Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #3

Bab 3 — Nanti Aku Ganti

Galon baru sudah terpasang ketika Sukma pulang.

Ia menekan keran dispenser, menunggu gelasnya penuh. Kantong sampah di dekat pintu belakang juga sudah tidak ada. Sebagai gantinya, Darma meninggalkan sandal dengan kedua ujung mengarah ke tempat berbeda.

Dari ruang depan terdengar suara Ihsan tertawa.

“Bukan begitu, Om. Nanti jatuh.”

“Kalau jatuh berarti tempat parkirnya salah.”

Sukma membawa gelasnya ke ambang pintu. Darma duduk bersila di lantai, membuat penyangga dari karton bekas. Mobil kertas Ihsan tersangkut miring di atasnya. Setiap kali Darma melepaskan tangan, mobil itu meluncur sampai menyentuh kaki meja.

“Ini bandara atau perosotan?” tanya Sukma.

“Masih uji coba,” jawab Darma. “Penumpang dilarang mengeluh.”

“Mana ada penumpangnya,” kata Ihsan.

“Bagus. Jadi belum ada korban.”

Ihsan tertawa lagi. Sukma menaruh gelasnya di meja, menjauh dari kertas yang berserakan.

“Galonnya sudah, ya. Makasih, Dar.”

“Iya. Sekalian tadi berangkat.”

Darma menekan lipatan karton dengan kuku ibu jarinya. Ada noda tinta hitam di sisi tangan yang belum hilang meski ia tampaknya sudah mandi.

“Pulang cepat?” tanya Sukma.

“Nanti balik lagi. Ada cetakan yang harus selesai malam ini.”

Sukma mengangguk. Ia sempat berharap bisa berbicara setelah makan. Sekarang ia perlu memanfaatkan waktu sebelum adiknya pergi.

Di dapur, Yati sedang memindahkan sayur ke mangkuk.

“Ihsan sudah makan, Bu?”

“Sudah. Kamu makan dulu. Nanti keburu dingin.”

Sukma mengganti baju, mencuci tangan, lalu duduk. Darma menyusul setelah menyuruh Ihsan menguji mobilnya sendiri. Mereka makan dengan suara televisi dari ruang depan. Yati beberapa kali menegur cucunya agar tidak berlari sambil memegang gunting, meskipun gunting itu sudah diletakkan sejak tadi.

Sukma menunggu Darma selesai mengambil nasi.

“Dar, uang bagian rumah bisa kamu kirim malam ini?”

Sendok adiknya berhenti di atas piring.

“Yang kemarin?”

“Iya.”

“Oh.” Darma mengambil potongan tempe. “Sebentar lagi, ya, Kak.”

“Sebentar lagi itu kapan?”

“Kalau bayaran yang ini masuk.”

Sukma menelan nasi sebelum menjawab. “Bukannya yang sebelumnya sudah masuk? Kamu bilang mau kirim habis itu.”

Darma memandang ke ruang depan. Ihsan sedang menaruh mobil kertas di bawah meja, tidak memperhatikan mereka.

“Sudah. Cuma kepakai dulu.”

“Kepakai buat apa?”

“Motor. Terus ada alat buat kerja.”

Yati menyodorkan mangkuk sayur ke arah Sukma. Ia mengambil sedikit, sekadar agar tangan ibunya tidak terus menggantung.

“Motornya kenapa?”

“Remnya harus dibenerin. Sekalian ganti oli.”

Sukma tahu rem itu memang bermasalah. Ia pernah mendengar bunyinya saat Darma berhenti di depan rumah. Perbaikan itu tidak bisa ditunda terus-menerus.

“Kalau alat?”

“Mouse. Yang lama suka lepas sambungannya. Susah kalau lagi rapikan desain.”

“Dua itu habis semua?”

Darma menyisihkan remah tempe dengan ujung sendok.

“Nggak semua. Ada buat yang lain juga.”

“Yang lain apa, Dar?”

“Patungan makan. Teman ulang tahun.”

Sukma menatap piringnya. Sambal merembes ke nasi, membuat bagian di dekat telur berubah merah. Ia mengaduknya sekali, lalu meletakkan sendok.

Lihat selengkapnya