Pesan itu masuk ketika Sukma sedang menghitung berapa halte lagi sebelum ia harus turun.
Bu Sukma, maaf, untuk kontrakan bulan depan tidak bisa diperpanjang, ya. Anak saya akan menempati rumahnya. Masa sewanya berakhir tiga puluh hari lagi. Nanti kita bicarakan penyerahannya.
Bus mengerem. Bahu Sukma membentur lengan perempuan di sampingnya, dan ia buru-buru meminta maaf. Ponselnya hampir terlepas dari tangan.
Ia membaca pesan itu sekali lagi.
Di luar jendela, sebuah toko kasur memajang tulisan CICILAN RINGAN. Dua orang sedang mengangkat kasur berlapis plastik ke bak mobil. Sukma memperhatikan mereka sampai bus bergerak dan toko itu hilang dari pandangan.
Tiga puluh hari.
Ia membuka kalender di ponsel. Ibu pemilik kontrakan tidak salah. Masa sewa memang berakhir pada tanggal yang disebutkan. Sukma sudah beberapa kali berniat menanyakan perpanjangan, tetapi selalu menunggu uang terkumpul lebih banyak. Tahun sebelumnya, pembicaraan itu tidak memerlukan waktu lama. Ia mengirim uang, menerima kuitansi, lalu kembali menjalani hari seperti biasa.
Kali ini ada orang lain yang akan tinggal di sana.
Jempolnya mengetik, Tidak bisa ditambah satu bulan, Bu?
Ia membaca kalimat itu, lalu menghapusnya.
Bukan karena pertanyaannya tidak boleh diajukan. Ia hanya belum siap jika jawabannya tidak.
“Turun mana, Mbak?” tanya perempuan di sebelahnya.
Sukma mendongak. Halte tujuannya sudah terlihat.
“Oh. Ini. Maaf, Bu.”
Ia berdiri tergesa, menggeser tas ke depan tubuh, lalu menyelinap di antara penumpang. Di pintu bus, ia baru sadar telah memasukkan ponsel ke saku luar tas yang ritsletingnya rusak. Ia memindahkannya sebelum turun.
Udara malam menempel lembap di leher. Dari tempatnya berdiri, Sukma bisa melihat papan minimarket di seberang jalan. Ia mengeluarkan daftar belanja dari percakapan dengan ibunya: telur, sabun cuci, roti untuk Ihsan.
Ada pesan tambahan dari Darma.
Kak, kopi habis.
Sukma menatapnya sebentar. Tidak ada merek, tidak ada pertanyaan apakah ia masih di luar. Adiknya tahu Sukma biasanya mampir belanja dalam perjalanan pulang.
Ia menyeberang setelah arus sepeda motor merenggang.
Pintu minimarket terbuka dengan bunyi pendek. Udara dingin mengenai wajahnya, membawa bau lantai yang baru dipel. Sukma mengambil keranjang dan berdiri sebentar di dekat rak promosi, mencoba mengingat barang pertama.
Telur.
Ia berjalan ke belakang, memilih kemasan kecil, lalu memeriksa setiap butir melalui plastik bening. Satu retak halus. Ia mengembalikannya dan mengambil yang lain.
Di rak sebelah, ada puding kopi yang pernah dibeli Mirah untuk dimakan berdua saat istirahat. Sukma mengambil satu. Ia membalik kemasannya untuk melihat harga sebelum memasukkannya ke keranjang.
Ponsel bergetar di tangannya.
“Iya, Bu?”
“Kartu berobat Ibu di mana?”
“Di map biru. Laci paling bawah.”
“Sudah Ibu lihat. Nggak ada.”
Sukma menahan keranjang dengan siku. “Di bawah fotokopi ijazah Darma. Ada kantong plastik bening. Kartunya di situ.”
Terdengar suara laci ditarik, lalu gesekan kertas.
“Kamu pindahkan, ya?”
“Nggak, Bu. Kemarin habis dipakai, aku taruh di tempat biasa.”
“Ini yang biru tua?”
“Iya.”
Ada suara Ihsan di belakang, mengatakan sesuatu tentang penghapus. Yati menyuruhnya mencari di kolong meja.
Sukma memejamkan mata sebentar. Ia bisa membayangkan laci itu terbuka, ujung taplak tersangkut pada pegangannya, berkas yang akan ditumpuk di lantai. Kalau tidak dikembalikan sesuai urutan, besok ia perlu mencarinya lagi.