Ibu yang Tak Punya Rumah

Jane Lestari
Chapter #11

Bab 11 — Uang yang Punya Nama

Darma mengirim uang sebelum Sukma sempat menanyakannya.

Nominalnya tidak sebesar bagian yang tertunda, tetapi cukup untuk membuat notifikasi bank terasa seperti sesuatu yang nyata, bukan janji.

Di bawah bukti transfer, Darma menulis:

Ini dulu. Sisanya setelah pembayaran cetakan masuk. Galon kemarin tetap dihitung, ya.

Sukma memeriksa saldo, lalu membalas:

Sudah masuk. Aku catat. Malam ini kita bahas sisanya dan rencana pindah.

Ia tidak menambahkan ucapan panjang tentang tanggung jawab. Tidak juga menganggap transfer sebagian itu menutup seluruh kewajiban.

Pada jam istirahat, Sukma membuat daftar baru di buku catatannya.

Bagian pertama diberi nama Ihsan: uang sekolah, makanan, transportasi, dan kebutuhan yang dibayar melalui dukungan Herman. Bagian kedua Ibu: obat rutin, pemeriksaan, makanan, dan ongkos berobat. Bagian ketiga rumah bersama: listrik, air, belanja pokok, angkut, kardus, serta penyimpanan barang jika diperlukan.

Di bawahnya ia menulis Darma: bagian rumah yang sudah disepakati, pembayaran yang diterima, galon, dan sisa.

Terakhir, ia menulis namanya sendiri.

Sukma: ongkos kerja, tempat sementara, dana darurat.

Ia memandangi baris itu cukup lama. Selama ini namanya lebih sering muncul sebagai sumber pembayaran daripada tujuan penggunaan uang.

Mirah duduk di sampingnya sambil mengupas jeruk.

“Kamu bikin pembukuan negara?”

“Negaranya kecil. Utangnya banyak.”

“Berarti menteri keuangannya jangan lupa makan.”

Mirah meletakkan dua bagian jeruk di tutup kotak makan Sukma. Sukma ingin menolak karena masih memiliki bekal, tetapi ia mengambil satu.

“Manis?” tanya Mirah.

“Lumayan.”

“Berarti bukan jeruk rapat. Kalau jeruk rapat biasanya kelihatan bagus, pas dibuka asam semua.”

Sukma tertawa kecil. Ia menutup bukunya agar sari jeruk tidak menetes ke angka-angka.

◆

Malam itu, kertas di dinding sudah memiliki beberapa jawaban baru.

Bibi bersedia menerima Yati selama satu bulan lebih dahulu. Jika keadaan belum selesai, mereka akan membicarakannya lagi. Sukma dan Ihsan boleh ikut beberapa malam dalam keadaan darurat, tetapi kamar hanya satu dan rumah itu juga dipakai Bibi beserta suaminya. Untuk pemeriksaan rutin, Bibi bisa mengantar pada hari tertentu; di luar itu Sukma atau Darma perlu mengatur kendaraan.

Teman Darma mengizinkannya memakai ruang depan selama dua minggu. Setelah itu, Darma harus mencari kamar atau menyepakati ulang. Pemilik percetakan belum memberi jawaban tentang penitipan barang.

Pilihan-pilihan itu tidak sempurna, tetapi kini memiliki batas.

Untuk dirinya sendiri, Sukma sudah menghubungi tiga kamar sewa dekat kantor. Satu hanya menerima penghuni laki-laki. Satu tidak mengizinkan anak menginap, bahkan pada akhir pekan. Kamar ketiga dapat dilihat dua hari lagi, tetapi biaya awalnya belum termasuk listrik dan tidak ada tempat menyimpan barang.

Ia menuliskan semua itu pada baris namanya, bukan menyembunyikannya di halaman belakang.

Yati membaca bagian tersebut sambil berdiri.

“Kenapa cari yang Ihsan nggak boleh menginap?”

“Aku baru tahu setelah tanya.”

“Kalau anak sendiri nggak boleh datang, jangan diambil.”

“Aku juga belum mengambil, Bu.”

“Cari rumah petak saja. Jangan kamar.”

“Rumah petak yang dekat kantor lebih mahal. Kalau jauh, ongkosnya bertambah.”

Yati hendak menjawab, tetapi berhenti ketika melihat angka biaya awal yang dicatat Sukma.

“Sebesar ini cuma untuk satu kamar?”

“Makanya aku perlu dana tempatku tidak dianggap sisa setelah semua kebutuhan lain.”

Darma datang membawa bukti percakapan dengan temannya. Tawaran ruang depan sudah dikonfirmasi untuk dua minggu. Ia meletakkan ponsel di meja agar Sukma dapat membacanya sendiri.

“Aku juga tanya kamar dekat percetakan,” katanya. “Ada satu, tapi kamar mandinya dipakai bersama.”

“Biaya masuk?”

Darma menyebut angka. Jauh lebih rendah daripada kamar yang dicari Sukma, tetapi perjalanan dari sana ke kantor Sukma akan terlalu panjang.

“Kalau perlu, kamu bisa di situ, Kak. Aku tetap sama temanku.”

Lihat selengkapnya