Pintu rumah itu terbuka tanpa bunyi berderit.
Sukma mendorongnya sedikit lebih lebar dan melihat ruang depan yang cukup untuk meja makan, lemari pendek, serta satu kasur jika Darma benar-benar bersedia tidur di sana. Cahaya sore masuk dari dua jendela. Tidak ada bau lembap. Lantainya juga tidak tampak baru dipoles hanya untuk menutupi retak.
“Dua kamar di belakang, Bu,” kata perempuan yang menunjukkan rumah. “Kamar mandinya di dalam. Air sumur, listrik sendiri.”
Sukma melepas sepatu dan masuk.
Rumah itu berada di jalan yang sudah dikenalnya. Dari sekolah Ihsan, perjalanan hanya membutuhkan satu kendaraan. Klinik tempat Yati berobat masih berada dalam kawasan yang sama. Untuk menuju kantor, Sukma tidak perlu menyeberangi jalan besar atau berganti angkutan dua kali.
Ia sudah mencoba rutenya sebelum datang.
Setelah rumah murah di ujung jalan, ia tidak lagi percaya pada jarak yang terlihat pendek di peta.
“Kalau motor, masuk lewat samping?”
“Bisa satu. Kalau dua, agak rapat.”
Sukma memotret bagian samping untuk Darma. Lorongnya cukup lebar, meskipun motor harus dipindahkan jika mereka hendak mengeluarkan barang dari dapur.
Kamar pertama memiliki jendela kecil dan ruang untuk tempat tidur Yati. Sukma membayangkan kotak obat di meja dekat dinding. Kamar kedua sedikit lebih sempit, tetapi kasur dirinya dan Ihsan bisa masuk. Lemari mereka mungkin harus diganti dengan rak kain atau diletakkan di luar.
Ia memotret kamar mandi. Lantainya tidak licin ketika disentuh dengan ujung sepatu. Ada pegangan handuk yang bisa dijangkau Yati tanpa membungkuk.
“Pernah banjir?” tanya Sukma.
“Jalan depan pernah tergenang kalau hujan besar, tapi air nggak masuk rumah. Bekasnya bisa Ibu lihat di pagar tetangga. Di dalam sini tidak ada.”
Perempuan itu tidak terdengar seperti sedang menjual kesempurnaan. Sukma justru lebih percaya karena ada hal yang diakuinya.
“Atap pernah bocor?”
“Kamar belakang, dua tahun lalu. Sudah ganti beberapa genteng. Kalau mau datang lagi waktu hujan, silakan, asal rumahnya belum diambil orang.”
Kalimat terakhir membuat Sukma menoleh.
“Sudah ada yang lihat?”
“Tadi siang ada pasangan. Mereka bilang mau kasih kabar besok.”
Sukma mengangguk dan melanjutkan pemeriksaan. Ia membuka jendela, mencoba keran, melihat meter listrik, lalu mencatat kerusakan kecil di bawah wastafel. Tidak ada yang langsung membuat rumah itu gugur.
Di teras, suara anak-anak terdengar dari ujung jalan. Salah satu dari mereka memanggil temannya dengan teriakan panjang. Sukma teringat pertanyaan Ihsan tentang tetap bermain dengan teman sekolahnya.
Di rumah ini, itu masih mungkin.
Perempuan pemilik rumah berdiri di dekat pintu sambil memegang kunci.
“Kalau cocok, sewanya dibayar setahun di depan,” katanya.
Sukma sudah membaca angka dalam iklan. Mendengarnya langsung tetap membuat jumlah itu terasa lebih besar.
“Ada uang jaminan?”
“Ada. Satu bulan sewa. Dikembalikan setelah selesai kalau tidak ada kerusakan atau tunggakan.”
“Biaya lain saat masuk?”
“Listrik diisi sendiri. Air ada iuran kebersihan pompa. Sampah bulanan. Sama biaya lingkungan, kecil.”
Sukma menuliskan semuanya.
“Boleh saya minta rinciannya lewat pesan? Termasuk apa yang jadi tanggung jawab pemilik dan penyewa.”
“Tentu.”
“Dan contoh perjanjian sewanya sebelum saya bayar?”
Perempuan itu mengangguk. “Saya kirim malam ini.”
Sukma melihat ruang depan sekali lagi. Ini rumah pertama yang tidak memaksanya memilih antara tempat tidur ibunya, sekolah anaknya, dan perjalanan kerja. Semua kebutuhan dasar itu bisa masuk.
Yang belum bisa masuk hanya uangnya.
◆
Di warung dekat rumah tersebut, Sukma memesan teh tawar agar boleh duduk sedikit lebih lama. Ia mengeluarkan buku catatan, kalkulator, serta rincian biaya yang baru dikirim pemilik rumah.
Harga sewa setahun.
Uang jaminan.
Biaya angkut.
Isi listrik, iuran lingkungan, dan kemungkinan mengganti kunci.