Formulir itu ditemukan Sukma di antara buku matematika dan selembar kertas bergambar dinosaurus.
Ia sedang mencari penggaris Ihsan ketika sudut kertas berwarna kuning terlihat dari dalam tas. Bagian atasnya bertuliskan Kegiatan Mengenal Lingkungan, diikuti tanggal kunjungan, daftar perlengkapan, dan kolom persetujuan orang tua.
Batas pengembaliannya kemarin.
Sukma membalik kertas itu, berharap ada tanggal lain di belakang. Tidak ada.
“Ihsan.”
Anaknya yang sedang menyisir rambut di depan cermin menjawab, “Iya?”
“Ini sudah kamu kasih ke Ibu?”
Ihsan menoleh. Sisirnya berhenti di atas kepala.
“Sudah.”
“Kapan?”
“Kemarin-kemarin.”
“Ditaruh di mana?”
“Di meja.”
Sukma berusaha mengingat tumpukan kertas di meja. Ada tagihan listrik, catatan rumah, dan brosur minimarket. Mungkin formulir itu pernah berada di sana. Mungkin ia sendiri yang memasukkannya ke tas agar tidak terkena air, lalu lupa menandatangani.
“Kamu ingatkan lagi?”
Ihsan menunduk, melanjutkan menyisir bagian yang sama. “Ibu bilang nanti.”
Jawaban itu tidak diucapkan untuk menyalahkan. Justru karena nadanya biasa, Sukma semakin sulit mengelak.
“Oh.” Ia merapikan formulir yang terlipat. “Iya. Berarti Ibu lupa.”
“Masih bisa, nggak?”
Sukma melihat jam. Mereka punya waktu kurang dari sepuluh menit sebelum harus berangkat.
“Ibu tanya gurumu sekarang.”
“Kalau nggak bisa, nggak apa-apa.”
Sukma sedang mencari nomor wali kelas ketika mendengar kalimat itu. Jempolnya berhenti di layar.
“Kamu mau ikut?”
Ihsan mengangkat bahu. “Teman-teman ikut.”
“Itu bukan jawaban.”
Anaknya memandangi sisir di tangannya. “Mau.”
“Kalau begitu bilang mau.”
“Tapi bayar.”
“Urusan bayar itu urusan orang dewasa.”
Ihsan tidak menjawab. Ia meletakkan sisir, lalu mengambil kaos kaki yang sudah disiapkan. Gerakannya terlalu tenang untuk anak yang biasanya mengeluh karena bagian tumit tidak tepat.
Sukma mengirim pesan kepada wali kelas, memperkenalkan diri dan meminta maaf karena terlambat mengembalikan formulir. Ia bertanya apakah Ihsan masih bisa mengikuti kegiatan dan bagaimana menyelesaikan pembayarannya jika masih diperbolehkan.
Pesan belum dibalas ketika mereka keluar.
Yati sedang menyiram tanaman dalam pot bekas cat di dekat pagar.
“Kok buru-buru?” tanyanya.
“Ada formulir sekolah yang kelupaan.”
“Yang kunjungan itu?”
Sukma berhenti. “Ibu tahu?”
“Ihsan pernah cerita mau lihat kebun. Ibu kira sudah kamu urus.”
Sukma memandang anaknya. Ihsan memasang tas dan pura-pura sibuk membetulkan tali.
“Lain kali kalau Ibu belum jawab, ingatkan lagi, ya.”
“Iya.”
“Tapi yang lupa tetap Ibu. Bukan salah kamu.”
Ihsan mengangguk tanpa menatapnya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Sukma beberapa kali memeriksa ponsel. Tidak ada balasan. Di depan gerbang, anak-anak berseragam berjalan berkelompok sambil membawa botol minum. Sukma menggenggam formulir yang belum ditandatangani.
“Bu, sudah,” kata Ihsan ketika melihat ibunya ikut masuk.