“Aku bukan baru sekarang keberatan.”
Sukma menjawab setelah cukup lama hingga Darma hampir menarik kembali pertanyaannya.
“Aku pernah bilang jangan pakai uang rumah sebelum mengabari. Pernah minta bagianmu dikirim setelah dibayar. Pernah bilang aku nggak bisa menutup pengeluaran tambahan.”
Darma menatap buku di antara mereka. “Tapi akhirnya selalu beres.”
“Itu masalahnya.”
“Kalau beres, aku pikir memang masih bisa.”
“Karena kalau aku bilang nggak bisa, lalu tetap ada listrik yang harus dibayar atau kebutuhan yang harus dibeli, aku cari cara.”
Yati menggeser piring pepaya agar tidak terlalu dekat dengan ujung meja. “Dulu kamu juga bilang nggak apa-apa.”
“Aku bilang begitu supaya pembicaraannya selesai.”
“Mana kami tahu kalau sebenarnya kamu marah?”
Sukma menatap ibunya. “Aku bilang aku keberatan.”
“Tapi setelah itu kamu diam.”
“Karena waktu aku lanjut bicara, yang dibahas caraku bicara.”
Yati membuka mulut, lalu menutupnya.
Darma merapatkan kedua tangannya. “Jadi selama ini kamu simpan semua?”
“Nggak semua. Sebagian aku sampaikan. Sebagian aku tutup sendiri. Kalian melihat masalahnya selesai, tapi nggak melihat apa yang kupindahkan supaya selesai.”
“Contohnya apa?”
“Tabungan. Pengeluaran yang kutunda. Waktu kerja tambahan. Hal-hal yang nggak jadi kubeli.”
Sukma tidak menyebut kuliah. Belum. Kata itu masih terlalu dekat dengan halaman lama di buku catatannya, dan ia tidak ingin mengeluarkannya hanya untuk memenangkan pertengkaran.
Darma menunduk. Yati melipat kulit pepaya yang tertinggal pada piring, seolah benda itu perlu dirapikan sebelum dibuang.
“Aku tetap salah karena sering bilang iya setelah bilang keberatan,” kata Sukma. “Tapi itu bukan berarti keberatanku tidak pernah ada.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Dari ruang depan, Ihsan bertanya apakah tugasnya harus memakai pensil warna. Yati bangkit untuk melihat. Percakapan orang dewasa berhenti tanpa kesimpulan, seperti pintu yang ditutup karena ada orang lewat, bukan karena ruangan sudah selesai digunakan.
Darma tetap duduk.
“Besok yang tadi kukirim lagi masuk siang,” katanya.
“Aku catat setelah masuk.”
“Iya.”
Ia membawa gelasnya ke dapur. Sebelum pergi, ia berhenti di dekat kursi Sukma.
“Aku memang kira kalau akhirnya dibayar berarti kamu masih sanggup.”
Sukma mengangguk. “Sekarang jangan kira-kira.”
Darma ikut mengangguk, lalu pergi tanpa meminta maaf atau membela diri lagi.
Malam itu tidak berakhir dengan pelukan. Sukma membantu Ihsan memeriksa tugas, menyiapkan seragam, dan tidur dengan tubuh lelah tetapi mata yang lama tidak mau terpejam.
◆
Keesokan harinya, Darma mengirim jumlah yang dijanjikan lewat tengah hari.
Sukma mencatatnya, mengurangi sisa kewajiban, lalu mengirim foto catatan terbaru. Tidak ada ucapan bahwa semuanya telah selesai. Darma hanya membalas, Sudah benar.