Ketika alarm berbunyi, Sukma sedang memandangi langit-langit.
Ia mematikannya sebelum Ihsan terbangun. Anak itu tidur menyamping, satu kaki keluar dari selimut, tangan kirinya menggenggam ujung sarung bantal. Semalam ia menunggu ibunya untuk menunjukkan gambar mobil yang bisa terbang. Sukma mengangguk pada bagian yang salah dan mendapat teguran.
“Itu bukan sayap, Bu. Tempat belanjanya.”
Sekarang gambar tersebut tergeletak di bawah buku tulis, dekat kasur. Mobil dengan ruang belanja lebih besar daripada ruang pengemudi.
Sukma bangkit pelan. Di luar kamar, Yati sudah menyalakan lampu dapur.
“Kok sudah bangun, Bu?”
“Mau masak nasinya. Beras baru jangan dicampur dulu sama yang lama.”
Sukma mengangguk, mengambil panci kecil untuk merebus telur. Beras yang dibelinya semalam sudah dipindahkan ke wadah dekat lemari. Kemasan kosongnya dilipat rapi. Tidak ada yang tersisa dari kejadian di depan minimarket selain rasa perih di bagian bawah matanya.
Semalam Yati masih terjaga ketika ia tiba. Namun Ihsan ingin memperlihatkan gambar, air minum perlu diisi, lalu Sukma harus menyetrika seragam yang belum kering benar. Setelah anaknya tidur, ia melihat ibunya sudah berbaring.
Ia tidak membangunkannya.
Kini Yati sedang mengiris bawang. Sukma berdiri di depan kompor, menunggu saat yang tepat untuk memulai.
“Bu, soal rumah—”
“Telurnya berapa? Kalau buat Darma juga, dia biasanya dua.”
Sukma melihat tiga butir telur di dalam panci.
“Dia bisa goreng nanti kalau kurang.”
Yati menoleh sebentar, lalu kembali mengiris bawang. “Ya sudah.”
Air mulai bergetar di dasar panci. Sukma mengecilkan api. Ia bisa melanjutkan kalimatnya sekarang, tetapi terbayang pertanyaan ibunya: pindah ke mana, uangnya cukup atau tidak, apakah pemilik rumah sudah dicoba dibujuk.
Ia belum memiliki satu pun jawaban.
“Nanti malam aku mau ngomong,” katanya.
“Soal apa?”
“Rumah ini.”
Yati meletakkan pisau. “Kenapa? Ada yang rusak lagi?”
“Bukan bocor. Nanti kalau sudah sama-sama senggang.”
Dari kamar, Ihsan memanggilnya. Sukma berbalik sebelum ibunya bertanya lebih jauh.
Anaknya duduk dengan rambut berdiri di bagian belakang. Ia mengangkat satu kaki.
“Kaos kakiku yang satu mana?”
“Belum mandi sudah cari kaos kaki?”
“Biar nanti nggak lupa.”
Sukma menahan senyum. Ia pernah mengatakan hal yang sama tentang menyiapkan barang sebelum tidur, hanya saja Ihsan memindahkan pelaksanaannya ke pagi hari.
“Mandi dulu. Ibu bantu cari setelah itu.”
Ia mengantar anaknya ke kamar mandi, lalu memeriksa jemuran kecil di samping rumah. Kaos kaki yang dicari terselip di balik handuk. Masih lembap. Sukma menggantungnya di depan kipas, lalu kembali ke dapur untuk mematikan kompor.
Ponselnya menyala di meja. Pesan pemilik kontrakan tentang kunjungan malam nanti belum dijawab.
Sukma mengetik sambil berdiri.
Bu, boleh lusa malam saja? Saya perlu bicara dengan keluarga dulu.
Ia membaca sekali sebelum mengirim. Tidak ada alasan pekerjaan atau janji lain yang dibuat-buat. Ia memang belum siap menerima pemilik rumah di ruang tamu sementara ibunya masih mengira ada genteng yang perlu diperbaiki.
Di dekat pintu belakang, kantong sampah sudah penuh. Sukma mengikat bagian atasnya dan memanggil Darma.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk pintu kamar adiknya.
“Dar, nanti bawa sampah ke depan, ya. Sekalian beli galon. Air minum tinggal sedikit.”
Suara dari dalam terdengar berat. “Iya. Sebentar.”
Sukma kembali melipat ujung kantong agar tidak bocor. Yati membawa piring-piring ke meja.
“Dia baru tidur menjelang pagi,” kata ibunya.
“Aku juga nggak minta sekarang, Bu. Nanti sebelum berangkat.”