Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #4

Bab 4 — Tempat untuk Semua Orang

“Rumah ini harus kita kosongkan akhir masa sewa.”

Sukma mengatakannya sebelum Yati sempat membawa piring terakhir ke dapur.

Ibunya berhenti di dekat meja. Darma, yang sedang mengambil ponsel dari saku, mengangkat kepala.

“Dikosongkan bagaimana?” tanya Yati.

“Tidak bisa diperpanjang. Mau ditempati anak pemiliknya.”

Sukma meletakkan ponsel di meja dengan percakapan yang sudah terbuka. Seharian ia memikirkan cara menyampaikan kabar itu. Ia bahkan sempat menulis kalimat pembuka di sela istirahat kerja. Pada akhirnya, hanya itu yang berhasil dikatakannya.

Yati menaruh piring dan mengambil ponsel. Ia menjauhkannya sedikit dari wajah, membaca dengan bibir bergerak.

“Kapan dikirimnya?”

“Kemarin lusa, Bu.”

“Kok baru bilang?”

“Aku mau cari gambaran tempat lain dulu.”

“Sudah dapat?”

“Belum.”

Yati menatapnya. Sukma menahan keinginan menjelaskan seluruh panggilan telepon yang tidak menghasilkan apa-apa. Pertanyaan ibunya sederhana. Jawabannya memang belum.

Darma mengulurkan tangan meminta ponsel. Yati menyerahkannya, lalu duduk di kursi yang tadi dipakai makan.

“Jadi yang mau kamu bicarakan dari kemarin itu ini?”

Sukma mengangguk.

“Ibu kira ada yang harus dibetulkan.”

“Maaf. Aku terlalu lama bilangnya.”

Di ruang depan, Ihsan sedang membetulkan posisi antena mainan pada mobil kertasnya. Ia menoleh ketika percakapan berhenti.

“Kita mau pergi, Bu?”

Sukma menggeser kursi di sampingnya. “Sini sebentar, San.”

Anaknya datang membawa mobil itu. Sukma membiarkannya berdiri di antara kedua lututnya.

“Kita harus cari rumah sewa yang lain. Tapi bukan pindah malam ini.”

“Kasurnya ikut?”

“Ikut.”

“Mobilku?”

“Ikut juga.”

Ihsan melihat mainan di tangannya. “Sekolahnya?”

“Untuk sekarang sekolah seperti biasa. Ibu sedang cari tempat yang masih bisa buat kamu sekolah di sana.”

Anaknya mengangguk, lalu naik ke kursi. Ia menaruh mobil di pangkuan, tidak kembali ke ruang depan.

Darma menggeser layar ponsel Sukma.

“Besok orangnya mau datang?”

“Jam tujuh.”

“Coba bicara langsung,” kata Yati. “Siapa tahu masih bisa diperpanjang sebentar. Kita kan nggak pernah bikin masalah.”

“Bisa kita tanyakan. Tapi jangan sampai menunggu jawabannya baru cari tempat.”

“Memangnya anaknya harus masuk bulan depan?”

“Katanya setelah masa sewa kita habis. Itu yang aku tahu.”

Yati menarik taplak yang miring, lalu meratakannya dengan telapak tangan. “Mungkin dia mau menaikkan harga.”

Sukma menggeleng. “Belum ada omongan begitu, Bu. Pesannya bilang mau dipakai sendiri.”

Ia mengambil kembali ponselnya. Ada dorongan untuk langsung menelepon pemilik rumah dan meminta ibunya mendengarkan. Namun kunjungan sudah disepakati. Malam ini yang perlu mereka bicarakan adalah tempat tinggal setelahnya.

“Aku sudah lihat beberapa iklan,” katanya. “Yang dekat sekolah dan cukup buat kita, bayarnya kebanyakan langsung setahun. Ada yang bulanan, tapi kecil.”

“Sekecil apa?” tanya Darma.

“Satu kamar. Ruang depan sedikit.”

“Ruang depan bisa dipakai tidur.”

“Terus kalau ada orang datang?” tanya Yati.

Lihat selengkapnya