Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #9

Bab 9 — Semua Sudah Punya Tempat

Sukma memberi jawaban sebelum pemilik rumah sempat menagihnya.

Pukul tujuh lewat sedikit, setelah Ihsan berangkat sekolah bersama Yati, ia mengirim pesan bahwa dirinya tidak sanggup mengambil rumah dengan pembayaran setahun di muka. Ia berterima kasih karena diberi waktu membaca perjanjian dan meminta maaf karena tidak dapat melanjutkan.

Pesan itu dibaca hampir seketika.

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Baik, Bu. Terima kasih sudah memberi kepastian. Semoga segera mendapat tempat yang cocok.

Tidak ada kabar apakah pasangan lain sudah membayar. Tidak ada bujukan untuk meminjam atau menghabiskan tabungan. Rumah itu hanya kembali menjadi sebuah alamat di layar.

Sukma mengarsipkan percakapan agar tidak terus membukanya.

Ia lalu mengirim kabar kepada Yati dan Darma dalam grup keluarga.

Aku tidak ambil rumah yang kemarin. Biaya awalnya terlalu besar dan setelah dihitung tidak aman untuk kebutuhan bulanan. Kita harus siapkan pilihan sementara kalau sampai mendekati tanggal pindah belum ada rumah yang sesuai.

Yati membaca tanpa membalas. Darma mengirim tanda jempol hampir setengah jam kemudian.

Tidak ada yang bertanya apa yang dimaksud pilihan sementara.

Sukma menyimpan ponsel dan mulai bekerja.

◆

Malamnya, ia menempel selembar kertas pada dinding dekat meja makan.

Di bagian atas tertulis: Jika rumah belum ditemukan sampai seminggu sebelum pindah.

Di bawahnya, Sukma membuat beberapa kolom: orang, tempat sementara, barang, transportasi, dan biaya.

Darma baru pulang ketika kertas itu selesai ditempel. Ia berdiri di depannya sambil melepas jaket.

“Seperti jadwal piket,” katanya.

“Kalau jadwal piket, namamu paling banyak bolong.”

“Makanya jangan pakai sistem yang sudah terbukti gagal.”

Sukma hampir tertawa. “Makan dulu. Habis itu kita bahas.”

Yati keluar membawa tumis kangkung. Ia membaca judul kertas, lalu menoleh kepada Sukma.

“Kenapa harus seminggu sebelum pindah?”

“Supaya kita nggak baru bingung di hari terakhir.”

“Kita masih cari rumah, kan?”

“Masih. Ini cadangan.”

Yati mengangguk, tetapi wajahnya tidak berubah ringan.

Ihsan datang dengan topi biru masih terpasang meski kegiatan sekolah sudah selesai sejak siang. Ia mendapat stiker berbentuk daun dan menempelkannya pada bagian depan topi.

“Kenapa belum dilepas?” tanya Sukma.

“Biar Om Darma tahu ini bukan lap motor.”

Darma yang sedang mencuci tangan menjawab dari dapur, “Topi itu sekarang barang bukti.”

Mereka makan lebih dahulu. Ihsan menceritakan pohon yang akarnya muncul di atas tanah dan temannya yang salah membawa dua celana tetapi lupa membawa botol minum. Yati menyimpan satu potong tempe untuk Sukma ketika Darma hendak mengambilnya. Darma protes bahwa kakaknya sudah mendapat dua.

“Yang satu kecil,” kata Yati.

“Tempe juga dibela berdasarkan umur?”

“Berdasarkan siapa yang belanja.”

Percakapan ringan itu bertahan sampai piring hampir kosong. Sukma berharap dirinya tidak harus mengubah suasana, tetapi kertas di dinding tetap menunggu.

Ia membawa buku catatan ke meja.

“Kita mulai dari tempat sementara,” katanya. “Bukan berarti pasti dipakai. Aku cuma perlu tahu pilihannya benar-benar ada.”

Darma memiringkan kursinya agar dapat melihat kertas.

Yati melipat ujung tisu di pangkuan. “Adik Ibu kemarin telepon.”

Sukma menatapnya. “Bibi?”

“Iya. Dia dengar dari saudara yang lain soal rumah ini. Katanya kalau belum dapat tempat, Ibu bisa tinggal di rumahnya dulu.”

“Bibi bilang langsung ke Ibu?”

“Iya.”

“Untuk berapa lama?”

“Nggak disebut. Katanya sampai urusannya selesai.”

Sukma menulis Bibi—sudah menawarkan langsung pada kolom Yati. Ia tidak menulis kata pasti.

“Rumahnya ada kamar kosong?”

Lihat selengkapnya