Rumah itu mempunyai dua kamar, kamar mandi di dalam, dan tempat menjemur yang tidak terlihat dari ruang tamu.
Sukma berdiri di ambang pintunya, hampir tidak percaya ada begitu banyak hal yang sesuai dengan catatan di bukunya.
“Airnya boleh dicoba, Bu,” kata lelaki yang membukakan pintu. “Kerannya agak keras. Tapi jalan.”
Sukma memutar keran di dekat dapur. Air mengalir ke bak dengan suara berongga. Ia menunggu sebentar, memperhatikan warnanya, lalu menutupnya kembali.
Ia datang langsung setelah jam kerja berakhir. Pagi tadi, pemilik rumah menjawab telepon dan membenarkan harga pada foto. Rumah masih kosong, pembayaran awal dapat dilakukan untuk beberapa bulan, dan ia bersedia menunggu Sukma sore ini. Semuanya terdengar cukup baik sampai Sukma memeriksa nomor telepon itu sekali lagi untuk memastikan dirinya tidak salah menghubungi orang.
Darma sudah mengabarkan tidak bisa menyusul. Pekerjaannya belum selesai.
Sukma datang sendiri dengan ojek dari kantor. Motor melewati beberapa belokan yang tidak dikenalnya, sebuah lapangan kecil, lalu gang panjang dengan deretan rumah rapat. Di tengah perjalanan, ia berhenti memperhatikan arah karena Yati menelepon untuk memastikan ia pulang sebelum pemilik kontrakan lama datang.
Sekarang baru terasa bahwa perjalanan tadi cukup jauh dari jalan yang biasa dilaluinya.
“Kalau lemari besar masuk lewat sini, bisa?” tanyanya.
Lelaki itu menunjuk daun pintu. “Kalau perlu dilepas dulu pintunya. Pernah ada yang bawa lemari dua pintu.”
Sukma mengambil foto kamar depan. Cahaya masih masuk dari jendela yang menghadap gang. Tempat tidur Yati mungkin muat dengan lemari di sebelahnya. Kamar belakang bisa dipakai dirinya dan Ihsan.
Darma dapat tidur di ruang depan. Tidak ideal, tetapi tadi malam adiknya sendiri yang menyebut kemungkinan itu.
Untuk pertama kalinya sejak menerima pesan tentang rumah, Sukma bisa membayangkan mereka memindahkan barang ke tempat tertentu. Bukan sekadar memasukkannya ke kardus.
Ia memotret kamar mandi untuk ibunya, kemudian bagian depan yang cukup untuk satu motor. Pada tembok dekat pintu ada bekas stiker berbentuk buah. Sebuah pisang masih menempel setengah.
Ihsan pasti akan mencoba mencabutnya.
Sukma tersenyum sendiri.
“Anaknya berapa, Bu?”
“Satu. Laki-laki.”
“Di sini banyak anak. Sore suka main di lapangan tadi.”
Sukma mengangguk. Ia mengirim beberapa foto kepada Yati dan Darma, lalu membuka halaman pertanyaan di buku kecilnya.
Biaya air dijelaskan. Listrik menggunakan meter sendiri. Atap dapur pernah bocor, tetapi pemilik menunjukkan bagian yang sudah diperbaiki. Sukma mencatat bahwa ia perlu melihatnya lagi jika hujan, bukan menganggap bekas perbaikan itu jaminan tidak akan bocor.
“Kalau nanti cocok, kita buat kuitansi sama catatan sewanya, Bu,” kata lelaki itu. “Jangan kirim uang sebelum ketemu saya lagi.”
“Baik, Pak. Saya mau periksa jalan ke sekolah anak dulu.”
“Sekolahnya di mana?”
Sukma menyebut kawasan sekolah Ihsan.
“Oh. Itu seberang jalan besar. Kalau naik motor bisa lewat belakang. Nanti keluar dekat bengkel.”
“Kalau jalan kaki ke angkot?”
Lelaki itu berpikir sebentar.
“Ke depan dulu. Biasanya orang sini naik motor.”
◆
Sukma memilih berjalan keluar.
Ia perlu tahu seperti apa jalan yang nanti akan dilalui Yati bersama Ihsan, bukan hanya apakah motor bisa masuk. Pemilik rumah menunjukkan arah menuju pangkalan angkot, lalu kembali mengunci pintu.
Di belokan pertama, Sukma berhenti untuk mengambil foto patokan. Sebuah warung dengan tirai plastik. Setelah itu tempat cuci motor, jembatan kecil, lalu percabangan tanpa papan nama.
Ia membuka peta. Jalur yang disarankan untuk berjalan kaki memotong deretan bangunan di sebelah kanan.
“Maaf, Bu, kalau lewat sini tembus jalan besar?” tanyanya kepada perempuan yang sedang menyapu teras.
“Dulu. Sekarang dipagar.”