Sukma belum sempat membalas pesan Herman ketika seseorang mengetuk pintu.
Yati keluar dari dapur sambil mengusap tangan pada sisi bajunya. Ihsan berlari lebih dahulu, tetapi Sukma menahannya sebelum membuka pintu.
“Tanya siapa dulu.”
“Siapa?” teriak Ihsan.
“Ibu yang punya rumah.”
Yati menatap Sukma. “Sudah datang.”
Sukma memasukkan ponsel ke tas, meski kalimat Herman masih tertinggal di kepalanya: Ihsan tinggal sama aku dulu saja.
Ia membuka pintu.
Perempuan pemilik kontrakan datang sendiri, membawa map plastik dan kantong berisi jeruk. Ia menolak ketika Sukma hendak membantunya membawa barang.
“Ringan, Bu. Ini jeruk buat anaknya.”
Ihsan yang berdiri di belakang Sukma langsung menoleh kepada neneknya, seolah membutuhkan kepastian bahwa jeruk itu benar-benar boleh diterima.
“Bilang terima kasih,” kata Yati.
“Terima kasih.”
Mereka duduk di ruang depan. Darma belum pulang dari percetakan. Yati menyuguhkan teh dan biskuit, lalu ikut duduk di ujung kursi. Sukma membuka buku catatan di pangkuannya.
“Saya minta maaf mendadak begini,” kata pemilik rumah. “Anak saya memang sudah lama bilang mau pindah ke sini. Baru minggu lalu dia memastikan.”
“Tidak apa-apa, Bu,” jawab Sukma. “Kami hanya ingin memastikan tanggal terakhirnya.”
Perempuan itu mengeluarkan salinan perjanjian sewa dari map. Ia menunjuk tanggal yang sama dengan catatan Sukma.
“Di tanggal ini rumah sudah kosong. Besoknya anak saya mulai masukkan barang.”
“Kalau kami perlu tambahan beberapa hari, apakah mungkin?” tanya Yati.
Perempuan itu tampak tidak nyaman. “Kalau satu atau dua hari, saya harus tanya anak saya. Tapi saya nggak berani janji, Bu. Dia juga sudah keluar dari tempat lamanya.”
Sukma menulis jawaban itu. Bukan perpanjangan. Hanya kemungkinan kecil yang tidak bisa dijadikan rencana.
“Untuk listrik dan air dihitung sampai hari terakhir?”
“Iya. Nanti kita catat meter bersama.”
“Kalau pengembalian uang jaminan?”
“Setelah dilihat kondisi rumah. Kalau tidak ada kerusakan di luar pemakaian biasa, saya kembalikan sesuai perjanjian.”
Yati segera menunjuk bekas lembap di dekat jendela. “Yang itu dari bocor tahun lalu, bukan kami.”
“Saya ingat, Bu. Itu sudah pernah difoto.”
Sukma mencatat lagi. Ia menanyakan lubang paku, cat, kunci cadangan, dan waktu pemeriksaan. Perempuan di hadapannya menjawab satu-satu tanpa terburu-buru.
Ketika Ihsan menjatuhkan satu jeruk yang sedang dipilihnya, buah itu menggelinding sampai ke bawah kursi tamu. Pemilik rumah membungkuk untuk melihat ke mana perginya.
“Jeruknya mau pindah duluan,” katanya.
Ihsan tertawa, lalu merangkak mengambilnya.
Percakapan itu begitu biasa sehingga Sukma hampir berharap salah satu jawaban akan berubah. Mungkin tanggalnya bisa ditarik. Mungkin anak pemilik rumah membatalkan rencana. Mungkin mereka boleh tinggal sampai menemukan tempat baru.
Tidak ada yang berubah.
Sebelum pulang, pemilik rumah berdiri di dekat pintu dan melihat ruang depan sekali lagi.
“Kalau Ibu dapat tempat lebih cepat, kabari saya. Tapi nggak perlu keluar sebelum waktunya.”
“Baik, Bu.”
“Saya juga tanya-tanya kalau ada kontrakan kosong di sekitar sini.”
“Terima kasih.”
Sukma mengantarnya sampai pagar. Ia tidak marah kepada perempuan itu. Justru itu membuat keadaan terasa lebih sulit: tidak ada orang jahat yang bisa dipersalahkan, hanya tanggal yang terus mendekat.
Saat masuk kembali, Yati sedang memasukkan jeruk ke mangkuk.
“Jadi memang harus keluar,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Rumah tadi sebenarnya sayang sekali dilepas.”