Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #10

Bab 10 — Aku Belum Tahu

Yati masih memegang tumpukan piring ketika menjawab.

“Kamu, ya ikut Ihsan.”

Sukma tidak segera berkata apa-apa.

Darma bangkit dari lantai. “Atau sementara di tempat Mbak Mirah. Kupikir kalian sudah pernah bahas.”

“Belum.”

“Dekat kantor juga banyak kamar sewa, kan?”

“Aku belum punya kamar.”

Yati memindahkan piring ke satu tangan. “Tapi kamu pasti sudah lihat-lihat.”

“Melihat iklan bukan berarti punya tempat, Bu.”

Ihsan berdiri dari posisi jongkoknya dan menghampiri Sukma. Penggaris masih berada dalam genggamannya.

“Ibu sama aku saja.”

Sukma mengusap rambut anaknya. Ia ingin mengatakan iya, mereka pasti bersama, dan besok semuanya akan terasa lebih mudah. Kalimat itu sudah menjadi kebiasaan: menenangkan lebih dahulu, memikirkan caranya kemudian.

Namun tawaran Herman belum disepakati. Rumah yang mampu menampung mereka semua tidak terjangkau. Kamar sewa dekat kantor belum pernah ia lihat. Menjanjikan satu jawaban hanya akan memindahkan ketakutan malam ini ke hari lain.

“Ibu belum tahu kita akan tinggal di mana, San.”

Ihsan menatapnya. “Tapi aku tetap punya Ibu, kan?”

“Iya. Itu tidak berubah.”

“Kalau aku di rumah Ayah?”

“Ibu tetap ibumu.”

Ihsan menunduk melihat penggaris. “Aku nggak suka kalau nggak tahu.”

“Ibu juga nggak suka.”

Sukma menarik kursi untuknya. “Sekarang kamu simpan penggaris dan topimu dulu. Setelah itu sikat gigi. Besok kamu sekolah.”

“Aku boleh bawa stiker daunnya?”

“Boleh, asal jangan ditempel di seragam.”

Ihsan mengangguk. Ia berlari ke kamar, lalu kembali beberapa langkah untuk mengambil topi yang tertinggal di kursi. Tidak ada nasihat dewasa yang keluar dari mulutnya. Ia hanya membawa penggaris dan topi sambil mengeluh bahwa stiker di tasnya mudah lepas.

Setelah anak itu masuk kamar, Sukma kembali memandang ibunya dan Darma.

“Aku belum punya tempat,” katanya. “Bukan karena aku sudah punya rencana rahasia. Aku memang belum tahu.”

Darma menarik kursi, lalu duduk perlahan. “Kupikir kalau Ihsan sama Herman, kamu cari kamar dekat kantor.”

“Itu salah satu pilihan. Belum ada kamarnya, belum tahu biaya masuknya, dan belum tahu berapa lama aku bisa tinggal.”

“Kamu kan lebih gampang,” kata Yati. “Sendiri bisa di mana saja.”

Sukma merasa sesuatu dalam dadanya mengeras.

“Lebih gampang bukan berarti sudah ada, Bu.”

“Ibu bukan bilang kamu nggak perlu tempat.”

“Tapi dari tadi kita menghitung tempat semua orang. Nggak ada yang bertanya aku akan ke mana.”

Yati membawa piring ke dapur. Suara air mengalir terdengar beberapa detik. Sukma menunggu ibunya kembali, tidak ingin percakapan penting lagi-lagi berubah menjadi kalimat yang hanya didengar separuh.

Darma merapikan penggaris yang sudah tidak ada di tangannya, baru menyadari benda itu dibawa Ihsan. Tangannya lalu berhenti di atas lutut.

“Aku benar-benar mengira kamu sudah ngomong sama Mbak Mirah,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena kalian dekat. Waktu kamu pulang terlambat beberapa hari lalu, kupikir dari tempatnya.”

“Aku memang ke rumahnya. Sekali. Aku nggak minta tinggal.”

Darma mengangguk. “Ya, aku salah mengira.”

Pengakuan itu sederhana dan tidak menyelesaikan apa pun. Namun Sukma tetap mendengarnya.

Yati kembali tanpa piring. Ia mengeringkan tangan dengan lap.

Lihat selengkapnya