabarnya. Namun, niat itu segera Laksmi urungkan karena tak ingin mengganggu. Dia sadar, Yudha telah menanti lama untuk bisa bersama Pandu lagi dan inilah saatnya. Biarlah Pandu belajar beradaptasi dengan lingkungan barunya dulu. Pandu harus belajar membiasakan diri dengan kehadiran Yudha dalam hidupnya sekarang. Selain itu, Pandu juga harus fokus pada kesehatannya di sana. Laksmi tidak ingin niat baik Yudha untuk memberikan pengobatan terbaik serta mendonorkan satu ginjalnya jadi gagal hanya karena dirinya mengganggu fokus dan pikiran Pandu.

Satu kardus besar berisi barang-barang yang telah dikemas akhirnya dikeluarkan dari kamar. Untuk terakhir kalinya, Laksmi menatap sudut-sudut kamar sebelum benar-benar menutup dan mengunci pintunya.

Kepingan-kepingan memori dari mulai Pandu masih kecil hingga hari terakhir Pandu tinggal di kamar itu mulai bermunculan.

Laksmi tersenyum saat melihat bayangan dirinya menggendong Pandu kecil ketika pertama kali datang, juga mengajari Pandu kecil membaca dan berhitung sebelum masuk sekolah dasar. Senyumnya kian lebar saat bayangan Pandu kecil pulang dari sekolah dengan seragam merah-putihnya membawa piala muncul seperti transisi dalam sebuah video. Lalu, Laksmi termenung melihat bayangan Pandu yang mulai beranjak remaja tertidur masih mengenakan seragam, menunggunya pulang dari warung kopi. Setelah itu, ada Pandu yang sudah lebih dewasa tengah melompat-lompat kegirangan saat hari pertama diterima bekerja di bengkel sekaligus diterima di sebuah perguruan tinggi.

Bayangan-bayangan itu terus bermunculan seolah tak mengizinkan Laksmi menarik napas barang sebentar.

Kini, Laksmi menatap kosong bayangan dirinya yang tengah memeluk Pandu sepulang dari rumah sakit, sesaat setelah vonis dokter dibacakan. Air matanya kemudian menitik menyaksikan bayangan dirinya memeluk Pandu di lantai saat anak itu bilang semuanya gelap. Dan terakhir, Laksmi mengusap air mata di pipinya setelah melihat bayangan Pandu yang duduk di atas kasur dengan sarung dan pecinya sambil tangannya memegang toga. Laksmi ingat persis, senyum Pandu merekah kala itu.

Kilas balik pun berhenti. Laksmi menutup perlahan pintu kamar bersejarah dengan satu harapan.

Jika orang-orang bilang setiap tempat bisa menangkap dan menyerap energi seseorang, Laksmi berharap energi kasihnya dan Pandu kelak akan menyapa siapa pun yang menempati kamar itu.

Sejak kepindahannya ke panti, Laksmi masih sering berkunjung ke indekos, hanya sekedar membawakan makanan untuk Laras, Arimbi, Anjani, dan Nadia yang masih tinggal di sana. Dia menikmati kehidupan barunya di panti, meski harus kembali dalam kesendirian yang samar di mata orang lain.

Guntur, Sita, maupun Wira, mereka juga masih menjadi support system panti. Tak ada yang berubah selain mereka yang jadi jarang berkunjung karena kesibukan masing-masing.

Tak masalah. Sering atau tidaknya mereka datang ke panti tidak akan mengubah apa pun bahwa kehadiran mereka selalu diterima sebagai bagian dari keluarga besar panti.

"Mbak, saya punya kabar baik," ujar Sita pada Laksmi di beranda panti, setelah cukup lama tidak berkunjung.

Lihat selengkapnya